Cerpen | Tulisan di Akhir Rajab

Oleh : Qafrawi Reinza

Malam sudah menjelang akhir. Tiba-tiba aku terbangun dari tidur. Memang belum lama aku terlelap. Aku sudah terbiasa tidur larut malam. Malam ini aku baru tertidur sekitaran jam dua. Itu pun setelah ada pemaksaan terhadap kelopak mata yang terlanjur nakal membelak di waktu yang dilarang.  Entahlah. Mungkin karena mimpi buruk. Ya aku bermimpi kalau beberapa ekor lembu milikkku memasuki area pekarangan rumahku di kampung. Memang sangat bertolang belakang. Namanya juga mimpi.

Aku tidak tahu hendak berbuat apa setelah  mataku terbuka. Aku sedikit menerawang dan enggan untuk beranjak dari kasurku. Sesaat aku teringat, aku belum menunaikan hutang shalat Isya ku. Bergegas aku ke kamar mandi untuk berwudhu dan ku selesaikan shalatku.

Rasa kantuk mulai terbang jauh dariku. Kini perut tanpa henti meniupkan genderang kelaparan. Namun aku enggan untuk menyuapinya sedikit makanan. Dan pun sudah larut malam. Tidak ada lagi warung yang terbuka.

            “Biarin aja,” pikirku.

Kembali ku terawang ruang kamar mungilku. Aku teringat kalau hari ini bertepatan dengan 27 Ra’jab penanggalan Islam. Sehari sebelum itu banyak teman-temanku yang megirim pesan ajakan untuk puasa. Spontan aku mengambil ponsel lalu mengajak mereka bangun untuk sahur. Aku mengajak mereka sahur bukan karena mau ikutan puasa. Harus di akui, aku bukanlah muslim yang taat. Walaupun sekali-kali juga teringat dosa yang menumpuk.

Aku membangunkan mereka sebagai sindiran sosial belaka. Kalau di istilahkan dalam bahasa Aceh, “ Meunye bak pakat ken lee droe, tapi meunyee bak puebuet lakee meu’ah”. Dari sekian banyak orang yang pernah mangajakku berpuasa, hanya satu yang terbangun dari peraduan malam. Otakku kembali menerawang dan bertanya, “Benarkah umat Islam sudah di takdirkan untuk hanya berkoar tanpa perbuatan yang nyata? Ataupun ini hanya kebetulan semata?” Semoga ini hanya pikiranku saja.

Ah, mengapa aku harus memikirkan hal yang menurutku kurang penting ini. Aku beranjak merogoh tas pinggang di sudut kamar. Hanya ada sebatang rokok. Yah, sebatang penenang bagiku. Dengan santainya aku menyalakan tongkat inspirasiku. Tenang dan semangat rasanya.

Malam semakin menuju peristirahatannya. Di temani hujan rintik-rintik di dalamnya. Malam  ini sangat cocok untuk pasangan muda yang baru mengucapkan ijab qabul pernikahan. Entah kapan waktu bahagia itu sampai kepadaku. Beberapa ekor nyamuk juga agak sedikit bersemangat menari di hadapan wajahku.  Namun mataku semakin terbelak setelah menghisap tongkat kehidupan. Semangat tujuh enam kembali menghinggapi darahku.

            *******

Terlihat beberapa laptop berserakan di sisi tempat tidurku. Iseng-iseng, aku membukanya. Tak ada hal yang lebih manarik bagiku selain menulis beberapa catatan kecil tentang panggung kehidupan. Ku coba menuangkan beberapa ide yang mungkin berguna di lembaran Microsoft Word.  Apalagi semalam  aku mendapatkan beberapa petuah dari seorang penulis yang sudah lumayan terkenal di kalangannya. Ya, di kalangannya. Di kalangan kami maksudnya. Hehehehe.

“Menulis itu hanya untuk kalangan minoritas. Biar kita tidak merasa minder, anggap saja menulis itu bagaikan bisa menunggang mobil Ferrari”. Analogi yang sangat luar biasa bagiku. Apalagi aku masih sangat lugu dalam hal tulis menulis.

Petuah itu membuatku semakin bersemangat untuk menulis. Ya apa saja yang pantas di tulis. Aku memang sangat berniat untuk membuat sebuah buku yang kemudian bisa menginspirasi orang-orang sekitar untuk menulis juga. Mata dan pikiranku seakan larut dalam meraba ide yang menarik beriringan dengan menekan keyboard laptop.

            *********

Kata demi kata mulai kurangkai, walaupun masih agak berserakan. Namanya saja baru belajar.  Mataku mulai merasa sedikit dobrakan. Kantuk mulai datang. ku coba menahannya sekuat tenaga. Niatanku sudah cukup kuat untuk menyelesaikan tulisanku yang pertama. Sekarang ku siasati rasa ngantuk ini dengan kembali menghisap rokok yang masih setia menunggu di sampingku. Tidak bagus juga sih untuk kesehatan, tapi apa boleh buat. Sudah melekat erat dengan tubuhku yang kian renta ini. Sudah tua belum bisa menulis apa kata dunia.

Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Sunyi, dingin, dan kemudian suara adzan menggemparkan dunia. Tulisanku belum selesai juga. Aku beranjak untuk shalat. Siapa tahu setelah shalat aku mendapatkan hidayah beberapa kata untuk melanjutkan tulisanku.

            **********

Setelah shalat, pikiranku kian buntu. Tak ada ide yang mau keluar dari otak kananku. Mungkin dia terlalu malu untuk menghadapi dunia yang kian merosot ini. Mungkin saja begitu. Gemuruh saling bersahutan mengeluarkan murkanya di ujung pagi. Menyertai pikiranku yang buntu.

Alih-alih ingin menyegarkan pikiran, aku menghidupkan lagu lawas milik Iwan Fals yang memang sudah akrab di telingaku. Bukannya ide yang masuk, tapi ngantuk yang malah bergurau dengan mataku. Semakin keras Bang Iwan menarik lantunan lawasnya, semakin dalam aku terbawa dalam buaian. Tanpa bisa menunggu tulisan selesai, aku terkulai lemas dalam pembaringan. Rupanya menulis susah juga ya !!!

Penulis adalah salah satu mahasiswa UIN Ar-Raniry yang mendedikasikan dirinya untuk kantin. Kantin diakuinya merupakan salah satu tempat yang dijadikannya untuk bertemu dengan orang-orang besar. Pencetus #Jenderalkecil di jejaring sosial facebook.

Mungkin Anda Menyukai