Feature | Kenduri Blang

Sumberpost.com | TING, ting, ting….  Wajan beradu dengan centong. Tampak di dalam wajan itu kuah kental berwarna kuning kemerahan. Asap mulai keluar. Gelembung-gelembung udara sudah muncul, tanda kuah akan segera mendidih.kenduri blang

Walaupun kuah telah mendidih, Roslinda menambahkan lagi air dan memasaknya hingga kembali kental kemudian menambahkannya lagi dengan kentang yang dipotong-potong menjadi empat bagian. Setelah kentang matang barulah kuah ayam itu diangkat.

Sekarang api di kompor masih menyala dan Roslinda dengan cekatan mengambil wajan baru. Ia kemudian memasak ikan tongkol. Memang tidak biasanya ia memasak pada subuh hari dengan hidangan bermacam-macam ini. Sarapan pagi keluarga ini biasanya dengan lauk ikan goreng.

Azan subuh mulai berkumandang. Di luar masih gelap. Setelah kuah engkot sure teutrah (biasanya untuk kuah ikan yag berwarna merah) selesai diangkat, Linda bergegas turun, kemudian pergi ke kebun di belakang rumahnya untuk mencari daun pisang.

Rumah Linda adalah rumah panggung dari papan. Satu tangga terletak di seuramou depan atau ruang tamu, sedang satu tangga lagi berada di dekat dapur, seperti lazimnya model rumah tradisional Aceh.

Khadijah, ibu Roslinda, memeriksa beras yang sedang ditanak di atas kompor. Setelah itu ia menghampiri wajan dengan membawa beberapa mangkok dan mulai menuang kuah ayam dan kuah teutrah sure ke masing-masing mangkok.

Linda naik ke rumah dengan membawa beberapa helai daun pisang. Setelah nasi diangkat, ia kemudian melayu daun pisang di atas api. Melayu adalah memanggang daun pisang di atas api tapi tidak sampai menghanguskannya. Melayu dilakukan untuk membuat getah pada daun pisang hilang,  daun lebih lentur dan licin, dan aroma daun pun jadi harum.

Setelah selesai di-layu, daun pisang dipisahkan dari tulang daunnya, lalu dipotong-potong persegi empat dan dilap dengan kain bersih. Daun ini akan dibuat pembungkus bukulah (nasi yang dibungkus dengan daun pisang yang dibentuk seperti piramida).

Sementara Khadijah membungkus nasi, Roslinda kembali kembali ke dapur dan meneruskan memasak. Ada udang, kuah tulang daging dan mi kuning digoreng. Sedangkan bulukat kuneng (nasi ketan kuning) sudah selesai dibuat semalam. Sekarang Linda tinggal membuat kelapa yang digoreng bersama gula merah untuk dihidangkan bersama bulukat dengan dibungkus daun pisang secara bersama-sama.

Menjelang pukul dua siang semua hidangan itu selesai dimasak. Hidangan tersebut disusun dalam talam besar. Kuah tulang daging diletakkan  di tengah, sedangkan hidangan lain diletakkan mengelilinginya. Setelah itu hidangan ditutup dengan sange (tudung saji mirip topi petani yang terbuat dari daun nipah dan diselimuti dengan kain beludu warna merah bersulam benang emas dan manik-manik). Hidangan ini disebut satu idang. Supaya hidangan tidak jatuh ketika dibawa, maka talam beserta sange diikat dengan kain yang berwarna kuning raja. Sedangkan bukulah, buleukat beserta kobokan (tempat cuci tangan) dimasukkan ke dalam keranjang terpisah. Disertakan pula satu cerek (atau teko) yang berisi kopi dan beberapa gelas kaca. Semuanya diletakkan di teras dekat dapur yang biasa disebut ampet dalam bahasa Aceh.

TAK lama kemudian Jamaluddin, adik Roslinda, bersama Budiman sang ayah, membawa hidangan tadi ke meunasah gampong (kampung). Di jalan Jamaluddin juga berpapasan dengan beberapa laki-laki yang membawa idang seperti dirinya.

