KontraS Aceh: Pendidikan Publik Terkait Pengungsi Itu Penting

Sumberpost.com | Banda Aceh – Di tengah arus narasi bohong terhadap pengungsi Rohingya beberapa tahun belakang. kontraS Aceh menggelar diskusi publik bertajuk merajut solidaritas dan karya bersama anak muda pengungsi di pelataran KontraS Aceh (20/06/2025).

“Dalam diskusi ini kami menyampaikan pendidikan untuk publik terkait siapa itu pengungsi. Penyebutan pengungsi sebagai imigran, ilegal, bahkan pendatang gelap merupakan upaya lain untuk mendemonisasi peradigma buruk terhadap orang-orang yang teraniaya,” ujar Azharul Husna, koordinator KontraS Aceh.

Dalam rangka memperingati hari pengungsi dunia, Husna juga mengungkapkan penting untuk mendorong revisi Peraturan Presiden (Perpres) No. 125 Tahun 2016 tentang penanganan pengungsi dari luar negeri.

Revisi regulasi ini nantinya diharapkan dapat memberikan aturan yang lebih komperhensif terkait pengungsi yang berasal dari luar negeri. kata Husna, langkah ini bisa kita anggap sebagai upaya lain negara dalam ikut serta dalam perdamaian dunia.

“Dalam momentum ini kami tidak hanya bicara soal Rohingya, tetapi juga bicara soal bangsa-bangsa teraniaya lainnya. Kita berharap dengan ini, kesadaran terhadap betapa pentingnya kerja-kerja untuk merawat perdamaian itu terus dilakukan,” jelasnya.

Menurut Husna, Penting bagi Indonesia menjadi agen perdamaian dunia untuk turut serta menekan agar pelanggar Hak Asasi Manusia (HAM) di Myanmar segera berhanti.

“Tidak ada jalan bagi pengungsi kecuali perdamaian terjadi. Itu kita sadari betul karena pernah terjadi di Aceh saat masa konflik,” katanya.

Husna mengatakan, saat pengungsi datang ke Aceh merupakan momen dimana kita diingatkan kembali pada sejarah kelam Aceh yang membuat masyarakat Aceh dahulu juga pernah mengungsi.

“Saya rasa ini menjadi titik balik kita untuk belajar lagi. Saya mengutip kata-kata dari George Santayana, barang siapa yang melupakan sejarah akan dikutuk untuk mengulangnya kembali,” ujarnya.

Terkait narasi negatif yang mempengaruhi masyarakat akan pradigma terhadap pengungsi. Husna mengatakan bukan sepenuhnya kesalahan dari masyarakat Aceh.

Ia paham betul bahwasanya, masyarakat Aceh adalah masyarakat pasca konflik. dimana trauma tidak pernah dipulihkan dengan baik. Narasi ini kemudian menjadi pemantik ampuh, karena ketakutan di kalangan masyarakat bisa menyebar dengan cepat.

“Oleh karena itu, memberikan narasi yang benar dan tepat akan pengungsi untuk masyarakat itu penting, sehingga masyarakat tidak khawatir. Hal ini lah menjadi tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya. []

Reporter: Rauzatul Jannah

Editor: Riska Amelia