Pesan Tgk. Sala

Salahuddin, asal Awee Geutah, salah satu desa di Kabupaten Bireun, hanya tamatan Sekolah Dasar, tapi tingkat keilmuaannya tidak bisa diragukan lagi. Salahuddin pernah sejenak berguru ke Abu Nu Adami Sibreh.

Tgk. Sala –nama panggilan- aktif di PII tahun 1980-1990 dan pernah menjadi ketua komisariat Matang Geulumpang Dua. Aktif juga Di PCC,Taliban, MUNA dan berbagai macam organisasi lain. Sekarang ia dipercayakan sebagai penasehat KMPA Pidie Jaya.

Tahun 1990 Tgk. Sala telah mendirikan mendirikan 10 lembaga yang bergerak disegala bidang, baik itu agama, pendidikan, dan sosial.

“Saya salah satu pendiri TPA di Aceh. TPA kami berada dalam sepuluh besar TPA pertama terdaftar di Aceh,” ucap Tgk. Sala memulai pembicaraan.

Walau dengan segudang pengalaman leadership, juga banyak berkawan dengan orang level atas dan pengambil kebijakan di Aceh. Tgk. Sala tak pernah sekalipun memegang proposal Meminta untuk dikasihani. Ia punya prisip; harga diri itu mahal.

rumah tgk. sala berukuran 4×7 meter dengan gaya rumah aceh, walau demikian di rumah ini terdapat pustaka pribadi yang berjejer rapi ratusan buku, dari agama, umum, politik, sosial, pengetahuan ilmiah, fiksi dan novel.

Saya tersenyum setelah melihat buku Khalilah dan Dimnah karya Baidaba berhimpitan dengan Laskar Pelangi karya Andre H. Yang letaknya disudut rak.

Dari ilmu yang “wah” dimiliki Tgk. Sala ini, terlihat kontras dengan pekerjaan beliau yang sehari-hari menjadi buruh tani.

“Hampir setiap bulan Pak ‘pulan’ (salah satu mantan bupati ) atau pak ‘pulen’ ( juga mantan bupati) bahkan pak ‘itu’ (mantan DPD aceh) berkunjung ke gubuk saya,” kata Tgk. Sala. Kedatangan pejabat itu untuk mengajak Tgk. Sala tinggal ditempat yang layak, memberi pekerjaan yang sesuai. Tapi selalu di tolak Tgk. Sala.

“Kenapa begitu Tgk?” tanya penulis.

“Kesenangan itu bukan pada jabatan atau Uang. tapi pada kebebasan,” jawab Tgk. Sala.

“Selama kuliah berapa ribu buku sudah adik baca?” tanya Tgk. Sala kepada penulis. Suasana menjadi hening.

“Membaca adalah kebutuhan. Yang membina kita menjadi pribadi yang berkarakter, lembut dalam bersikap dan mewah ketika berfikir,” ucap Tgk. Sala memecah keheningan.

“Dewasa ini dek. Bukan tidak ada kader, tapi tidak ada yang mengorbit. Hampir semua organisasi leadership di Aceh bukan membina kader untuk pemimpin bangsa tapi membina kader untuk mengelola anggaran yang telah ada. Hingga menjadi generasi yang malas, semangat lemah, dan cepat patah arang.”

“Pemimpin wajib ada sedangkan ilmu memimpin tidak ada. Sehingga melahirkan pemimpin rasa alam, yang dibesarkan dengan kekuatan, bukan didasari pada keahlian. Siklus ini akan terus selalu berputar jika tidak ada orang yang berani memutuskan mata rantai,” tandas Tgk. Sala kepada kami.

“Dalam mengubah paradigma, kita akan selalu dihantam kritik, fitnah, bahkan ancaman. Kritikan adalah sahabat yang paling mulia. Sedangkan pujian adalah penyebab tergelincirnya seseorang,” ujar Tgk. Sala.

Ia mencontoh, kecelakan yang terjadi dijalan raya yang teraspal indah, rapi, serta kokoh. Sedangkan jalan krikil berlumpur dan becek jarang orang yang jatuh. Maka ciptakan kreasi untuk merubah paradigma, dan jangan marah bila dikritik, karena yang sukses adalah orang yang selalu mengambil hikmah dari kritikan, lanjut Tgk. Sala.

Kepada generasi muda, Tgk. Sala ingin mengimbau agar belajar dengan sungguh, berbuat dengan ikhlas, jangan bersikap acuh, dan tak peduli karena perubahan dimulai dari pribadi kita sendiri.

“Tolong siapkan linggis atau gergaji untuk memutuskan mata rantai,” kata Tgk. Sala.

Penulis bernama Misbahul Munawar, Mahasiswa Fakultas Ushuludin dan Filsafat UIN Ar-Raniry. Sedang mengikuti KPM di Pidie Jaya.

 

Mungkin Anda Menyukai