Pada hari Minggu, 18 Februari 2008 itu, di desa Lam Tanjong, Darussalam, Aceh Besar, diselenggarakan kenduri blang yang dipusatkan di meunasah. Ini merupakan hari istimewa buat seluruh keluarga petani Aceh.

Jamaluddin meletakkan idang di lapangan dekat meunasah. Laki-laki yang lain juga melakukan hal yang sama. Sedangkan laki-laki yang tidak mambawa idang boleh memilih idang yang mana yang akan mereka hampiri, dan setelah itu mereka duduk di hadapannya.

Setelah semua yang berkumpul duduk, imam meunasah segera memimpin doa dan diikuti oleh semua orang yang ada di halaman meunasah ini.

Idang pun dibuka setelah doa selesai dan mereka yang hadir makan bersama. Shalat ashar bersama jadi acara selanjutnya.

Kenduri blang di Lam Tanjong dilakukan di meunasah, karena masjid hanya ada di pusat kemukiman. Satu kemukiman terdiri paling sedikit dari empat gampong. Namun, di masa pemerintahan Soeharto, fungsi gampong di Aceh diubah jadi desa mandiri dengan batas wilayah yang tentu lebih kecil.

Sebenarnya kenduri blang dilakukan dua kali setiap masa panen atau waktunya disebut sebagai watee keneuk jak atawa troen u blang dengen wate kadara pade (waktu mau bajak sawah atau turun ke sawah dengan waktu padi sudah kuning hampir siap panen). Ini menurut Badruzzaman Ismail. Ia adalah ketua Majelis Adat Aceh atau MAA.

“Manusia hidup ini kan perlu makan jadi hampir semua orang senang makan, jadi kenduri blang adalah cara mengumpulkan orang dan menjadi sarana komunikasi dalam membuat sesuatu,” kata Badruzzaman, seraya tersenyum.

Saat kenduri blang, semua warga kampung diundang. Tak hanya petani. Sehingga antar warga jadi saling kenal.

“Saat umur padi mencapai empat bulan atau ka dara pade (sudah mulai kuning dan hampir masak), ada kenduri blang yang kedua,” kisah Ibrahim Ismail, imam masjid Tungkop, Aceh Besar, kepada saya.

Saat kenduri ini warga akan membawa makanan bersama-sama lagi ke sawah. Namun, hidangan pada kenduri kedua ini tidak ditentukan jenis masakannya. Paling tidak ada menu ayam.

“Yang membedakan kenduri blang dengan kenduri lain adalah letak doa. Kalau kenduri lain makan dulu baru berdoa tapi kenduri blang berdoa dulu baru makan,” kata Ibrahim.

“DULU kenduri blang dilakukan di tengah sawah atau di dekat sawah. Sejak konflik memanas di Aceh, kenduri dipindahkan ke meunasah,” ujar Budiman, ayah Roslinda, sambil terus menghembuskan asap rokok dari mulutnya.

“Watee konflik na ureng berkumpul rame bacut ka dicurigai, tea dijak tentra (waktu konflik ada orang berkumpul dan ramai sedikit langsung dicurigai, langsung datang tentara),” lanjut Budiman.

Budiman terpaksa menyuruh anak-anak laki-lakinya yang nomor dua merantau ke Pulau Jawa saat konflik memanas. Sejatinya Budiman adalah nelayan. Khadijah istrinya yang petani dan perempuan ini yang menggarap sawah yang diberikan oleh orang tuanya saat pasangan ini menikah dulu.

Dalam adat Aceh perempuanlah yang menanam padi, seperti sebuah pepatah Aceh yang berbunyi ureung agam muue umong, ureung inong jak seumula (orang laki-laki yang membajak sawah, orang perempuan yang menanam padi).

