Menelusuri Jejak Sejarah dan Makna Bubur Asyura di Nusantara
Sumberpost.com | Banda Aceh – Bubur Asyura merupakan sajian khas yang dibuat secara bersama oleh masyarakat Muslim untuk memperingati tanggal 10 Muharram, hari yang juga dikenal sebagai Hari Asyura. Tradisi ini tersebar luas di berbagai daerah di Indonesia seperti Aceh, Sumatera Barat, Jawa, hingga Sulawesi, dengan bahan dan rasa yang disesuaikan dengan kearifan lokal.
Sejarah dan asal usul bubur asyura
Tradisi ini memiliki akar yang dalam kisah Nabi Nuh AS. Setelah bahtera mendarat di sebuah gunung pada tanggal 10 Muharram. Saat itu, persediaan makanan mereka sudah sangat menipis. Maka, Nabi Nuh pun meminta para pengikutnya untuk mengumpulkan sisa-sisa bahan makanan yang masih ada di kapal. Berbagai macam bahan dikumpulkan: gandum, kacang-kacangan, jagung, beras, biji-bijian, dan umbi-umbian. Semua bahan itu kemudian dimasak bersama dalam satu kuali besar. Bubur ini bukan hanya sebagai pengisi perut, tapi juga menjadi simbol rasa syukur atas keselamatan mereka dari azab dan bencana. (Lihat di : https://www.detik.com/jatim/kuliner/d-7440856/tradisi-10-muharram-di-jawa-masak-bubur-asyura-ini-sejarah-dan-maknanya)
Makna dan pesan bubur asyura
- Rasa syukur : Tradisi ini bisa menjadi rasa syukur dan terimakasih kita kepada tuhan atas keselamatan dan nikmatnya.
- Kebersamaan & gotong royong : Tradisi ini dijalankan bersama-sama sehingga dapat mempererat silaturahmi dan rasa solidaritas kita.
- Filantropi yaitu berbagi bantuan dengan sukarela : Hasil masakan bubur bisa dibagikan secara gratis untuk kalangan kurang mampu, anak yatim, fakir, dan tetangga.
- Nilai budaya lokal : Bubur asyura diwariskan lintas generasi dengan cara yang khas di setiap daerah, mengandung nilai pendidikan budaya terutama bagi anak-anak yang diajak ikut serta dalam tradisi ini, serta menjaga kekayaan kuliner tradisional sebagai cermin keberagaman Indonesia.
Resep bubur asyura nusantara
Berikut resep bubur asyura yang dikutip dari (https://cookpad.com/id/resep/16394845):
- Bahan umum
-1 liter beras, dicuci dan direndam
-1liter santan cair + santan kental
-Air dan/atau kaldu ayam secukupnya
-Daun salam, serai, lengkuas sebagai rempah
-Garam, gula, penyedap secukupnya - Tambahan Sayur & Umbi ( bervariasi menurut daerah):
- -Wortel, labu kuning, ubi jalar
- -Bayam, kangkung, jagung manis
- -Kacang hijau, kacang tanah, kacang kedelai, kacang panjang
• Bumbu halus:
-Bawang merah & bawang putih, kemiri, ketumbar, jinten, kunyit, jahe, pala, merica.
• Pelengkap (sesuai selera):
-Telur rebus atau telur dadar suwir
-Abon sapi / opor ayam / ayam suir
-Bawang goreng, seledri/daun bawang
-Sambal goreng tempe, emping/kerupuk
Langkah Pembuatan:
1. Rendam beras semalaman, lalu buang airnya
2. Didihkan air/kaldu, masukkan beras, daun salam, serai, dan lengkuas; masak hingga setengah menjadi bubur
3. Tambahkan santan cair, kemudian santan kental; aduk agar tidak pecah
4. Masukkan bumbu halus bersama sayur/umbi (wortel, labu, ubi, jagung, bayam, kacang-kacangan); masak hingga semua bahan lunak
