CERPEN – Dandelion

Pagi yang cerah. Mentari menjalankan tugasnya dengan baik dan tepat waktu untuk menghangatkan Bumi. Tentu saja, saat ini adalah hari libur musim panas di New York.

          Happy holidaaaaay!!” teriak seorang gadis berambut pirang di balkon rumahnya. Gadis yang berusia 14 tahun itu bernama Sheila. Ia sudah lama menanti liburan musim panas tahun ini.

          “Aku harus segera menghubungi William,” ujarnya dalam hati sambil berlari ke arah telepon.

          Sheila dan William bersahabat sejak kecil. Rumah mereka bersebelahan. Yang membatasinya hanyalah populasi tanaman Dandelion yang tumbuh liar. Orang tua mereka juga bersahabat sejak lama. William dan keluarganya berasal dari Inggris. Sejak pindah ke New York, Sheila dan William selalu menghabiskan waktu bersama.

Ada satu kebiasaan khusus yang Sheila dan William lakukan jika mereka sedih, yaitu menerbangkan Dandelion. Itu akan membuat hati mereka sedikit merasa lebih baik. Mereka tidak akan menerbangkan semua Dandelion. Sisanya mereka gunakan untuk hari-hari selanjutnya. Sshhh… ini rahasia!!

          Rencananya, hari ini Sheila dan William akan menghabiskan waktu bersepeda mengelilingi kota. Wah.. seru, kan? Dan juga, jika bertemu dengan turis mereka akan berfoto bersama sebagai kenang-kenangan.

          “Sheila… Sheila…” panggil William dengan bikenya di depan pagar rumah Sheila.

          “Yaa… I’m coming…” Sheila keluar dengan shirt warna peach dipadu dengan celana putih.

          “Wow… Kamu tampak cerah hari ini, Sheila.”

          “Ya… secerah mentari bersinar hari ini. Kamu juga tampak keren dengan celana baggy-mu. Aku tak pernah melihatmu memakai celana baggy!”

          “Oo.. ini hadiah dari Tanteku,” ujar William sedikit grogi. Sheila memegang secarik kertas berisi daftar perlengkapan.

          “Izin?”

          “Sudah…”

          “Kamera?”

          “Stand by!”

          “Minuman?”

“Ada!”

“Snack?”

“Beres!”

“Topi?”

“Lengkap!”

“Mm.. Vitamin?”

“Kamu tidak bilang itu sebelumnya?,” kata William

“Tak apa, aku membawa lebih untukmu. Mama bilang ini untuk menjaga daya tahan tubuh,” kata Sheila sambil memberikan vitamin untuk William.

Thanks!”

Never mind, Willie. Let’s go!” ujar Sheila bersemangat dengan sepeda barunya.

“Hey! Tunggu aku!,” teriak William yang ditinggal Sheila. Dari kejauhan, Sheila melambaikan tangan sambil tertawa kecil.

Mentari yang mulai menyengat tak menyurutkan semangat William dan Sheila hari ini. Mereka tetap bersemangat dan terus mengayuh sepeda menghabiskan waktu. Sepanjang perjalanan hari ini, mereka bernasib baik bertemu dengan turis Indonesia dan Filipina yang sedang berfoto-foto di dekat Patung Liberty. Ada juga keluarga yang berkulit sawo matang meniru sang patung dengan mengangkat tangan kanannya ke atas sambil tertawa riang.

“Aku yakin mereka berasal dari India,” ujar Willie ketika melihat kain sari yang dipakai oleh seorang wanita di keluarga itu. Sheila mengangguk cepat, mengiyakan.

Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, Sheila dan William ikut berfoto bersama dengan para turis tersebut. Setelah makan siang di Starbucks, mereka bertemu dengan rombongan remaja yang berparas ketimur-timuran. Ternyata mereka berasal dari Mesir. Setelah berfoto bersama, remaja tersebut memberikan kenang-kenangan kecil berupa gantungan kunci Cleopatra khas Mesir. Sheila dan William sangat senang mendapatkannya dan meminta izin untuk melanjutkan perjalanan.

Di beberapa taman yang mereka lewati pun  banyak turis. Jeprat! Jepret! Tak lupa mereka mengabadikannya. Hingga mereka tak sadar, hari sudah mulai gelap. William mengajak Sheila pulang. Sheila pun mengiyakan.

“Besok jalan lagi, ya…,” ajak William setelah mengantar Sheila ke rumah.

“Oke!,” sahut Sheila sembari mengacungkan jempolnya.

Keesokan harinya…

“Hey, Willie ! Aku sudah menunggumu sejak tadi. Kamu kemana saja?” kata Sheila agak kesal. Ia sudah lama menunggu William. William datang dengan muka kusut. Mereka duduk di sebuah bangku panjang diantara rumah mereka. Ya… mereka duduk sambil memperhatikan Dandelion yang melambai ditiup angin. Melihat air muka William yang tampak tak menyenangkan, Sheila paham bahwa Willie sedang ada masalah.

“Mau bercerita?” tanya Sheila memulai wacana. Willie pun memulai ceritanya.

