Asyura, Pengingat Lembut Bagi Mereka yang Pernah Jauh
Sumberpost.com | Banda Aceh – Mungkin kita terlalu sering melewati tanggal 10 Muharram tanpa rasa. Ia hanya sekadar angka di kalender Hijriah. Tidak ada perayaan besar-besaran. Tidak ada gegap gempita. Hening tanpa suara. Tapi justru dalam keheningan itu, Tuhan menitipkan isyarat paling halus dan paling lembut kepada hati yang masih ingin kembali: “Aku masih membuka pintu.”
Asyura bukan hari biasa. Ia tidak hanya memiliki sejarah besar, tapi juga mengandung pengampunan yang luas, yang barangkali tidak pernah kita sangka.
Kita mulai dari apa yang paling mudah diingat: yaitu keutamaannya.
Rasulullah SAW bersabda, “Puasa Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat mengahapus dosa setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim)
Satu hari saja. Tapi pahalanya sebesar itu. Padahal dosa-dosa itu kita kumpulkan perlahan: lewat ucapan yang tergelincir, pandangan yang tak djaga, janji yang dilupakan, ibadah yang dilakukan asal-asalan. Kita bawa semua beban itu tanpa sadar, lewat hari-hari yang terasa biasa, tapi penuh luka kecil yang tak pernah di sembuhkan. Sampai akhirnya tiba hari seperti Asyura. Hari yang tidak bersuara, tapi membawa pesan yang dalam. Hari yang seolah berkata: “Kamu sudah cukup jauh. Kini saatnya Kembali, bukan hanya untuk dimaafkan, tetapi untuk diperbaiki.”
Tapi keutamaan itu tidak berdiri sendiri. Ia bersambung ke dalam sejarah panjang yang sering terlupakan.
Hari Asyura adalah Ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihis salam dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Dalam keadaan terdesak, dengan lautan membentang di hadapan dan maut yang mengejar di belakang, Musa tetap tenang dan berkata: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku Bersamaku, Dia akan memberi pertunjuk kepadaku.” (QS. Asy-Syu’ara: 62)
Dan seperti yang kita tahu, laut pun terbelah. Mereka selamat. Firaun dan pasukannya tenggelam. Hari itu menjadi hari syukur yang begitu besar bagi umat terdahulu. Maka Musa berpuasa sebagai ungkapan terima kasihnya kepada Allah.
Ratusan tahun kemudian, saat Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah, beliau melihat kaum Yahudi juga berpuasa pada hari Asyura. Ketika ditanya, mereka menjawab, “Ini adalah hari agung, hari Ketika Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari musuh mereka.”
Maka Rasulullah bersabda: “Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian.”
Beliau pun berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk turut berpuasa. Dari sinilah puasa Asyura menjadi bagian dari sunnah yang terus hidup hingga saat ini.
Tapi mengapa hari Asyura betepatan 10 Muharram begitu ditekankan? Mengapa hanya satu hari, tapi bisa begitu agung?
Barangkali karena Asyura bukan hanya tentang Sejarah dan puasa. Ia adalah tentang iman dan harapan. Tentang seorang hamba yang nyaris kalah, tapi tetap yakin pada pertolongan Allah. Tentang seorang Nabi yang di ujung ketakutan, tetap berkata: “Tuhanku bersamaku.”
Dan kita, bukankah sedang hidup di antara kelelahan dan rasa takut juga?
Kita berlari dari satu kegagalan ke kegagalan lain. Dari satu dosa ke dosa yang lain. Dari satu kehilangan ke luka yang belum selesai. Kadang kita merasa seperti Musa, berada di depan laut yang tak mungkin diseberangi. Tapi Asyura mengingatkan: Jalan keluar bisa datang bahkan Ketika kamu tidak melihatnya.
Tuhan tak pernah menjauh. Tapi kadang kita terlalu sibuk hingga lupa bahwa Dia masih menunggu.
Asyura adalah ajakan lembut. Bukan ancaman. Bukan kewajiban. Tapi tawaran manis dari Allah kepada saja yang ingin hatinya bersih. Allah tahu kita tidak selalu memapu menjaga konsistensi. Maka Dia ciptakan hari-hari seperti ini, sebagai jembatan.
“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (QS. Thaha: 82)
Maka jangan tunggu hati bersih untuk Kembali kepada-Nya. Justru kembalilah, agar hati dibersihkan. Izinkan Asyura ini menjadi saksi, bahwa kita tak ingin terus seperti ini. Bahwa meskipun Langkah kita berat, tapi hati kita masih ingin pulang. Bahwa meskipun hidup ini terlalu banyak luka dan tawa palsu, tapi kita masih percaya: Allah itu dekat. Sangat dekat.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah): sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Biarlah 10 Muharram menjadi lebaran awal.
Bukan hanya awal tahun Hijriah. Tapi awal kehidupan yang baru, yang lebih ringan, lebih jujur, lebih dekat pada yang menciptakan kita.
Karena siapa tahu, di saat kita benar-benar jujur dalam satu hal lain, Allah membuka pintu yang selama ini kita kira telah tertutup.
Dan siapa tahu, di balik satu hal ini, tersimpan rahmat yang menyelamatkan bukan hanya hidup kita di dunia, tetapi juga di akhirat.[]
Reporter : Nurul Azkia
Editor : Alya Ulfa