5. Tambahkan ayam/kaldu jika digunakan; koreksi rasa dengan garam, gula, dan penyedap
6. Aduk terus pelan agar bubur menyatu dan teksturnya kental. Pastikan tidak gosong
7. Sajikan hangat bersama pelengkap sesuai selera (telur, ayam suir, bawang goreng, dll.)
Jenis-jenis bubur asyura di wilayah nusantara
1. Aceh
Dikenal sebagai Kanji Asyura atau Ie Bu Kanji. Dibuat dari tepung kanji/pati, santan, jagung, ubi, pisang, nangka, kacang-kacangan, dengan rempah seperti daun pandan dan Prosesnya dilakukan gotong royong, umumnya di balai desa; hasilnya dibagikan dalam kemasan plastik ke semua warga (lihat di : https://www.dompetdhuafa.org/menilik-tradisi-kanduri-kanji-asyura-ala-dompet-dhuafa-cabang-aceh)
2. Sulawesi Selatan (Makassar, Maros, Bone)
Disebut Peca’ Sura (di Maros/Pangkep) atau Jepe’ Sura (oleh warga Makassar). Bahannya: beras + santan, dihiasi lauk seperti daging ikan bandeng, abon kelapa, mi goreng, telur dadar warna-warni, kacang goreng, udang goreng (lihat di: https://sulsel.idntimes.com/news/sulawesi-selatan/ini-dia-kuliner-khas-pelengkap-tradisi-muharam-bugis-makassar-)
3. Kalimantan Selatan (Banjar/Banjarmasin)
Dikenal sebagai Bubur Asyura Banjar. Biasanya ikut wortel, jagung manis, kentang, kangkung, pucuk waluh, serta ceker ayam.Dibuat secara komunal di masjid, didoakan, dan dibagikan secara gratis (lihat di:https://www.kompas.com/food/read/2020/08/29/213308975/mengenal-bubur-asyura-khas-banjar-yang-muncul-setiap-10-muharram)
4. Riau (siak)
Tradisi sedekah bubur asyura dimulai pada masa Kesultanan Siak ke-11 dan dilanjutkan masa Sultan Siak ke-12. Bubur asyura juga menjadi hidangan yang disajikan sebagai makanan berbuka puasa bagi sultan-sultan yang melaksanakan ibadah puasa sunnah 10 Muharam.
Pemerintah daerah biasanya membuat acara sedekah bubur asyura di istana Siak, yang diadakan pada tanggal 10 muharram setiap tahunnya. (Lihat di : https://www.kompas.com/tren/read/2024/07/16/144500065/mengenal-tradisi-bubur-asyura-yang-muncul-setiap-10-muharam)
5. Jawa Barat (Garut, Tasikmalaya) & Madura
Disebut Bubur Suro (Jabar) atau Tajin Sora (Madura).Bahan sederhana: beras, kacang-kacangan, santan, gula merah, kelapa, pisang; dikelola secara gotong royong di masjid atau desa.(lihat di: https://iddb.id/2024/07/26/tradisi-bubur-asyura-di-indonesia-aceh-hingga-jawa)
Tradisi memasak dan membagikan bubur Asyura di bulan Muharram lebih dari sekadar kuliner, ia menyulam nilai keagamaan, sosial, dan budaya dalam wadah kebersamaan dan kasih sayang antarwarga. Tradisi ini terus hidup sebagai refleksi syukur atas kesejahteraan dan lingkungan sosial yang harmonis. Di balik semangkuk bubur tersimpan pesan persaudaraan, gotong royong, dan rasa syukur. Ini dapat menjadi cerminan semangat berbagi dan mempererat ukhuwah di tengah masyarakat. Meski zaman berubah, bubur Asyura tetap menjadi pengikat yang menyatukan rasa dan makna dalam kehidupan umat Islam.[]
Reporter : Huriati
Editor : Alya Ulfa
