Aktivis Jempolan

Oleh :Zijjue el Syifa

 Malam larut dalam kancah alam, lelaki itu belum tidur juga. Ia menatap bintang di teras rumah kami, sambil membaca Al-qur’an kecil di tangannya. Aku berusaha duduk di sampingnya, mencoba menemaninya menghabiskan malam.

“kenapa Abang?” tanyaku Dia kelihatan gusar, tak seperti biasanya Ia tenang-tenang saja.

“Cuma lagi mikirin sesuatu Dek”

“tidak mau cerita? Ya sudah tak apa”

“takutnya kalau cerita nanti adik marah sama Abang, cemburu lagi”

“ya sudah jika begitu”

Enam bulan yang lalu, Aku meminta laki-laki yang sekarang keliatan gusar itu untuk melamarku. Sekarang statusnya adalah suamiku, meski ketika kuliah dulu dan sama-sama aktif di S3(Sanggar seni Seulaweuet) dan satu jurusan Aku pernah menyukainya, ya sangat suka dan sangat cemburu saat Ia dekat dengan Syifa teman satu kelasku.

“kenapa sih Bang?”

“sebenarnya, Abang sudah berusaha melupakannya. Dan memperbaiki diri tapi pertemuan tanpa sengaja tadi menyatakan abang belum bisa melupakan Ia”

“siapa?” tanyaku kesal

“tolong jangan marah dulu, Abang tau Abang bukan yang terbaik buat Adik tapi Abang sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik. Abang juga manusia Dik”

“tidak ada yang bilang Abang malaikat kan?, siapa sih? Syifa ya?”

Siapa yang tidak kenal Syifa, aktivis jempolan di BEM, juga di S3[1] dan Ia dekat dengan Bang Noval yang menjadi suamiku saat ini adalah mitra  kerjanya selama empat tahun dan Aku sangat mengerti empat tahun bukan waktu yang singkat. Semua teman-teman di kelasku mengatakan mereka solid, cocok dan punya banyak kepentingan yang sama untuk saling bekerja sama. Kata Orang, Syifa orang yang professional, cerdas, gampang bergaul dan tak ada yang tidak mengenal Wanita itu. Dia aktivis jempolan di Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam, di S3 selalu bereksis ria.

“adik, apa adik menyesal menikah dengan Abang?” tanyanya

Aku kaget, lamunanku tercecer.

“tentu tidak, adik sangat mencintai Abang bahkan jauh sebelum abang dekat dengan Syifa di kampus ketika Adik masih semester 2”

“makasih, abang tau adek memang yang terbaik seharusnya bukan abang yang sukses mempersunting adek”

“abang menyesal menikah dengan Adik? Karena adik yang meminta abang untuk melamar adik?”

“tentu saja tidak dik, tidak hanya saja…..” Ia menggantung kalimatnya

“hanya apa bang?”

“abang mencintai Syifa”

“pergilah padanya jika memang begitu”

“abang tidak akan berpikir sepicik itu, abang tetap akan bersama adik”

“tapi adik tidak mau bang, berada di bawah bayang-bayang Syifa. Jika abang memang menyukainya kenapa tidak mencoba melamarnya?”

Aku tergugu, mencoba menyembunyikan air mata di balik kedua telapak tanganku. Tapi, bagaimanapun ikhlas adalah solusi untuk Orang yang amat kucinta, Aku akan melakukan apapun demi kebahagiannya meski luka membiru di lembamnya hati.

***

Satu bulan kemudian, Bang Noval berdebar menanti kabar tentang hasil lamarannya pada Syifa.

“sudah siap mendengarnya abang?” tanyaku

“siap dik, adik sudah ikhlas?”

“iya Bang” Aku membuka surat yang di berikan Syifa.

Bang Noval diam seribu bahasa.

“Syifa, tidak mau menerima keinginan Abang”

Ku lihat, Bang Noval kehilangan diri sesaat.

“tapi… kenapa?”

