20 Tahun Pasca Perdamaian Aceh, UIN Ar-Raniry Gelar Diskusi Publik

Sumberpost.com | Banda Aceh — Mengenang peringatan 20 tahun perdamaian Aceh pasca perjanjian MoU Helsinki, UIN Ar-Raniry menggelar diskusi publik bertema “Refleksi 20 Tahun Damai Aceh: Menavigasi Tantangan, Mengawal Otonomi, dan Merumuskan Masa Depan”. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Teater Museum UIN Ar-Raniry pada Selasa pagi. (12/08/2025)

Kegiatan yang dibuka untuk umum dan dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari akademisi, pimpinan ormas pegiat HAM dan perdamaian, hingga mahasiswa turut serta dalam diskusi ini.

Diskusi publik ini menghadirkan sejumlah narasumber dan tokoh penting, di antaranya Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag sebagai pemantik, Prof. Dr. Husni Jalil, SH., MH (Tim Revisi UUPA 2025), Mawardi Ismail, SH., MH (Tim yang membantu DPRD Aceh dalam merumuskan UUPA 2006), serta Munawar Liza Zainal (Anggota Tim Perunding GAM di Helsinki 2005).

Membuka acara, Prof. Mujiburrahman sebagai pemantik, mengatakan bahwa perjalanan dua dekade damai Aceh adalah pencapaian yang patut disyukuri.

“Dua dekade itu bukan waktu yang singkat, katakanlah waktu yang panjang. Dalam lingkup struktur dan budaya Aceh, telah teruji bahwa selama 20 tahun ini perdamaian begitu terpatri dalam jiwa, ruh, pemikiran, dan amaliah orang Aceh hingga hari ini,” ujarnya.

Dalam paparannya, Prof. Mujiburrahman menyampaikan bahwa perdamaian dapat terus terjaga jika dimaknai melalui tiga hal penting: transformasi damai dari tataran ideologi, ke logos, dan kemudian ethos.

Secara ideologi, masyarakat Aceh yang mayoritas muslim memahami bahwa Islam selalu menganjurkan perdamaian, bukan hanya antar-manusia, tetapi juga dalam hubungan dengan Tuhan dan dengan alam.

“Perdamaian ini bisa kita kerahkan secara baik karena ada tiga hal yang kita maknai selalu, dari ideologi turun kepada logos, lalu ethos,” terangnya.

Ia menjelaskan bahwa logos dapat diwujudkan melalui forum seperti seminar dan diskusi publik, yang menjadi wadah untuk mencermati, berdiskusi, dan melahirkan paradigma baru bagi generasi muda agar mereka memahami bahwa konflik membawa penderitaan di berbagai aspek kehidupan.

“Seminar yang kita lakukan hari ini akan mencermati dan berdiskusi agar lahir pemahaman bagi generasi milenial kita tentang bagaimana konflik itu menyengsarakan seluruh aspek kehidupan bangsa dan negara,” tambahnya.

Selanjutnya, nilai-nilai tersebut perlu diwujudkan menjadi ethos atau perilaku nyata. Konsep damai, kata Prof. Mujiburrahman, harus dirajut, dikembangkan, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam berbangsa, bernegara, bermasyarakat, bertetangga, maupun berkeluarga.

Diskusi ini juga membahas bagaimana awal mula konflik sampai terjadinya perjanjian MoU Helsinki, capaian dan tantangan yang dihadapi Aceh dalam dua dekade terakhir sejak penandatanganan MoU Helsinki, sekaligus menegaskan pentingnya pengawalan pelaksanaan UUPA, penguatan otonomi daerah, serta strategi keberlanjutan untuk perdamaian di masa depan.[]

Reporter : Nurul Azkia

Editor : Aininadhirah