“Hhhmm… Semalam, Papa kumat. Kamu ingat, kan? Papa mengidap penyakit jantung koroner? Lagi-lagi gara-gara kakakku, Robert. Ia buat ulah lagi. Kenapa sih, ia selalu membuat masalah? Kamu tahu? Selama ini ia menjadi buronan polisi karena  mencetak uang palsu! Kami sekeluarga tak menyangka ia sampai berbuat begitu!,”

Sheila hanya terdiam membisu. Ia tak tahu harus berkata apa. Sheila sudah sering mendengar tentang kak Robert. Dan tampaknya, hari ini mereka tak akan jalan-jalan seperti kemarin.

“Kalau begitu……,” ujar Sheila sambil berdiri memetik delapan tangkai Dandelion. Empat tangkai untuknya dan empat tangkai untuk Willie.

“It’s time to Dandelion!!” ujar Sheila. William tersenyum tipis. Sheila dan Willie mengapitkan empat Dandelion di antara jari-jari kanan mereka.

“1…2…3… Wuuhhhhh……” Dandelion pun beterbangan ke udara seiring dengan masalah yang mereka hadapi. Senyum mengembang dari bibir keduanya.

###

“SURPRISE!!!,” William kaget ketika ia baru saja keluar dari kamar tidurnya dengan masih menggunakan kaos pendek dan celana boxer.

“Happy birthday to you, Willie!,”

“Haa? Aku bahkan lupa kalau hari ini hari ulang tahunku! Haha!,” sahut Willie girang. Sontak seisi rumah ikut tertawa. Disana sudah berkumpul keluarga William, keluarga Sheila dan beberapa teman akrab sekaligus teman group band Willie seperti Richard, Joshua dan Diego. Willie sangat bahagia hari itu. Orang-orang yang ia cintai berkumpul di hari jadinya.

“Ayo… Jangan cuma Willie yang membuat harapan. Kita juga dong!,” kata Mr. Joseph, Papa Willie yang kesehatannya sudah mulai membaik.

“Oke! Mama duluan! Mama harap, Willie bisa menjadi anak yang sukses dan bisa membahagiakan Mama dan Papa,” ujar Mrs. Joseph sambil memejamkan matanya.

“Sekarang giliran Papa,” kata Mrs. Joseph lagi. Mr. Joseph tampak berpikir sejenak sambil mengelus lengannya yang kekar dan dibalut kemeja putih.

“Mmm… Papa sama deh! Dengan Mama,” katanya tersenyum lebar.

“Yee… kok ikut-ikutan sih? Jangan sama dong, Om…,” kata Diego kepada Mr. Joseph yang dibalas dengan tawa lepas khas ayah Willie. Semua yang hadir membuat harapan secara bergiliran. Sekarang giliran Sheila.

Semua orang terdiam sejenak saat gadis manis itu hendak mengungkapkan harapannya kepada Willie di masa mendatang. Semua orang tahu, antara Sheilla dan William punya hubungan yang sangat baik. Bahkan ada yang mengira mereka punya hubungan khusus.

Setelah menarik nafas dalam-dalam, Sheila pun mulai mengatakan apa yang diharapkannya kepada Willie dengan nada cepat.

“Aku harap, kita bisa selalu bersama. Persahabatan kita tetap akan abadi sampai akhir hayat dan Dandelion terus hidup untuk kita,” ujar Sheila perlahan.

“Dandelion ?,” tanya yang lain berbarengan kebingungan.

“Sshhh… Rahasia… hehe..” kata Sheila tersenyum lebar. Semua ikut tersenyum. Kecuali Willie! Sheila sadar akan hal itu dengan tanda tanya besar di benaknya.

Keesokan harinya… Sore hari…

“Willie, mengapa kemarin saat semua tersenyum mendengar Dandelion, tetapi kamu malah cemberut ? Ada apa sih ?” tanya Sheila pada Willie di tempat tongkrongan biasa, yaitu bangku panjang di hadapan tumbuhan Dandelion.

“Hhhmm…” Willie menghela nafas panjang.

“Itulah yang ingin aku katakan hari ini. Aku akan mengatakan sesuatu dan aku harap kau…” Willie memulai.

“Ya… aku ?” sahut Sheila. Keningnya berkerut. Sheila serius memperhatikan Willie dengan kaos pink favoritnya. Willie kambali menghembuskan nafas panjang. Ia tampak mempersiapkan kata-kata.

“Aku…” Willie tampak tidak tega untuk mengatakannya. Sheila semakin penasaran.

“Aku dan keluargaku… akan kembali ke Inggris…,” kata Willie pelan sambil menundukkan kepalanya.

“APA ?,” Sheila tersentak.

“Ya… kami akan pindah besok pagi, sedikit mendadak,” jawab Willie sambil berusaha tersenyum dan menahan segala kesedihan yang ada di benak hatinya karena harus meninggalkan Sheila.

“Tapi… tapi…” Sheila panic dan hampir tak mampu berkata-kata lagi.

