Rancang Aplikasi Pendidikan Inklusif, Mahasiswa TI UIN Ar-Raniry Dapat Sorotan Nasional

Sumberpost.com | Banda Aceh – Tim pandu cerdas yang beranggotakan tiga mahasiswa Teknologi Informasi (TI) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry sukses merancang aplikasi pendidikan inklusif. Inovasi baru ini nantinya akan dikembangkan dan menjadi metode baru yang dapat diterapkan di sekolah luar biasa (SLB) khususnya di Aceh, Rabu (25/06/2026).

“Rencananya kami akan mengembangkan aplikasi ini sehingga dapat digunakan secepat mungkin, kami juga berharap aplikasi setelah selesai dikembangkan dapat diintegrasikan dengan kurikulum dan sistem sekolah SLB yang ada di Aceh terutama” ujarnya M. Dolyanda, salah satu anggota Tim pandu cerdas.

Prestasi gemilang ini ternyata telah mendapat sorotan nasional. Sebuah pencapaian yang berhasil ditorehkan oleh tim mahasiswa UIN Ar-Raniry asal Aceh yang tergabung dalam tim Pandu Cerdas pada ajang nasional 5ME2045 Business Competition. Dalam kompetisi tingkat nasional tersebut, tim ini sukses menyabet posisi Juara 2 kategori BIP Mahasiswa/Umum sebagai perwakilan Sumatera Bagian Utara, mewakili provinsi Aceh, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Diselenggarakan oleh Matagaruda dan didukung oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) serta Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Institute, ajang ini menjadi panggung bagi para pemuda dari seluruh Indonesia untuk menampilkan ide bisnis inovatif yang mampu memberikan dampak sosial nyata bagi masyarakat. Kompetisi ini merupakan bagian dari gerakan nasional “5 Million Entrepreneurs 2045” yang bertujuan mencetak lima juta wirausaha muda menjelang satu abad kemerdekaan Republik Indonesia.

Pandu Cerdas hadir sebagai solusi inklusif berbasis teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk sektor pendidikan. Aplikasi ini dirancang khusus untuk membantu siswa tunanetra belajar dan mengikuti ujian secara mandiri. Dengan mengandalkan fitur seperti text-to-speech, chatbot pintar, dan kendali berbasis suara, aplikasi ini memungkinkan siswa disabilitas netra memperoleh akses pendidikan yang setara dan bermartabat.

Muhammad Ulwy, M. Dolyanda Harialdy, dan Fillahi Akbar, yang merupakan anggota tim Pandu Cerdas, menjelaskan bahwa ide tersebut lahir dari keprihatinan terhadap minimnya akses teknologi yang inklusif di dunia pendidikan Indonesia.

“Kami menyadari bahwa siswa penyandang disabilitas kerap kali tertinggal dalam hal pembelajaran karena keterbatasan alat bantu yang tersedia. Pandu Cerdas hadir untuk menjembatani kesenjangan tersebut,” ujar M. Dolyanda.

Dalam penilaian dewan juri, Pandu Cerdas dinilai unggul dalam beberapa aspek utama: kebermanfaatan sosial, potensi jangkauan pengguna yang luas, kejelian memanfaatkan teknologi terkini, serta kesiapan implementasi produk. Tim juri juga menyoroti pendekatan berbasis empati yang diterapkan tim dalam merancang antarmuka dan pengalaman pengguna bagi siswa dengan kebutuhan khusus.

Ulwy, yang juga bertindak sebagai koordinator tim, menyatakan rasa syukurnya atas capaian ini.

“Kami bangga bisa mengharumkan nama Aceh di tingkat nasional. Kemenangan ini kami persembahkan untuk seluruh pelajar tunanetra di Indonesia yang berhak atas pendidikan yang layak dan bermutu,” ujarnya.

Sementara itu, Fillahi Akbar menambahkan bahwa timnya tidak akan berhenti sampai di sini.

“Kami akan terus menyempurnakan teknologi ini agar dapat diakses oleh lebih banyak siswa di berbagai provinsi, dan kelak bisa menjadi produk unggulan Indonesia dalam ranah teknologi edukasi inklusif.”

Dengan membawa semangat dari Serambi Mekah, tim Pandu Cerdas membuktikan bahwa inovasi dan kepedulian sosial bisa berjalan beriringan untuk menciptakan perubahan nyata. Prestasi mereka di ajang 5ME2045 Business Competition menjadi bukti bahwa pemuda dari daerah pun mampu berkontribusi besar bagi masa depan bangsa.

Dalam waktu dekat, tim Pandu Cerdas juga akan menghadiri sejumlah agenda penting di Jakarta sebagai tindak lanjut dari kompetisi ini. Kehadiran mereka dalam forum nasional tersebut menjadi peluang strategis untuk memperkenalkan inovasi mereka kepada pemangku kebijakan dan pelaku industri teknologi pendidikan.

Untuk itu, mereka sangat membutuhkan dukungan dari pihak kampus dan pemerintah, khususnya dalam bentuk pendanaan keberangkatan selama acara awards, dukungan penelitian dan pengembangan, integrasi ke dalam sistem kurikulum pendidikan inklusif nasional, serta penyediaan akses distribusi ke sekolah-sekolah luar biasa (SLB) dan lembaga pendidikan yang menangani anak berkebutuhan khusus di seluruh Indonesia.[]

Reporter : Rauzatul Jannah.

Editor : Alya Ulfa.