Overthink Bisa Membunuh Kebahagiaan, Begini Penjelasannya!
Sumberpost.com | Banda Aceh – Overthinking itu adalah proses berpikir berlebihan yang terus-menerus terhadap suatu hal, baik itu masalah, keputusan, atau kemungkinan yang belum tentu terjadi. Orang yang overthinking cenderung memikirkan sesuatu secara mendalam sehingga membuatnya merasa cemas, ragu, atau bahkan tidak bisa mengambil tindakan. Lalu mengapa overthingking ini bisa membunuh kebahagiaan?
- Menciptakan Lingkaran Negatif Pikiran dan Suasana Hati
Penelitian menunjukkan bahwa overthinking memicu siklus di mana pikiran negatif menyebabkan suasana hati memburuk, dan suasana hati yang buruk kemudian memperkuat pikiran negatif tersebut. Siklus ini membuat seseorang sulit untuk menikmati momen saat ini dan menghargai hal-hal positif dalam hidupnya. Akibatnya, kebahagiaan menjadi sulit dirasakan karena seseorang terus-menerus terjebak dalam pikiran negatif.
- Memicu dan Memperparah Gangguan Mental
Overthinking sangat berkaitan dengan munculnya gangguan kecemasan dan depresi. Studi oleh Nolen-Hoeksema, Wisco, dan Lyubomirsky (2008) menemukan bahwa rumination (merenung berlebihan) secara signifikan berkontribusi pada timbul dan bertahannya gejala depresi. Sementara penelitian lain oleh McLaughlin dkk. (2007) menunjukkan bahwa pola pikir negatif yang berulang seperti kekhawatiran dan rumination meningkatkan risiko kecemasan. (Lihat di https://www.indiatimes.com/lifestyle/mental-health/understanding-relations-between-overthinking-and-mental-health-609434.html?). Hal ini membuat seseorang semakin sulit merasakan kebahagiaan karena pikiran mereka selalu dipenuhi ketakutan dan kekhawatiran.
- Menurunkan Kepuasan Hidup dan Menyabotase Momen Positif
Penelitian terbaru menemukan bahwa orang yang terus-menerus mengevaluasi tingkat kebahagiaannya justru mengalami kepuasan hidup yang lebih rendah dan gejala depresi yang lebih tinggi. Mereka cenderung merasa negatif bahkan terhadap peristiwa positif karena selalu merasa kebahagiaannya kurang atau tidak cukup. (Lihat di https://neurosciencenews.com/happiness-psychology-satisfaction-27514/?, https://greatergood.berkeley.edu/article/item/how_to_stop_overthinking_your_happiness?). Alih-alih menikmati momen, mereka sibuk menilai apakah mereka sudah cukup bahagia, sehingga kebahagiaan yang seharusnya dirasakan malah hilang.
- Menguras Energi Emosional dan Fisik
Overthinking membuat seseorang terus-menerus khawatir dan stres, yang pada akhirnya menguras energi emosional dan fisik. Hal ini dapat menyebabkan masalah kesehatan fisik seperti gangguan tidur, gangguan makan, hingga meningkatkan risiko penyakit jantung. (Lihat di https://lifearchitekture.com/blogs/well-being/overthinking-kills-your-happiness?). Ketika tubuh dan pikiran lelah, kebahagiaan pun semakin sulit dirasakan.
- Mengganggu Fungsi Kognitif dan Pengambilan Keputusan
Berpikir berlebihan menguras kapasitas kognitif otak, sehingga kemampuan untuk membuat keputusan, memecahkan masalah, dan berfungsi secara efektif menurun. Akibatnya, seseorang menjadi lebih mudah frustrasi dan kehilangan kepercayaan diri, yang semuanya berdampak negatif pada kebahagiaan. (Lihat di https://www.emirresearch.com/overthinking-kills-happiness-and-shortens-your-life/?).
- Menyebabkan Ketidakpuasan Terhadap Diri Sendiri
Seseorang yang terlalu sering menilai kebahagiaannya sendiri cenderung merasa tidak pernah cukup bahagia dan selalu membandingkan dirinya dengan orang lain. Hal ini menciptakan rasa kecewa dan ketidakpuasan yang berkelanjutan.
Cara terbaik untuk melawan overthingking adalah dengan menyadari pola pikir tersebut, menuliskannya, mengalihkan pada hal yang positif, melatih pernapasan, berpikir realistis, mendekatkan diri kepada tuhan, serta berbincang dengan orang yang sudah di percaya.
Fokus pada hari ini, dan tidak terlalu keras dalam menilai, prinsip ini bisa di terapkan dan menjadikannya sebagai pegangan dalam kehidupan.[]
Reporter : Miftahul Jannah
Editor : Alya Ulfa