“Ia merasa menjadi penganggu dalam kehidupan kita, lagi pula Ia sangsi akan cinta yang Ia punya sama Abang. Ia menunggu orang yang benar-benar mencintainya dan menunggunya dengan sabar serta Ia tidak mau di madu”

Setetes kurasa air mata Bang Noval menghujam kalbuku, Ia menangis karena Aktivis jempolan itu menolaknya, bukan karena Aku yang selalu setia menunggunya bahkan memintanya untuk menjadikan Aku pendamping hidupnya untuk mengenapkan dien. Menyesalkan Ia? Entahlah dunia terasa gelap untukku.

***

            Waktu berjalan sebagaimana mestinya, Aku sedang duduk membaca Koran pagi itu ketika sebuah berita tentang rohingnya terpampang manis di sana.

Ketua Palang Merah Indonesia (PMI), Jusuf Kalla mengungkapkan konflik Rohingnya, Myanmar tidaklah seberat Konflik Poso-Ambon.

“Poso-Ambon lebih berat, masing-masing pegang senjata. Ribuan orang yang tewas. Kalau di Rohingya tidak ada yang pegang senjata. Yang tewas juga 80-an,” ungkap mantan Wakil Presiden ini kepada wartawan saat dihubungi, Jakarta, Kamis (16/8/2012).

Lebih lanjut, JK juga menegaskan bahwa konflik Rohingnya tidaklah konflik antar agama. Melainkan konflik antar dua etnis.

“Adik……” panggil Bang Noval dari dalam rumah

“iya,,, ada apa Abang?” Aku tergopoh-gopoh menghampiri lelaki tinggi kurus itu.

“tau apa yang di katakan Syifa tentang konflik rohingnya?”

Aku menautkan alis, kemudian mengangkat bahu tanda tidak peduli sama sekali.

“Dunia internasional, khususnya Barat, tidak pernah bersikap adil terhadap umat Islam. Buktinya tak ada satu pun pemimpin negara barat yang mengecam aksi genosida terhadap muslim Rohingnya di Myanmar. Ini menimbulkan ironi. Kenapa dunia internasional diam saja? coba lihat ini statusnya di facebook, lihat juga comentnya sungguh ramai” Bang Noval tersenyum sumigrah, membuatku tambah mual mendengar nama Syifa, kenapa harus ada orang yang seperti Dia.

“Negara-negara Barat memiliki standar ganda dalam melihat persoalan HAM. Misalnya mencontohkan bagaimana kerasnya kecaman Barat (negara Eropa dan Amerika Serikat) ketika pejuang Demokrasi Myanmar, Aung San Su Kyi ditahan. Namun ketika di negara yang sama terjadi pemberangusan nyawa umat Islam dunia Barat diam saja” cerocosku sambil berlalu

“eh… Adik tau juga ya? wah….” Ia menatapku dengan mata membulat

“iya dong, emang aktivis jempolan kayak Syifa aja yang boleh tau? Aku juga dong Bang, Aku kan muslim!” ujarku agak gondok plus cemburu karena Bang Noval terlalu membanggakan Syifa.

“iya Abang tau Adik juga pinter kok,. Lihat lagi Dik, ini status Syifa terbaru : Berbicara tentang Muslim Rohingnya di Myanmar alias Burma adalah berbicara tentang kemanusiaan. Agama ketika dijadikan dasar berbangsa dan bernegara hasilnya konflik Bosnia-Serbia. Konflik Maya-Spanyol, konflik Perang Salib Islam-Kristen. Konflik Hindu-Islam di India. Konflik Katolik-Kristen di Irlandia-Utara. Bentrokan Islam-Kristen di Nigeria. Konflik Romawi-Persia. Itu semuanya adalah konflik dalam sejarah manusia karena keyakinan. Kerenkan?”

            Aku diam saja, acuh tak acuh. Lihat saja, akan kubuktikan ke Syifa dan Bang Noval bahwa Aku lebih baik dari aktivis yang di cap jempolan itu.