Tapi pada masa panen tiba, Budiman, Roslinda, dan Jamaluddin akan membantu Khadijah memotong padi. Sekarang ini sekali panen keluarga Budiman dapat mengumpulkan 120 tem padi.

Biasanya tabur benih dilakukan pada bulan Agustus tanggal 17. Pada awal bulan Agustus dilakukan meulangai atau membajak sawah dengan lembu. Lalu dimulai meurawet (membersihkan rumput) rumput yang sudah dibersihkan. Rumput tidak dibuang dan pada hari kesepuluh posisi rumput dibalik. Sesudah itu rale (petakan kecil di sudut sawah untuk menabur benih) dibuat. Benih padi lalu direndam selama tiga hari.

Hari keempat benih mulai ditabur di rale. Pagi dan sore benih dijaga. Yang penting waktu menabur benih tidak dilakukan pada hari ketujuh bulan Agustus.

“Karena pada hari itu cuaca sangat panas, sehingga benih bisa mati,” kata Ibrahim kepada saya di tempat terpisah.

Di akhir bulan Agustus hujan sudah mulai turun, sehingga rale dijaga agar benih tidak tenggelam. Setiap malam selama sepuluh hari ke dalam rale dimasukkan air setinggi satu ruas jari. Setelah benih tadi sudah mulai memanjang, ia akan dipindahkan dari rale untuk ditanam di seluruh sawah.

Sebelum sawah dibajak untuk ditanami, diadakan pembersihan saluran air atau peungleh lueng yang dipimpin oleh keujeuren blang. Ia adalah perangkat desa yang dipilih oleh keuchik atau kepala desa, khusus untuk menanggulangi dan mengawasi bidang pertanian.

Setelah bermusyawarah dengan keuchik dan orang tua di gampong, keujeuren blang akan mengumumkan dimulainya kenduri blang. Sebelum kenduri dimulai keujeuren blang akan berkeliling sawah tempat dipusatkannya acara itu dan mulai berdoa di setiap pojok sawah tersebut.

Setelah kenduri selesai, keujeuren blang akan kembali ke pojok sawah dan menancapkan bendera atau kain berwarna putih sebagai tanda tidak boleh ada kegiatan sama sekali di sawah selama tiga hari.

“Itu dilakukan untuk menghindari dala pade (hama padi), jadi ada pantangannya,” ujar  Ibrahim.

“Bagi yang melanggar dulunya akan ada denda, harus membayar satu gunca padi,” tambahnya.

Dulu orang Aceh menggunakan istilah gunca dan naleh untuk hasil panen. Sekarang takarannya menggunakan istilah tem. Jadi satu gunca sama dengan 16 tem atau 10 naleh. Satu naleh sama dengan 16 are. Sementara satu are setara dengan dua liter.

Selama tiga hari pula masyarakat yang tinggal di dekat gunung dilarang membawa daun kelapa kering atau daun iboh ke sawah agar sawah tidak diserang hama tikus. Semuanya akan dikontrol oleh keujeuren blang.

Setelah melewati masa pantang selama tiga hari, keujeuren blang akan kembali ke sawah tempat ia memasang bendera warna putih dan menggantikannya dengan bendera berwarna hijau, tanda kegiatan pertanian segera dimulai. Nantinya setelah sawah selesai digarap bendera hijau akan diganti lagi dengan merah. Bendera merah itu artinya top blang, yaitu tanda bahwa semua sawah harus sudah ditanami semua. Hal ini dilakukan agar masa panen berlangsung serentak.

BERTANI mempunyai nilai yang tinggi dalam tatanan masyarakat Aceh dan memiliki aturan tersendiri. Sehingga ditunjuklah seorang keujeuren blang, yang khusus menangani pertanian.

Biasanya  keujeuren blang akan di pilih oleh keuchik. Masyarakat Aceh dulu juga berpendapat bahwa bertani adalah puncak dari semua kerja, seperti yang tersebut dalam sebuah ungkapan peng ulee buet ibadat, pang ulee hareukat meugoe (puncak segala perbuatan adalah ibadah dan puncak segala usaha adalah bertani).  Karena itu juga masyarakat mengatur tata cara bertani yang baik sesuai musim.

