Cerita di Balik Library Goes to School FIM Aceh

Sumberpost.com | Banda Aceh – Pagi itu, motor literasi dari Taman Baca Masyarakat (TBM) Ar-Rasyid melaju menyusuri jalan raya hingga berhenti di sebuah sekolah dasar.

Tiga pelaksana proyek mengeluarkan sejumlah buku bacaan bergenre dongeng dari kotak besi besar di balik motor gede itu.

Tim Library Goes to School, salah satu kelompok binaan Forum Indonesia Muda (FIM) Aceh tengah menjalankan proyek sosial bidang pendidikan di SDN 54 Kota Banda Aceh, Kamis (12/4/2018).

Ini dilakukan sebagai upaya lulus seleksi Pelatihan Wilayah Forum Indonesia Muda (FIM) Regional I yang akan dilaksanakan di Bukittinggi pada Juni mendatang.

Tak hanya itu, tim sengaja membuat proyek seperti ini untuk sekaligus mendukung Program Aceh Carong Pemerintah Aceh.

Di sebuah ruang khusus, puluhan murid kelas IV SD duduk rapi dengan raut bahagia. Kepala sekolah, beberapa guru dan sejumlah pelaksana proyek lainnya juga sudah menunggu.

Di depan kelas, spanduk Library Goes to School, layar putih dengan sorotan proyektor dan hadiah-hadiah lucu sudah siap. Protokol membuka acara diiringi tepuk tangan meriah seluruh penghuni kelas.

Ketua proyek, Maulidya Ramli ditemani anggotanya Ade Muliana Pratiwi, Muhammad Fazil dan Muhammad Farhan memandu acara dengan cara yang sedikit berbeda. Ada juga seorang sukarelawan bernama Adam Juliandika turut membantu.

Awalnya para peserta didik disuguhi materi tentang manfaat membaca dan bahaya gadget. Ada juga sesi tanya-jawab yang membuat suasana semakin hidup. Mereka berebut mengajukan pertanyaan pertanda antusias mengikuti acara.

“Kak kenapa buku itu jendela dunia? Kak gadget kok bisa buat lalai? Kak gimana sih sejarah perkembangan mobil?” tanya mereka.

Selesai sesi tanya jawab, tim membangkitkan semangat peserta didik dengan goyang lucu ala kartun. Tangan kaki dan seluruh badan bergerak mengikuti irama musik.

Kemudian peserta didik disuguhi dongeng disertai pemahaman nilai moralnya. Perhatian pun tertuju pada layar proyektor dan terkadang ke arah tangan pendongeng.

Setelah berhasil mendapat perhatian penuh dan daya tarik siswa, tim membagikan buku dongeng dan memberi kesempatan sekitar 15 menit untuk membaca. Selanjutnya secara bergantian, para murid menceritakan kembali apa yang sudah ditangkap. Hadiah-hadiah lucu di atas meja perlahan berkurang. Lagi-lagi mereka berebut aktif demi mendapat itu.

Terkadang, pemandu acara bertanya tentang apa yang sudah diceritakan oleh seorang murid. Teman-teman lain yang bisa menjawab juga diberikan hadiah.

“Semoga kita lulus semua ya, sekarang saatnya buat laporan sebaik mungkin, ” kata Maulidya pada timnya.

Fasilitator Projek, Rizki Wan Okta Bina mengungkapkan rasa bangganya pada Tim Library Goes to School dan satu tim lainnya yaitu Bejo, yang melaksanakan projek pada hari dan tempat yang sama dengan sukses.

“Analogi sederhanya begini, bangunan megah dibangun dari butiran pasir. Apa yang kita lakukan selama beberapa hari ini saya yakin adalah sebagai proses awal membangun peradapan yang lebih hebat untuk Aceh tercinta,” katanya.

Tim Library Goes to School menjalin kerjasama dengan TBM Ar-Rasyid mengenai sarana motor literasi dan buku bacaan.

Ada 9 tim lain dari Aceh yang juga akan beraksi dengan projeknya masing-masing, memberikan kontribusi terbaik agar dinyatakan layak dan lulus sebagai peserta Pelatihan Wilayah FIM Regional I. [ron]

Magang: Cut Della Razaqna

Mungkin Anda Menyukai