“Muslim Rohingnya adalah sekelompok manusia terbuang identitasnya. Mereka berbahasa berbeda dengan sebagian bahasa rakyat Myanmar. Status Rohingnya adalah status minoritas tanpa bentuk. Bangladesh tidak mengakui kedekatan mereka sebagai bangsa Bangladesh. Myanmar tidak mengakui mereka sebagai bangsa Myanmar. Kedekatan budaya dan agama dengan Bangladesh yang mayoritas Islam tidak membuat Bangladesh iba. Dunia internasional diam soal Rohingnya. Sama halnya dunia internasional diam ketika Taliban, di bawah tekanan Osama bin Laden, Mollah Umar menghancurkan Patung Buddha di Afghanistan. Kabarnya, orang Afghanistan tidak setuju sebenarnya dengan penghancuran patung Buddha itu. Dalam keyakinan budaya atau Islam Arab, patung adalah ‘berhala’ yang wajib dihancurkan pada tanggal 2 Maret 2001. Penggunaan dinamit gagal menghancurkan muka dan badan patung Buddha yang dibangun pada abad ke-5, ratusan tahun sebelum kedatangan Islam. Lalu roket diluncurkan untuk menghancurkan patung Buddha itu. Mullah Omar menyatakan, seperti dikutip Wikipedia dari the Times, “Muslim harus bangga telah menghancurkan patung-patung berhala itu. Tindakan penghancuran ini diridhoi Allah karena kita telah menghancurkan berhala.” cerocosku ber hap-hip-hop meski kurang nyambung dengan apa yang sedang di bahas, yang penting Aku harus bependapat.

“Para bhikhu yang memainkan peran penting dalam perjuangan terakhir Birma untuk demokrasi telah dituduh memicu ketegangan etnis di Birma dengan mengimbau orang untuk menghindari komunitas Muslim yang telah menderita puluhan tahun akibat penindasan. Banyak pengamat yang terkejut dengan sikap beberapa organisasi biarawan yang   telah mengeluarkan pamflet memberitahu orang-orang untuk tidak bergaul dengan masyarakat Rohingya. Mereka juga memblokir bantuan kemanusiaan Salah satu selebaran menggambarka Rohingya sebagai ” manusia kejam secara alami” dan digambarkan sedang merencanakan untuk membasmi” kelompok etnis lain. Meningkatnya serangan terhadap Rohingnya yang digambarkan sebagai kelompok yang paling tertindas di dunia terjadi beberapa minggu setelah kekerasan etnis di Rakhine State. Dikabarkan lebih dari 80 orang terbunuh lebih dari 100 ribu muslim Rohingnya hidup dalam kondisi putus asa.” sambung bang Noval

            Diskusi tentang Rohingya berlangsung seru, hingga Bang Noval menerima telepon tepat jam 9 Pagi dan raut mukanya langsung berubah keruh.

“tidak mungkin….” hanya kata itu yang keluar dari mulutnya dan setelah itu berhari-hari kemudian Ia tidak pernah berbicara lagi, seolah-olah menjadi bisu.

            Selidik punya selidik, ternyata Syifa sudah pergi ke rohingnya untuk menjadi relawan disana dan tentu saja belum bisa di pastikan Ia bakal kembali dengan selamat atau tidak. Dan kurasa  Setetes air mata Bang Noval, diamnya Ia beberapa hari setelah menerima telepon itu menumpahkan garam luka di kalbuku, Ia menangis karena Aktivis jempolan itu menolaknya dan pergi meninggalkan tanah air untuk berjihat, lagi-lagi bukan karena Aku yang selalu setia menunggunya bahkan berusaha menjadi seperti yang Ia inginkan. Menyesalkan Ia menikahiku? Entahlah kurasa dunia bukan lagi untukku, semuanya gelap.

Aku sudah melihat air matamu

Di selat sunda

Namun Aku membiarkannya terhayut terbawa badai

Air mata itu menjauh hingga ke hawai

Aku tak bisa melihatnya lagi

Karena Ia telah pergi jauh sekali dariku

Sejauh mataku tak sanggup memandang

Membuat lara kian lambay…

di bayangan si aktivis jempolan

Janem heart, 8 January 2013

*Penulis adalah mahasiswi letting 2011 di S3 dan kuliah di  Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam.



[1] Sanggar seni Seulaweuet

1 Komentar

Komentar ditutup.