Sikapi Masalah, Tri Dharma Perguruan Tinggi Solusinya

Pelayanan Akademik UIN Ar-Raniry sangat mengecewakan. Begitulah keluhan yang saat ini sering di sampaikan oleh mahasiswa dan mahasiswi kampus biru ini di jejaring sosial maupun  dunia nyata.

Sejak berakhirnya pembayaran SPP Semester Genap Tahun 2014/2015 pada 23 Februari 2015, sampai dengan tulisan ini ditulis, Kartu Rencana Studi (KRS) yang ingin diisi oleh mahasiswa belum dapat diisi. Hal inilah yang memicu luapan emosi mahasiswa berapi-api dan mengeluarkan banyak ocehan pedas untuk Akademik UIN Ar-Raniry.

Rasanya wajar hal itu terjadi, sebagai mahasiswa yang berdarah muda tentu bukan lagi menjadi rahasia, ocehan maupun kritikan itu akan keluar. Namun jika kita kembali ke hakikat mahasiwa, seharusnya sebagai seorang yang dididik untuk menjadi intelektual muslim harus mampu menyikapi setiap persoalan dengan bijak dan kepala yang dingin.

Adapun persoalan saat ini yang terjadi di UIN Ar-Raniry ialah:

  1. Kartu Hasil Studi (KHS) ada yang belum terisi dan ada yang sudah.
  2. Ada beberapa kesalahan di dalam KHS seperti banyaknya salah ketikan, tidak sesuai jumlah indeks prestasi (IP), tidak keluar nilai pada beberapa Mata Kuliah (MK).
  3. Ada yang belum bisa mengambil MK angkatan atas dan ada yang bisa.
  4. Penyerahan slip spp bukti pembayaran ke fakultas masing-masing

Ada suatu hal yang perlu kita sadari bersama dan diberi tanda kutip, “Tidak semua permasalahan yang terjadi di kampus itu disebabkan kurangnya pelayanan Akademik maupun kelalaian mereka, akan tetapi ada banyak faktor lain di balik itu semua, termasuk kesilapan dosen dan juga kesalahan-kesalahan atau kecerobohan mahasiswa itu sendiri”.

Salah satu contoh kecil dari banyaknya contoh: Belum habis urusan administrasi dan akademik, ada sebagian mahasiswa tanpa mencari informasi atau lain sebagainya langsung kembali ke daerah.

Masih untung Akademik UIN terkadang mau melayani mahasiswa yang diisi KRS nya dan dibayar SPP oleh teman dengan berbagai kesalahan, ini real terjadi.

Ketika ada sebagian mahasiswa meminta pertolongan temannya untuk membantu dirinya yang sedang di kampung untuk membayar SPP dan daftar ulang, apa yang terjadi ketika ada kesalahan NIM atau lainya yang perlu diperbaiki, atau ketika didaftarkan namanya tidak ada diakibatkan dirinya terlambat mengisi biodata online, atau bahkan Penasehat Akademik tidak menyetujui ia untuk mengambil mata kuliah kakak leting saat mengisi KRS oleh temannya karena suatu hal dan lainnya, tentu ini bukan kesalahan Akademik tapi ulah dari kecerobohan mahasiswa itu sendiri.

Hal-hal itu lah yang seharusnya kita hindari demi kelancaran setiap administrasi dan akademik kampus. Apalagi saat ini UIN belum genap satu tahun beralih status dari IAIN ke UIN.

Tentu sangat banyak hal yang harus dibenahi dengan berubahnya satus tersebut. Bukanlah perkara mudah melayani puluhan mahasiswa dengan diimpitnya proses penyesuaian kampus sesuai dengan standar UIN. Hal ini juga menjadi kendala besar bagi pihak Akademik. Tentunya mahasiswa harus dapat memakluminya.

Oleh sebab itu, penulis mengajak mahasiswa UIN untuk tidak lagi mengeluhkan pelayanan akademik, akan tetapi mari kita carikan solusi yang tepat. Jika kendala dengan dosen maka hubungi dosen, jika kendala terjadi dengan SKS hubungi Penasehat Akademik.

Ingatlah satu hal: Mengeluh tidak akan menyelesaikan persoalan jika tanpa solusi. Dan kritis tanpa ketelitian seperti tong kosong nyaring bunyinya. Hal inilah yang tidak dibenarkan dalam jiwa seorang mahasiswa.

Tri Darma Perguruan Tinggi mengajar kita tentang Pendidikan, Peneletian dan Pengabdian. Maka sangat berguna jika kita menerapkan ketiga hal tersebut di dalam menyikapi setiap persoalan yang terjadi.

Pendidikan mengajarkan kita untuk berilmu dan kreatif dalam menyikapi masalah, penelitian membina kita untuk lebih teliti mencari akar setiap persoalan, dan pengabdian menuntun kita untuk berupaya ikut serta dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi. Sehingga hasilnya akan terlihat.

Sebagai contoh dan juga solusi yang penulis tawarkan: Mahasiswa UIN harus menjadikan pendidikan sebagai alat untuk mencapai kekreatifan, artinya punya ilmu yang dapat dimanfaatkan untuk meneliti akar permasalahan yang terjadi.

Setelah didapatkan jawaban atas polemik yang terjadi di Akademik, maka bersedia untuk mengabdikan diri guna ikut serta dalam bekerjasama dengan Akademik demi terselesainya urusan akademik kampus seperti yang telah diterapkan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa – Fakultas Ushuluddin dan Filsafat pada setiap semesternya.

Penulis : Muliadi Abd, Sekjend Dewan Eksekutif Mahasiswa – Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry.

Mungkin Anda Menyukai