Kesaksian Martadinata Haryono Tak Pernah Sampai di PBB, Kini Seluruh Korban Pemerkosaan 1998 Terancam Tidak Mendapat Keadilan
Sumberpost.com | Banda Aceh – Martadinata Haryono atau kerap disapa ita martadinata, korban kekerasan seksual kerusuhan Mei 1998 yang masih menduduki bangku kelas 11 sekolah menengah ke atas (SMA). (03/07/2025)
Ita aktif sebagai relawan yang membantu korban pemerkosaan dan kekerasan seksual dalam kerusuhan Mei 1998.
Mendapatkan dukungan dari komunitas Budha Indonesia dan internasional, Ita Martadinata berencana menceritakan ulang peristiwa yang dialaminya di sidang PBB.
Dilansir dari CXMedia, Kabar keberangkatan Ita ke panggung dunia pun menyebar di masyarakat bersamaan dengan ancaman terhadap para aktivis Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TruK). Mereka pun dengan berani mengadakan konferensi pers terhadap persekusi yang diterima selama ini. Namun ternyata pertemuan di depan media itu adalah puncak dari segala teror. Tiga hari berselang sebelum keberangkatannya ke PBB, Ita ditemukan tewas dibunuh.
Pembunuhan terhadap Ita Martadinata merupakan pesan ancaman kepada korban lainnya yang berani bicara kepada publik. Setelah peristiwa pembunuhan itu, Ita Fatia Nadia (eks Direktur Kalyanamitra), pendamping ita mengatakan banyak korban memilih diam. Pilihan untuk diam, kata dia, masih bertahan hingga sekarang.
Komunitas Budha yang awalnya memberi dukungan, kata dia, akhirnya juga memilih untuk tak mau membicarakan lagi perihal kerusuhan Mei 1998. “Kasus Ita Martadinata adalah pembungkaman secara politik dengan cara yang sangat sadis.”
TIM Relawan mendapat ujian berat. Marthadinata, 18 tahun, tewas secara mengenaskan di rumahnya sendiri, di kawasan Sumurbatu, Jakarta, 9 Oktober 1998. Leher siswa kelas III SMU Paskalis Jakarta itu menganga akibat tebasan senjata tajam. Beberapa tusukan ditemukan di bagian dada, perut, dan ulu hatinya. Tangannya, yang memegang kabel, lecet-lecet. Kamar itu sendiri tak terlihat berantakan. Dalam sekejap, berita tentang pembunuhan ini tersebar luas.
Anggota Tim Relawan berdatangan. Puluhan polisi, termasuk anjing pelacak yang mereka bawa, memeriksa lokasi kejadian. Tampaknya, kasus ini mendapat perhatian penting. Terbukti dari kedatangan Kepala Direktorat Reserse Polda Metro Jaya, Kolonel Gories Mere, ke tempat pengambilan visum korban di bagian forensik Ul, malam itu juga. Tragedi ini membuat syok keluarga Leo Haryono, ayah Ita. Apalagi setelah mereka mendengar hasil autopsi yang disampaikan dr. Munim Idris kepada wartawan.
“Dari hasil tes urine, disimpulkan bahwa korban adalah seorang pemakai narkotik”. Selain itu, katanya, bekas luka yang sudah lama di lubang dubur menunjukkan bahwa Ita sudah sering melakukan hubungan seks anal (sodomi). Bahkan, merujuk dari hasil autopsi itu, Psikolog Sarlito Wirawan menuduh korban adalah pekerja seks.
Tuduhan ini jelas mengagetkan teman-teman Ita Menurut teman baiknya, Emi, korban tidak merokok maupun menggunakan narkotik la pun jarang membicarakan masalah cowok. Hal ini dibenarkan oleh wali kelasnya, Yohanes Bandriyaka, dan ibu korban, Wiwin.
Gadis kurus berkacamata yang gemar berenang ini lebih senang mengurung diri di kamarnya, membaca komik Jepang. Wiwin menduga, aktivitas Ita di Tim Relawan yang menangani korban pemerkosaan akibat kerusuhan Mei lalu sebagai penyebab kematian putrinya.