“Aku tahu ini terlalu mendadak. Tetapi ini sudah keputusan bersama…”

“Tapi… untuk apa? Kamu bilang kamu betah tinggal disini !, Bahkan… kita belum menghabiskan liburan musim panas kali ini…”

“Ya, memang. Ini bukan mauku, Sheila. Ini kemauan orang tuaku. Selama ini mereka mendapat masalah yang tak ada habisnya. Penyakit Papa sering kambuh !, Jadi mereka yakin dengan kembali ke Inggris seperti keinginan Papa mungkin bisa membuat Papa lebih baik. Begitu…”

“Terus… bagaimana dengan sekolahmu? Bandmu? Bagaimana ?” tanya gadis 14 tahun itu.

“Aku sudah memberitahu mereka dan menyuruh mereka mencari personial baru untuk menggantikanku. Urusan sekolah, Papa sudah mengurus semuanya!,”

“Lalu… Lalu bagaimana dengan aku, Willie? Hiks… aku… hiks…” obrolan terhenti. Sheila tak bisa menahan tangisnya. Air matanya mulai bercucuran.

“Kau tahu ? Semalaman aku memikirkanmu, Sheila. Aku tak bisa tidur lelap, Tapi… aku harus mengerti kondisi Papa. Papa sangat ingin kembali ke Inggris. Ini semua demi kesehatan Papa,” Willie berusaha menjelaskan. Matanya pun tampak berkaca-kaca. Sheila terus menangis sambil menundukkan kepalanya. Willie benar-benar tidak tega melihat sahabat terbaiknya menangis. Tiba-tiba tangisan Sheila terhenti.

“Sheila…”

“Siapa yang akan menghiburku dengan gitar? Siapa yang akan menghabiskan waktu denganku? Siapa yang akan meniup Dandelion ini bersamaku kalau kamu pergi Willie? Aku tidak bisa terima!,” ujar Sheila dengan nada tinggi dan memperhatikan Willie.

Mendengar hal itu, kini giliran Willie yang menunduk kembali.

“Aku tak tahu!,” ucap Willie perlahan. Keduanya terdiam beberapa saat. Sheila menghapus air matanya. Ia menatap langit dan menghela nafas panjang.

“Oke, Willie! Pergilah!,”

“Apa?,”

“Yaa… kembalilah ke Inggris!,”

“Kau…,”

“Aku akan baik-baik aja disini. Mana mungkin aku selalu bergantung padamu seperti anak kecil ? Dan… aku akan menjadi orang yang paling egois di dunia kalau aku melarangmu pergi demi Papamu yang sakit! Yaa… walau pun aku tak tahu sampai kapan aku bisa merelakanmu pergi!,” kata Sheila dengan mantap menahan emosinya untuk tidak menangis di depan sahabat baik nya itu.

 Willie seperti tak percaya mendengar penjelasan Sheila yang menenangkan hatinya.

“Kau janji akan menjaga diri baik-baik?”

“Of course, Willie!,”

“Bagus!” ujar Willie tersenyum lebar. Sheila pun ikut tersenyum.

So… Ayo kita tiup semua Dandelion ini!” ajak Willie.

“Apa ? Semua ? Jangan dong!”

Why not? Ini adalah hari yang paling menyedihkan buat kita. Hari perpisahan kita. Apa salahnya? Lagipula, kalau Dandelion ini masih ada, kau tidak akan pernah merelakanku pergi, Sheila!”

Sheila berpikir sejenak. Lalu mengangguk mantap.

“Benar juga!”

“Ayo! Petik dan lepaskan semua Dandelion ini mewakili rasa gundah, kesal, sakit hati, dendam, beban, masalah dan sedih kita selama ini!” ujar Willie bersemangat sambil berdiri. Sheila berdiri di samping kanan Willie.

 Keduanya bersiap-siap untuk memetik semua Dandelion. Mereka berpandangan agak lama dalam kerinduan dan kenangan masa lalu. Willie mengangguk mengisyaratkan untuk mulai.

Wuuuuuuuhhhhhhhhhhhhh……………………………

Semua Dandelion beterbangan. Dandelion tak tersisa satu pun. Sheila dan Willie tampak bahagia. Mereka tertawa bersama di saat-saat terakhir hari ini. Saat-saat terakhir kebersamaan dua insan yang hatinya saling terpaut.

Terbanglah… Dandelion… kubiarkan kau bersenang-senang di udara membawa saat-saat terakhir kami ini dan menggantikannya dengan kebahagiaan… Akan kurelakan kau pergi, William… batin Sheila sambil menatap Dandelion terakhir yang ia terbangkan. Ia tersenyum sambil memejamkan mata.

Willie sepertinya bisa merasakan isi hati Sheila. Mereka tersenyum. Senyuman terakhir hari itu. Sheila tampak menahan air matanya yang ingin melesat di pipi chubbynya.

“Aku akan merindukanmu, Sheila,” ucap Willie lirih.

“Aku tahu itu, aku juga Willie !” sahut Sheila dengan senyuman manisnya.

*penulis adalah salah seorang mahasiswi jurusan TEN Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry angkatan 2012. (rm)

Mungkin Anda Menyukai