Meluruskan Sejarah Perjuangan Aceh Lewat Buku dari Gunung Halimon ke Swedia

Sumberpost.com | Banda Aceh – Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) mengadakan seminar buku Dari Gunung Halimon ke Swedia di ruang Teater Lantai 1 FSH, Sabtu (12/05/2018).

Penulis buku Dari Gunung Halimon ke Swedia, Husaini M Hasan dalam pemaparannya menyampaikan, saat ini beredar fakta yang keliru mengenai perdamaian Aceh. Karena itu, dia mencoba menuliskan kembali fakta yang sesungguhnya mengenai perdamaian Aceh dalam buku tersebut.

“Tujuan dari penulisan buku ini untuk meluruskan sejarah perjuangan Aceh, karena sejarah Aceh sudah banyak yang diputarbalikkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab,” ucap Husaini.
Selanjutnya Husaini mengatakan bahwa Aceh saat ini diberikan tiga rezeki yaitu Otonomi Daerah, Wali Nanggroe dan pelaksanaaan Syari’at Islam. Tiga hak ini tidak ada pada masa pemerintahan Aceh sebelumnya sejak Aceh bergabung dengan Indonesia.

“Saya mengharapkan agar semua masyarakat Aceh sadar dan bersatu padu memperjuangkan tiga hak tersebut sebagai program politik Aceh kedepan,” harap Husaini.

Kemudian Syarifah juga menyampaikan bahwa buku ini merupakan pembenaran atau penyampaian terkait hal-hal yang tidak sampai kepada kita semua tentang sejarah Aceh yang sebenarnya.

“Orang banyak berpikir bahwa Aceh berdamai dengan mudah hanya dengan perjanjian MoU Helsinki, padahal Aceh damai itu butuh proses yang rumit dan banyak sekali menumpahkan darah syuhada,” ucap Syarifah.

Seminar ini diisi oleh empat orang pemateri yaitu Husaini M Hasan yang merupakan penulis buku Dari Gunung Halimon ke Swedia, Haikal Afifa yang merupakan penerjemah buku Tengku Hasan M. Di Tiro yang berjudul ‘Aceh Bak Mata Donya’, Kamarruzzaman Bustamam Ahmad yang merupakan penulis buku Acehnologi dan Syarifah Rahmatillah yang merupakan pendiri Mitra Sejati Perempuan Indonesia (Mispi). [fan]

Magang : Meutia Gardena Ardean

Mungkin Anda Menyukai