Perbedaan Saat Nyantri dan Sesudah Nyantri

Ketika yang menyebut kata nyantri dari kalangan remaja-remaja yang sibuk dengan retorika dunia dan lalai dengan pesona teknologi, mereka akan berfikiran bahwa nyantri hal yang sangat mengerikan.

Mungkin bayangan mereka lebih mengarah kepada didikan yang keras, terkurung atau lebih tepatnya penjaranya para santri yang membuat mereka tak bisa bebas. Ini perbedaan sebelum dan sesudah nyantri.

Saat nyantri, bagi sebagian santri adalah bagian masa yang sangat indah karena segala hal telah kami lalui disana. Mulai dari benci, sayang, senda gurau, rindu, beban yang berat, tangisan, cerita-cerita horor yang kian menakutkan, persahabatan, pertengkaran, bahkan pelanggaran yang seharusnya kami hindarkan.

Bagi kebanyakan santri, rasa yang sangat sulit dipikul ialah rasa ngantuk yang mendalam ketika jam pelajaran sedang berlangsung dan pada akhirnya mejalah yang paling mengerti kami.

Ketika shalat dan zikirpun kadang kami terangguk-angguk karena kantuk. Saat nyantri banyak moment-moment yang sulit dilupakan, mulai dari harus menghadapi teman-teman yang dari berbagai sifat, watak, kebersamaan, belajar sampai tengah malam ketika ujian.

Kemudian makan bersama dalam satu piring, gotong royong, pondok juga menanamkan rasa kepemimpinan, kepedulian terhadap sesama, hal inilah yang sangat berkesan dan jarang dilakukan oleh orang-orang yang tidak nyantri. Hal itu pula yang membuat suasana nyantri kental dengan kebersamaan dan persahabatan.

Kebiasaan baik yang ditimbulkan saat nyantri adalah shalat tepat waktu, rajin menghafal, membaca al qur’an setiap hari, bahkan jadi sangat rajin melaksanakan shalat malam, baik itu karna paksaan ataupun didasari keinginan sendiri.

Inilah sebagian dari masa nyantri yang pahit manisnya sudah kami lalui.

Sesudah nyantri atau ketika sudah tidak menetap di pondok pesantren lagi, para alumni tidak banyak yang setia dengan kebiasaannya di pesantren, misalnya dari segi pakaian kembali memakai pakaian ketat, mengumbar aurat.

Itulah sedikit perbedaan saat nyantri dan sesudah nyantri. Sebaiknya kita terus menjaga dan menjalani ilmu yang telah kita dapatkan. Memang godaan dan rintangan sangatlah besar apalagi dizaman sekarang ini. Oleh sebab itu kita harus tetap istiqomah dalam menjalaninya.

Penulis bernama Khaira Amalia, mahasiswa Jurusan Psikologi, Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry.

Foto: internet

Mungkin Anda Menyukai