Di kabupaten Aceh Besar dulunya hampir setiap gampong ada keujeuren blang. Tugasnya mulai dari menentukan masa tanam, pembagian air sawah sampai menyelesaikan sengketa pembagian hasil panen. Makanya seorang keujeuren blang haruslah orang yang dapat dipercaya, bijaksana dan menguasai keuneunong atau ilmu falak agar dapat menentukan masa tanam yang tepat.

Agar suplai air untuk setiap sawah lancar, para petani dan keujeuren blang melakukan meusueraya atau gotong-royong bersama. Gotong-royong ini dilakukan pada masa tak bulee atueng (membersihkan sawah dari hama yang mengganggu tanaman padi).

Walaupun peran keujeuren blang penting, tapi ia tidak digaji. Ia hanya mendapatkan pajak hasil pertanian yang diberikan secara suka rela oleh petani yang disebut bruek umeng.  Tapi ini tidak semuanya diambil oleh keujeuren blang. Semua hasil dari bruek umeng akan dikumpulkan di meunasah lebih dulu. Keuchik dan imam meunasah yang akan membaginya. Ada yang disisihkan untuk kas meunasah dan dikelola untuk pembangunan dan kesejahteraan meunasah, sementara sebagian lagi diberikan kepada keujeuren blang sebagai jasa atas pekerjaannya. Pajak bruek umeng ini berbeda dengan zakat, karena zakat hasil pertanian akan dikutip terpisah.

HAL lain yang menarik dalam tradisi bercocok tanam orang Aceh adalah soal keunenong atau hitung-hitungan waktu untuk bercocok tanam.

“Kalau orang sekarang lebih mengenalnya dengan perkiraan cuaca,” kata Ibrahim.

Mencari keuneunong itu ada rumusnya tersendiri, tidak dapat dilakukan sembarangan. Beberapa orang yang saya temui hampir semuanya lupa dengan rumus yang dipakai untuk mencari keuneunong.

“Wah saya sudah lupa, padahal itu juga ada pantunnya,” ujar Badruzzzaman.

Sama halnya dengan hilangnya fungsi keujeuren blang saat pemerintah Orde Baru berkuasa, orang yang mengetahui keuneunong pun banyak yang hilang.

Inilah bunyi pantun yang dimaksud Badruzzaman: keunong siblah tabu jarueng. Keunong sikureung rata-rata, keunong tujoh jeut chit mantong, keunong limong ulat seuba. Artinya,  pada keunong sebelas benih padi harus disebar secara jarang-jarang, pada keunong sembilan baru disebar benih secara merata, pada keunong tujuh juga masih bisa menabur benih, tapi keunong lima ulat mulai ada pada padi muda.

Beruntung Ibrahim sedikit banyaknya masih mengetahui tentang keuneunong, meski lupa pertanda musimnya.

“Cara carinya 2 x bulan, setelah itu dua puluh lima dikurang jumlah yang didapat pertama,” tutur Ibrahim.

“2 x 1 (Januari)  = 2, 25 – 2 = keuneunong 23.  Jadi bulan satu itu keuneunong 23. Keuneunong 23 nyan tanda jih lee ditoh hujen (keuneunong 23 itu tandanya banyak turun hujan),” lanjut Ibrahim.

Untuk selanjutnya 2 x 2 (Februari) = 4, 25 – 4 = keuneunong 21, walau ada hujan tapi tidak selalu sering. Bulan tiga (Maret): 2 x 3 = 6, 25 – 6 = 19. Jadi bulan tiga adalah keunenong 19. Bulan empat (April) = keuneunong 17, bulan lima (Mei) = keuneunong 15, bulan enam (Juni) = keuneunong 13, bulan tujuh (Juli) = keuneunong 9, bulan delapan (Agustus) = keuneunong 9. Nah, di keuneunong 9 ini hujan turun terkadang sangat lebat, sehingga petani memilih membajak sawah pada bulan Agustus.

