Batal ke Aceh, Jusuf Kalla Pidato dan Terima Penghargaan Perdamaian UIN Ar-Raniry Secara Daring
Sumberpost.com | Banda Aceh – Mantan Wakil Presiden Ke-10 dan ke-12 Dr. (H.C) Drs. H. M. Jusuf Kalla (JK) menjadi salah satu tokoh yang menerima penghargaan batal menghadiri secara langsung acara Pidato Perdamaian Penyerahan Penghargaan Ar-Raniry kepada Tokoh Perdamaian Aceh di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, dikarenakan terjadi kerusakan di pesawat. Kamis, (14/08/2025).
“Saya minta maaf karena tidak bisa hadir langsung pada acara ini, tadi pagi jam 6 pagi sudah terbang dari Jakarta, 10 menit kemudian ada masalah di pesawat, mesin pesawat dimasuki burung, jadi harus kembali. Kita pikir bisa diatasi 20 atau 30 menit, dan ternyata harus ke bengkel dulu untuk diperbaiki hal tersebut.” kata JK dalam acara tersebut secara daring.
Dalam pidatonya melalui Zoom Meeting, Jusuf Kalla menegaskan bahwa sebagian besar dari 15 konflik besar yang pernah terjadi di Indonesia disebabkan oleh ketidakadilan, baik di bidang politik, ekonomi, maupun sosial. Kondisi ini, menurutnya, membuat masyarakat Aceh tidak merasakan manfaat kekayaan daerahnya secara adil dan menjadi salah satu pemicu konflik yang berlangsung hampir tiga dekade.
“Aceh sangat kaya dengan gas dan minyak, namun sesuai undang-undang kita daerah hanya mendapatkan 15%, kemudian selebihnya ke pusat. Itulah padahal Aceh sangat kaya tapi masyarakat tidak menikmati kekayaan itu secara benar. Karena itulah konflik yang berlangsung hampir 30 tahun. 30 tahun menyebabkan korban yang besar,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa penyelesaian konflik membutuhkan langkah yang tepat dan mempertimbangkan kehormatan semua pihak. Ia menyoroti bahwa sebagian besar konflik di Indonesia lebih sering diselesaikan melalui operasi militer ketimbang dialog, termasuk di Aceh yang awalnya juga mengalami hal serupa sebelum akhirnya dibawa ke meja perundingan. Menurutnya, bencana tsunami pada 2004 menjadi momentum yang mempercepat perdamaian.
“Maka konflik itu kita harus selesaikan dengan baik, emang tidak banyak yang diselesaikan dengan dialog, dan 15 itu 13 nya diselesaikan dengan operasi militer. Di Aceh tentu awalnya diselesaikan dengan operasi militer kemudian baru ada dialog dan dasar dialog itu kehormatan bagi semua pihak. Kita menjaga itu supaya seimbang di negara, kehormatan bagi seluruh rakyat. Itulah dasar kita melakukan itu. Memang tidak mudah, Tsunami mempercepat keinginan ini, tsunami 2004 tentu keinginan kita semua ada dua hal, rekonstruksi dan menjamin kehidupan masyarakat yang baik, kemudian juga rekonstruksi kembali, tidak ada jalan lain selain menjalankan perdamaian dulu, kedamaian dulu baru kita memperbaiki situasi tersebut. Itulah mempercepat,” jelasnya.
JK juga mengajak seluruh pihak untuk menatap masa depan Aceh dengan optimisme. Ia menekankan bahwa tujuan akhir dari perdamaian adalah mewujudkan kesejahteraan dan kemajuan daerah, bukan hanya mengenang masa lalu. Menurutnya, universitas memiliki peran penting sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai sosial yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Namun kita tujuan akhir dari suatu upaya yaitu kesejahteraan masyarakat kemajuan daerah. Setelah 20 tahun kita membicarakan tentang perdamaian ini marilah di tahun-tahun yang akan datang kita move on bergerak ke depan. Universitas fungsinya ialah hasil ke depan. Teknologi ilmu pengetahuan sosial agama tentu untuk kesejahteraan masyarakat. Universitas tentunya bukan museum yang hasil ke belakang marilah kita lihat ke depan mulai tahun ini kita selalu berupaya untuk melihat Aceh ke depan,” pungkasnya.[]
Reporter: Riska Amelia
Editor: Aininadhirah
