Mengejar Cita dan Pusara Ibu

Pagi pukul tujuh tiga puluh, langkah mulai kuayunkan membelah trotoar disepanjang jalan. Tidak jauh sih, hanya berjalan seratus meter dari tempat kos ku sudah sampai ke kampus. Entah kenapa di pagi itu gerimis turun hingga membuatku sedikit kewalahan mendekap beberapa buku bawaan supaya tidak kebasahan. Ditambah lagi harus menyeberang jalan dengan sesaknya lalu lintas mahasiswa.

Sesampainya dikampus aku mengelus-ngelus dada sambil bernafas lega, Pak Arifin dosen killer kami belum memasuki ruangan kuliah. Kuletakkan tas di atas meja dan dua buah buku cetak tebal yang dari tadi kudekap erat di perjalan. Kubukakan jaket separuh basah sambil menyeka-nyeka muka yang dibasahi gerimis. Ulfa yang duduk di kursi sebelah menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum melihat aku yang di ospek hujan pagi ini.

***

Entah kenapa dari satu jam kuliah berlangsung perasaan aku mulai tidak enak. Beberapa kali Ulfa menyenggol bahuku yang dari tadi mengedarkan pandangan kosong ke luar jendela, bukan ke papan tulis. Tidak lama setelah itu, aku terkejut dengan getaran hp di saku celana. Kucoba mencuri-curi selah supaya tidak keliatan Pak Arifin, dan kulihat layar hp, Ayah menelfonku. Sangking takut ketauan dosen, terpaksa kumatikan, tidak lama berselang getar hp mulai terdengar lagi. Mungkin ini penting, gumamku. Dengan rasa takut kumintakan permisi keluar untuk mengangkat telfon Ayah.

“Halo Assalamualaikum Ayah” sapa ku, namun tidak ada jawaban. “Ada apa Ayah telfon, Putra lagi di kampus ni yah, dosennya lagi ngajar didalam,” sambungku tergesa-gesa karna terlalu lama ayah menjawab salam. Suara isak kecil terdengar dari speaker hp, perasaan ku makin tidak enak. “Putra…nak,” suara ayah, lalu terhenti. “Kenapa yah, ada apa,” tanyaku menggebu-gebu. Lalu dengan suara bergetar isak ayah menjawab, “Ibu nak, Ibu sudah meninggal, bereskan barang-barangmu lekas pulang cepat-cepat nak.”

Tanpa kusadari hp yang menempel di telingaku jatuh, lalu aku mulai terisak-isak kecil duduk pasrah di lantai sambil menyenderkan badan ke dinding. Tangisku pun pecah seketika, tak bisa kubendung lagi air mata ketika mendengar kepergian Ibu. Dengan mungutip hp dan batrenya yang jatuh berserakan, buru-buru kubukakan pintu kelas yang sedang berlangsung perkuliahan. Langkahku berlari ke arah meja dan memasukkan semua buku-buku bawaan kedalamnya, isakan dan luruhnya air mata tak bisa kusembunyikan membuat kawan-kawan se isi kelas riyuh menanyakan perlihal apa. Ulfa yang bersebelahan denganku menarik-narik tas yang sudah kuselempangkan ke bahu sambil menanyakan “kenapa putra, coba ceritakan, kenapa Putra nangis”. Suasana kelas terasa mencekam keanehan melihatku. Tak sanggup ku keluarkan kata-kata untuk ku jelaskan ke kawan sekelas, dari tadi mulutku sesekali kutup rapat menahan akan tangis yang histeris.

Langkah cepat ku mengarah ke meja Pak Arifin yang dari tadi hanya terdiam melihat tingkahku, kusalami tangan beliau, “Bapak mohon izin pulang kampung, Ibu saya barusan meninggal dunia,” dengan terbata-bata kucoba untuk menjelaskan. “Innalillahi wainnailaihi rajiun, iya nak.” Tanpa sempat Pak Arifin bertanya banyak, kututup pintu kelas dengan tidak memerdulikan lagi apa yang terjadi setelah kepergianku.