“Yang penting bek uro ke tujuh bulen tujuh, nyan seum that, mate  bijeh (yang penting bukan hari ketujuh bulan Agustus, itu hari yang sangat panas, mati benih),” kata Ibrahim.

Dulu saat menanam padi di Aceh juga ada suatu kebiasaan yang namanya meuroe. Tradisi meuroe adalah tradisi petani menggarap sawah bersama-sama. Dimulai dari sawah yang satu ke sawah yang lain dilakukan secara beramai-ramai. Sekarang tradisi ini sudah mulai hilang dan hanya tersisa di beberapa desa lagi seperti di daerah Montasik, yang juga berada di kabupaten Aceh Besar.

“Sekarang masing-masing hanya mengerjakan sawah sendiri, mise heuk yak peupah (kalau capek ya bayar orang uantuk mengerjakannya),” ujar Khadijah, tersenyum miris.

JAUH dari Aceh Besar, ada tempat yang tidak lagi menjalankan tradisi kenduri blang.

“Di kampung saya tidak ada lagi kenduri blang, yang ada cuma gotong-royong membersihkan lueng (saluran air kecil di dekat sawah) agar air dapat mengalir dengan baik,” kisah Suriana yang asal Keumala, Pidie.

“Kalau ada kenduri seperti dulu rasanya lebih bersemangat ke sawah,” lanjut mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Ar Raniry ini.

Tak hanya Suriana yang mengeluh tentang hilangnya tradisi kenduri ini, tapi juga Nurliah yang tinggal di Beutong Ateuh, Nagan Raya.

Kenduri blang ada, tapi hanya sekali, dan itu pun tidak semeriah dulu lagi,” tutur Nurliah saat saya singgah di rumahnya di Beutong Ateuh.

Sebenarnya kenduri blang diselenggarakan agar tercipta keseragaman dalam melakukan usaha pertanian, selain adanya unsur hiburan di dalamnya.

“Fungsi dari kenduri itu sendiri adanya kegiatan ekonomi dalam masyarakat, menambah motifasi dalam bekerja, ada kesiapan dalam melakukan sesuatu hal. Jadi rencana hidup orang Aceh itu sudah diatur dan terjadwal dalam acara kenduri,” kata Badruzzaman kepada saya.

Sekarang ada yang berpendapat bahwa banyak kenduri di Aceh itu makruh atau bahkan, cenderung haram. Namun, menurut Badruzzaman, pernyataan itu merupakan pernyataan orang malas.

“Selama tidak ada yang bertentangan dengan syariat dan tidak menimbulkan mudzarat ya tidak apa dilaksanakan. Lagipula untuk orang dulu, itu satu-satunya sarana hiburan, “ papar Bazruzzaman, serius.

Pendapat yang mengatakan bahwa kenduri blang itu budaya India juga dibantah bantah oleh Rusdi Sufi.

“Orang di sini agak aneh, apa-apa yang tidak ada dalam Islam dibilang budaya India. Padahal belum tentu ada budaya ini di sana,” ujar Rusdi, yang menjabat ketua Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh atau populer disingkat PDIA.

“Budaya ini telah lama ada, semenjak indatu (nenek moyang) kita dulu, jadi kenapa harus sekarang dipertanyakan,” lanjutnya.

PAGI tanggal 30 Maret 2008, Khadijah pergi ke sawah sambil membawa sabit. Hari ini ia akan mulai memotong padi. Seminggu kemudian padi mulai dirontokkan atau dipisahkan dari tangkainya.

Bau jerami pun menyeruak dari tengah sawah. Tanda panen baru saja selesai. []

Khiththati.  Tulisan ini pernah dimuat di Aceh Feature. Alumni UIN Ar-Raniry.

Mungkin Anda Menyukai