Bukan Langsung Juara, Inilah Perjalanan Syahrial Menggenggam Medali Emas di Tapak Suci

Sumberpost.com | Banda Aceh – Syahrial tak pernah menyangka bahwa perjalanan Tapak Suci yang ia mulai dari bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) akan membawanya sampai ke podium emas Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (POMDA) Aceh XIX tahun 2025.

Mahasiswa Jurusan Hukum Pidana Islam, Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, sekaligus anak bungsu dari tiga bersaudara ini akhirnya mengukir prestasi setelah melewati jalan panjang yang tak selalu mulus. Tapi hanya Syahrial yang tahu betul, kemenangan ini bukan datang dalam semalam.

“Jadi saya pertama kali latihan Tapak Suci itu ketika di kelas 1 SMA di pondok,” kenangnya.

Ia sempat mencicipi dunia pertandingan lewat ajang POSPEDASU 2018, meski saat itu harus menerima hasil diskualifikasi.

“Saya kurang puas untuk hasilnya,” ucapnya jujur.

Dua bulan kemudian, pelatihnya keluar dari pondok. Sejak itu, Syahrial berhenti berlatih hingga ia lulus SMA.Takdir membawanya kembali ke Tapak Suci dengan cara yang sederhana, Ketika dia melihat sebuah video YouTube di kanal UIN Ar-Raniry.

“Setelah tamat SMA saya lihat di YouTube, kalau di UIN ada latihan Tapak Suci. Dari situlah saya daftar UIN Ar-Raniry,” ungkapnya.

Saat Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), ia bertemu dengan anggota Tapak Suci dan mendaftarkan diri ke pengurus. Sejak saat itu, ia kembali ke gelanggang dunia tapak suci.

Latihan yang ia jalani pun tidak ringan. Pada hari Senin, Rabu, Jumat dan Minggu, merupakan jadwal untuk latihan.

“Latihan dimulai dari jam 8 pagi, saya nge-gym dengan alat-alat seperti barbel, pull up, sit up dan sebagainya sampai jam 11. Setelah itu istirahat sampai Zuhur. Lalu saya lanjut latihan di UIN Ar-Raniry jam 3. Biasanya diawali joging sampai Asar, setelah Asar kami latihan tendangan, pukulan, power, split sampai jam 5. Setelah itu baru latihan teknik sampai jam 6,” paparnya.

Namun, bukan berarti semuanya mulus. Pernah juga Syahrial nyaris menyerah.

“Saya bosan latihan tiap hari tapi hasilnya belum ada. Waktu itu saya ikut seleksi Pekan Olahraga Nasional (PON), tapi kurang memuaskan. Di situ saya merasa capek dan sempat berhenti latihan,” akuinya.

Tantangan tak hanya datang dari rasa lelah, tapi juga soal waktu. Saat menjalani Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) di Desa Lampuuk, ia harus pandai membagi antara kegiatan dan latihan.

“Yang paling berat itu pasti waktu, kita sebagai mahasiswa ini pasti ada kegiatan ketika latihan, contoh kemaren waktu saya Training Center (TC) lagi KPM di desa Lampuuk jadi ya gitu saya harus bisa bagi waktu untuk latihan, misal pagi ada kegiatan, siang ada kegiatan, nanti sore saya izin untuk TC latihan di UIN, tapi kadang kalau banyak kegiatan di desa itu saya akan latihan di desa itu.” Ceritanya.

Dalam jalan panjang itu, Syahrial tak berjalan sendirian. Teman-teman satu kontingen dari UIN Ar-Raniry menjadi penyemangat utamanya.

“Yang sudah pasti setia dukung saya itu kawan-kawan kontingen, berkat mereka juga semangat kita di gelanggang bertambah, dan kepercayaan diri kita bertambah,” ungkapnya.

Rasa gugup sempat menghampirinya saat melangkah ke final POMDA Aceh XIX. Lawannya bukan sosok biasa, melainkan atlet yang berulang kali menyabet juara di ajang-ajang besar.

“Terus terang sebelum memasuki gelanggang itu saya merasa waswas, takut juga. Karena lawan saya itu adalah orang yang sering juara di Aceh, tapi ketika saya sudah masuk gelanggang dan berjabat tangan dengan dia, rasa takut yang saya rasakan tadi seketika hilang,” pungkasnya.

Laga berlangsung sengit. Saat namanya diumumkan sebagai pemenang, penonton bersorak dan para pendukung langsung bertepuk tangan meriah.

“Ketika di umumkan menang yang terlintas pasti rasa syukur kepada Allah, terbayang latihan-latihan dulu, jadi terharu saja rasanya,” katanya.

Baginya, Tapak Suci bukan hanya seni bela diri. Ia adalah jalan perubahan.

“Dulu waktu SMA saya introvert, suka menyendiri, dan juga badan saya tidak seideal ini. Semenjak saya latihan, badan saya sudah ideal, lalu rasa kepercayaan diri saya meningkat. Alhamdulillah Tapak Suci itu sudah bagian dari hobi saya,” ujarnya.

Dia sangat percaya kekuatan doa punya peran besar dalam setiap langkah hidupnya.

“Kalau masalah doa itu saya percaya. Karena doa itu adalah senjata bagi orang mukmin. Karena saya merasa juga doa-doa itu alhamdulillah Allah kabulkan satu per satu,” ungkapnya.

Syahrial belum selesai sampai disini. Ia masih mempunyai mimpi besar ke depan.

“Insya Allah saya akan berusaha mendapatkan medali emas di POMNAS dan melanjutkan di POM ASEAN. Insya Allah kalau memang rezeki,” ucapnya mantap.

Jika suatu hari ia menjadi pelatih, ia tahu apa yang ingin ia wariskan.

“Hal yang akan saya wariskan pasti keilmuan, teknik segala macam, dan juga kedisiplinan yang saya dapatkan ketika saya berlatih dengan pelatih saya,” ungkapnya.

Untuk anak muda lain yang sedang berjuang, ia ingin menyampaikan satu pesan.

“Jangan pernah minder. Karena Allah sangat menyukai orang-orang yang mau berjuang. Dan Allah itu tidak akan merubah suatu kaum kecuali kaum itu yang merubah diri-nya sendiri,” tutupnya.

Bukan langsung juara—itulah perjalanan Syahrial. Ia jatuh, berhenti, lalu bangkit. Bukan karena tak pernah lelah, tapi karena selalu percaya bahwa setiap keringat dan doa tak pernah sia-sia. []

Reporter: Nurul Azkia

Editor: Riska Amelia