Cerita Dari Palu

Dalam rangka mengikuti ajang silaturahmi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam se-Indonesia, yaitu Pekan Ilmiah, Olahraga, Seni dan Riset (PIONIR)  ke-7 di kota Palu, Sulawesi Tengah,   Kampus UIN Ar-Raniry kembali ikut berpartisipasi dalam menyukseskan ajang dua tahunan ini.

Sebanyak tiga puluh peserta yang mewakili cabang perlombaan, termasuk official, bertolak ke kota Palu, pada Minggu (17/05/2015) subuh. Saya ikut dalam kontingen tersebut, sebagai peserta cabang olahraga bulu tangkis.

Perjalanan terasa melelahkan, karena jarak tempuh yang jauh, mengharuskan kami transit sebaganyak tiga kali, dari Aceh-Jakarta, Jakarta-Makassar dan Makassar-Palu.

Setelah mendarat di Bandara Mutiara SIS Al-Jufri, kami berangkat dari pukul 05.oo subuh dan tiba di kota Palu sekitar pukul 22.00 malam. Cukup melelahkan bukan ?

Merasakan perjalanan perdana di udara, saat berada di dalam pesawat pun hanya suara kami yang terdengar, dibanding dengan penumpang lainnya. Ya wajar saja, kan belum pernah naik pesawat, apa lagi bisa melihat indahnya awan dan panorama alam di bawah kami.

“Le that cang panah, lage ureng han tom kalon sapu (banyak kali bicara, seperti orang yang tidak pernah lihat apa-apa).” kalimat itu saya lontarkan kepada teman dengan nada bercanda, sambil menikmati perjalanan bersama peserta lainnya.

Setiba di kota Palu, terlihat seorang pria berkulit putih dan wanita manis berseragam rapi atau biasa disebut LO. Akbar dan Ulfi namanya, mereka adalah panitia Pinonir yang telah menunggu dan menyambut kedatangan kami.

Mereka mengaku sangat senang dengan orang Aceh, “Orang Aceh baik-baik ya, lucu,  terus fisik nya beda-beda, ada yang seperti  Arab, China, Eropa dan Hindia , sesuai dengan nama Aceh sendiri,” tutur Akbar, sambil merangkul bahu saya.

Bahkan ia juga menganggap, Aceh itu seperti daerah sendiri. Akbar senang karena orang Aceh terkenal dengan “Pemulia Jame Adat geutanyoe” (muliakan tamu adat kita).

“Jadi hari ini, izinkan kami untuk menggunakan istilah itu, kan kalian tamu jadi wajib untuk dimuliakan,” ujar Akbar, dilanjutkan diskusi kecil.

Dalam diskusi tersebut, saya bercerita sedikit panjang mengenai Aceh. Mulai dari masjid Raya Baiturrahman, budaya, sejarah, adat dan tempat wisata kuliner, hingga wisata tsunami yang ada di negeri syariat.

Akbar dan Ulfi penasaran dan ingin menunjungi Aceh setelah mendengar cerita saya. “Jujur saya ingin sekali ke Aceh, ingin rasanya menghirup udara islami yang di sana. Dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Aceh,” tutur Ulfi, dengan wajah penasarannya.

Selain terkenal dengan memuliakan tamu, orang Aceh juga terkenal dengan keramahannya. Itulah yang saya lakukan setiba di kota yang terkenal Masakan khasnya Kaledo Palu.

Penulis adalah Muhammad furqan, mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi, yang saat ini sedang mengikuti PIONIR di Palu, Sulawesi Tengah. Ia mewakili UIN Ar-Raniry, pada cabang olah raga Badminton.

Mungkin Anda Menyukai