Berlari-lari seperti orang kesurupan, kucoba lagi bertarung dengan hujan yang kini sudah semakin ganas. Lima puluh meter di depan kampus, ku stopkan mobil L-300 jurusan Lhoksemawe. Deru mobil mulai membelah jalan dan tidak lama meninggalkan Kota Banda Aceh mengarah ke Lhokseumawe, mengantarkan salah seorang anak rantau yang luka akan hatinya.

Disepanjang perjalan pikiranku melayang-layang memikirkan Ibu, mencoba mengikis-ngikis memori kebersamaan kami dulu. Pandangan lamunanku terus kupasang di jendela mobil yang sedang terkentut-kentut menanjaki perbukitan Seulawah. Lama sekali rasanya perjalanan ini. Didalam mobil kucoba untuk tidak menangis terisak, walau butir-butir air bening itu selalu kuseka dengan punggung tangan. Tidak kugubris penumpang yang duduk di sebelahku, yang ada hanyalah bayang-bayang Ibu yang terus lalu lalang di pikiranku.

Sudah tiga tahun Ibu mengendap penyakit diabetes, dan minggu kemarin Ayah menelfonku mengabari kalau Ibu dirawat dirumah sakit, ketika kutawarkan diri untuk pulang melihat keadaan Ibu, Ayah malah melarangku. “Kagak apa-apa Putra, Ibu mu tidak terlalu parah, hanya perlu dirawat beberapa hari saja. Selesaikan dulu ujian akhir smester ini, tidak usah khawatir dengan keadaan Ibu”. Mendengar perkataan Ayah, aku sedikit terhibur dan menguatkan hati untuk tidak pulang. Dan nyatanya hari ini aku mendapat telfon keduanya, Ibu telah tiada. Meninggalkan semua kenangan yang pernah ada, Ibu yang selalu memasakkan rendang jengkol kesukaan ku, Ibu yang selalu jadi tempat aku menangis tersedu-sedu sehabis berkelahi dengan anak tetangga ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar, dulu.

***

Tidak terasa enam jam sudah mobil menderu membelah jalan. Lamunan-lamunan ku tentang Ibu pecah seketika ban mobil mengerem berdecit-decit dengan aspal, aku telah dihantarnya sampai ke kota Lhokseumawe. Ku stopkan Labi-labi, satu-satunya angkutan yang tembus ke desaku. Sepuluh menit aku dilarikan dalam labi-labi. Dari kejauhan kutangkap keramaian mulai sesak dipekarangan rumahku. Perasaanku semakin kacau. Kuturini labi-labi dengan tergesa, dengan separuh melempar ongkos ke arah sopir, lari kecil-kecilku membelah keramaian itu.

“Dimana Ibu, dimana Ibu”, kutanyakan pada wak Diyah yang memeluk kedatangan ku sambil menangis terisak. Tanganku langsung dituntunnya memasuki ruang tamu yang penuh manusia-manusia membacakan yasin. Ya, itu Ibu ku, mereka membacakannya untuk Ibu ku yang terbujur kaku dengan helaian kafan menyelimuti tubuhnya.

Kujatuhkan tas ransel yang masih melekat dipunggung ku. Perlahan kusibak kain yang menutupi wajah Ibu. Ayah yang berada di sebelah kepala jenazah Ibu mencoba memapah ketidak berdayaanku melihat Ibu yang sudah kaku tidak bernyawa. Tidak satupun kata yang Ayah keluarkan. Isak tangis dan lantunan ayat alquran membuat suasana semakin sendu, hati ku lebih-lebih lagi.

Dengan menyeka air mata pilu, kuciumi dahi dan pipi Ibu untuk yang terakhir kalinya. Kemudian kubisikkan lirih ketelingannya, “maafkan Putra bu, maafkan semua salah-salah putra sama Ibu. Ibu, tunggu putra di pintu syurganya Allah. Selamat jalan Ibu, doa Putra selalu tercurah untuk Ibu.”

Penulis bernama M Yusrizal, mahasiswa Pendidikan Sejarah, di Unsyiah. Anggota UKM-Seni Putroe Phang Unsyiah. 

Mungkin Anda Menyukai