Alasannya, belakangan ini Wiwin mendapat tawaran dari sesama aktivis Buddha untuk mencari empat korban pemerkosaan yang mau bersaksi di kantor PBB di Amerika Serikat. Kebetulan, Ita bersedia menemani saksi itu. Kesediaan Ita itu, menurut Ita Nadia, seorang aktivis Tim Relawan lainnya, membuat ia termasuk yang terkena teror, sebagaimana yang menimpa aktivis lainnya.
Nadia sependapat dengan Wiwin bahwa pembunuhan ini bagian dari teror terhadap Tim Relawan. Romo Sandy bahkan punya pendapat lain. Menurut dia, ada indikasi, Ita termasuk korban pemerkosaan itu sendiri. Ini terlihat dari begitu giatnya orang tua korban yang semula tak pernah aktif menangani masalah rencana kesaksian tersebut.
Entah ini kebetulan belaka, Sabtu malam itu pembunuh Ita ditangkap polisi. Ternyata, dia adalah tetangga korban, bernama Suryadi alias Bram alias Otong, 22 tahun. Dalam pengakuan Suryadi kepada para wartawan, ia membunuh Ita karena kepergok saat ingin mencuri.
Ignatius Sandyawan Sumardi membentuk Tim Relawan Kemanusiaan untuk Kekerasan terhadap Perempuan (TRKP) untuk mengadvokasi kasus pemerkosaan massal Mei 1998.
Dilansir dari Tempo. Sandyawan menyaksikan mayat Ita terbujur kaku. Ibunya berteriak-teriak histeris. Beberapa menit setelah tiba di rumah Ita, Sandyawan menyaksikan seorang perwira tinggi kepolisian menemui ibu dan kakak perempuan Ita di sebuah kamar. Selama sekitar sejam polisi itu berbicara dengan mereka.
Setelah keluar dari ruangan, perwira polisi itu langsung pergi. Ibu dan kakak Ita tak banyak bicara. Esoknya, polisi mengadakan konferensi pers. Keluarga Ita menyatakan tewasnya remaja itu tak terkait dengan kasus pemerkosaan massal 1998.
Seusai konferensi pers, kakak Ita menelepon Sandyawan.
“Maafkan saya, Romo. Saya tak menyatakan yang sebenarnya karena kami ingin hidup,”
Ita Fatia Nadia, pendamping korban, juga menerima secarik kertas dari kakak Ita Martadinata sesaat seusai konferensi pers. Tertulis di situ, “Maafkan saya”
Menurut laporan tempo menurut kesaksian korban dan pendamping korban, pelaku pemerkosaan massal 1998 memiliki ciri-ciri dan pola yang sama pemerkosaan massal menyasar perempuan tionghoa anak-anak hingga dewasa, dilakukan oleh pemuda betubuh tegap dengan Pola pemerkosaan dilakukan bergerombolan. Beberapa korban memberikan kesaksian pelaku berambut cepak.
Fadli Zon, Menteri Kebudayaan Indonesia mendapat kecaman publik telak. Mulai dari korban, pendamping korban hingga aktivis kemanusiaan 1998 mengecam pernyataan fadli zon yang tidak mengakui pemerkosaan massal 1998 benar terjadi sebagaimana ia katakan saat wawancara bersama pemred IDN times.
“Pemerkosaan massal kata siapa? Enggak pernah ada buktinya. Itu adalah cerita. Kalau ada, tunjukkan. Saya sendiri pernah membantah itu dan mereka (penulis ulang sejarah) tidak bisa membuktikannya,” ujarnya dalam episode Real Talk: Debat Panas!! Fadli Zon vs Uni Lubis Soal Revisi Buku Sejarah.
Ketua Komnas HAM Anis Hidayah mengatakan kasus rudapaksa saat terjadi kerusuhan 1998 merupakan pelanggaran berat hak asasi. Menurutnya, pernyataan Fadli juga melukai rasa keadilan bagi para korban dan penyintas. Jika tragedi pemerkosaan 1998 benar-benar dihapuskan dalam sejarah sesuai dengan arahan dan aktor penulisan sejarah ulang ini, korban-korban tidak akan pernah mendapatkan keadilan. []
Reporter: Rauzatul Jannah
Ilustrator: Syafiatunnazila
Editor: Riska Amelia
