Atlet UIN Ar-Raniry Raih 41 Medali POMDA di Tengah Efisiensi Kampus, Ini Kata Mereka

Sumberpost.com | Banda Aceh – Ditengah maraknya pemangkasan anggaran untuk kegiatan mahasiswa, Kontingen Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry menorehkan prestasi gemilang pada kompetisi Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (POMDA) Aceh XIX yang berlangsung di Universitas Teuku Umar (UTU) pada11–18 Juni 2025 yang lalu, Banda Aceh, Minggu (29/06/2025).

Dari 59 atlet yang diturunkan pada 10 cabang olahraga, UIN Ar-Raniry berhasil mengumpulkan 41 medali. terdiri atas 7 medali emas, 14 perak, dan 20 perunggu. Hal ini menempatkan UIN Ar-Raniry di posisi keempat dari 39 perguruan tinggi yang menjadi peserta.

Muhammad Wildan Mukhalladun, mahasiswa Program Studi (Prodi) teknologi informasi (TI) berhasil menyabet 4 medali emas pada cabang panahan compound putra.

Ia menyebutkan pecapaianya pada POMDA kali ini tidak terlepas dari dana pribadi yang keluarkan, terlebih lagi untuk alat.

Menurut pernyataan Wildan, atlet hanya mendapat fasilitas berupa transportasi, makan, penginapan, dan uang saku sebesar Rp 200.000 dari kampus. Meskipun demikian, masih banyak biaya latihan dan keperluan alat yang ditanggung pribadi oleh atlet.

Untuk pembiayaan POMDA, dana Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) turut menyokong kebutuhan atlet. Namun, UKM yang Wildan tekuni yakni panahan digabung dengan 2 UKM lain menjadi satu dana amprahan. Hal ini kemudian membuat dana tersebut harus dibagi untuk atlet dari 3 cabang olahraga sekaligus.

Isu efisiensi kampus tak melemahkan tekad atlet untuk tampil di POMDA lantaran mengincar tiket emas pada Pekan Olah Raga Nasional (POMNAS) kedepan. Bahkan sebelum kampus mengumumkan akan menanggung beberapa kebutuhan selama POMDA, wildan sudah bertekad untuk ikut secara pribadi untuk bertanding.

Setelah berhasil menyabet 4 medali emas, Wildan berharap kampus memperhatikan kebutuhan para atlet yang berjuang demi membawa nama kampus. Terlebih lagi ia akan menghadapi persiapan POMNAS.

“Harapan terbesar sebenarnya berharap dari kampus agar menyediakan bonus guna menutupi uang alat-alat yang saya pinjam dari pelatih, atau tidak sekurang-kurangnya diganti ke pengurangan UKT saja. karna UKT saya tergolong tinggi juga yaitu di Rp. 5.235.000,” ujarnya.

Kebijakan efesiensi kampus membuat atlet tidak hanya memikirkan kesiapan fisik untuk pertandingan, melainkan dana dengan jumlah yang besar untuk persiapan. Ditambah lagi dengan biaya uang kuliah tunggal (UKT) yang harus dibayar tiap semester.

“Sekiranya tiap semester harus membayar segitu ditambah lagi perlengkapan latihan yg bisa berjuta-juta juga rasanya agak sedikit terbeban dan menjadikan saya tidak semangat dalam persiapan POMNAS, karena semakin sering saya latihan, semakin banyak uang yang dikeluarkan untuk memperbaiki alat,” jelasnya.

Sufardi NZ, peraih medali emas cabang taekwondo kelas U-63 putra turut merasakan hal yang sama.

“Keadaan sedang tidak ideal. Banyak hal yang harus di tanggung secara pribadi oleh UKM, contohnya perlengkapan latihan. Kami berangkat, bagi saya bukan soal ada dan tidak ada dana, tapi soal tekad,” ujarnya.

Sejauh ini, Sufardi hanya mendapatkan ucapan terimakasih dan apresiasi berupa piagam dari kampus.

“Medali ini bukan untuk dipuji. Tapi medali ini untuk pembuktian, bahwasanya ditengah keterbatasan, kami bisa berdiri,” pungkasnya.

Prof. Dr. Mursyid, wakil rektor III UIN Ar-Raniry dalam momen kunjungan pusat kegiatan mahasiswa (PKM) pada 24 Juni silam mengatakan sangat mengapresiasi perjuangan para atlet di tengah efisiensi kampus.

Mursyid menyebutkan awalnya para atlet bersedia berangkat dengan dana pribadi. Walaupun pada akhirnya ada sebagian kebutuhan yang ditanggung oleh kampus.

“dari 59 atlet yang berangkat, kita bawa pulang 41 medali. Atlet kita benar-benar petarung meski di tengah efisiensi,” pungkasnya.[]

Reporter : Rauzatul Jannah

Editor : Alya Ulfa