sejumlah tokoh perdamaian Aceh menerima penghargaan dari UIN Ar-Raniry/Riska Amelia (14/08/2025).
sejumlah tokoh perdamaian Aceh menerima penghargaan dari UIN Ar-Raniry/Riska Ameli (14/08/2025).

Peringati 20 Tahun Perdamaian Aceh, UIN Ar-Raniry Anugerahkan Penghargaan kepada Tokoh Perdamaian

Sumberpost.com | Banda Aceh – Dalam rangka memperingati dua dekade perdamaian Aceh, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry menyelenggarakan Pidato Perdamaian Penyerahan Penghargaan Ar-Raniry kepada Tokoh Perdamaian Aceh, 20 Year of Peace in Aceh. Acara tersebut turut menghadirkan sejumlah tokoh-tokoh perdamaian Aceh untuk menerima penghargaan. Berlangsung di Museum Teater UIN Ar-Raniry pada Kamis pagi, (14/08/2025).

Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Mujiburrahman, dalam sambutannya menyampaikan bahwa perdamaian Aceh adalah hasil dari perjalanan panjang yang melibatkan pengorbanan, kebijaksanaan, dan kesabaran banyak pihak. Ia juga menyoroti peran penting Jusuf Kalla sebagai tokoh kunci yang memegang peranan strategis dalam proses perundingan. Sebagai bentuk penghargaan atas jasa para tokoh tersebut, UIN Ar-Raniry menganugerahkan penghargaan kepada para tokoh.

“Perdamaian ini adalah anugerah yang patut kita syukuri dan kita jaga bersama, ia bukanlah hadiah yang datang tiba-tiba, melainkan hasil dari proses Panjang penuh pengorbanan, kebijaksanaan dan kesabaran para tokoh, pimpinan dan seluruh elemen Masyarakat. Bapak Jusuf Kalla merupakan satu tokoh kunci yang memiliki peran krusial dan strategis dalam mewujudkan perdamaian dan perundingan di Aceh. Oleh karena itu UIN Ar-Raniry memberikan penghargaan kepada para tokoh perdamaian Aceh sebagai wujud apresiasi atas dedikasi mereka dalam merawat perdamaian,” ujarnya.

Adapun penerima penghargaan sejumlah tokoh-tokoh perdamaian Aceh dari UIN Ar Raniry yaitu Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12, M. Jusuf Kalla, Wali Nanggroe Aceh dan Ketua Juru Runding Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki Malik Mahmud Al-Haythar, Gubernur Aceh Muzakir Manaf, Ketua Juru Runding RI di Helsinki dan Mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI dan Mantan Duta Besar Indonesia untuk Rusia 2008 Prof Hamid Awaluddin, Negosiator dari Finlandia yang memainkan peran penting dalam perdamaian Aceh Mr Juha Christensen, Anggota Tim Perunding RI di Helsinki dan Tokoh Aceh Jakarta Sofyan A Djalil, Anggota Tim Perunding GAM di Helsinki Nur Djuli, Zaini Abdullah, Bakhtiar Abdullah, Shadia Marhaban, Teuku Hadi dan Nurdin Abdurrahman.

Selanjutnya Kepala Perwakilan GAM untuk Aceh Monitoring Mission (AMM) dan Mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, Zakaria Saman, Tengku Nasruddin Bin Ahmad, Perunding GAM CoHA, Teuku Kamaruzzaman, Amni Ahmad Marzuki, Anggota Tim Perunding GAM di Tokyo Cut Farah Meutia dan Erwanto. Kemudian Alm. Tengku Muhammad Usman Lampoh Awe, Alm. Tengku Sofyan Ibrahim Tiba, Tokoh Perempuan Aceh Pejuang Referendum Aceh Almh. Cut Nur Asikin, Alm. Jafar Siddik Hamzah dan Munawar Liza Zainal.

Dalam momentum peringatan dua dekade perdamaian Aceh tersebut, Prof. Mujiburrahman juga menyampaikan makna penyerahan penghargaan kepada para tokoh serta pandangan UIN Ar-Raniry tentang perdamaian Aceh bukan hanya sebagai kondisi tanpa konflik.

“Penghargaan ini memiliki makna sebagai perekat persaudaraan dan sekaligus sebagai wujud terima kasih kami Masyarakat Aceh yang memiliki etika dan perdaban. UIN Ar-Raniry memandang perdamaian bukan hanya sebagai kondisi tanpa konflik, tetapi juga sebagai pondasi lahirnya generasi-generasi cerdas, berakhlak mulia, dan berdaya sains serta mampu merawat dan membumikan perdamaian dalam tataran ideologi, logos dan ethos,” pungkasnya.

“Dua dekade perdamaian memberi kita banyak Pelajaran, 1 bahwa dialog selalu lebih mulia daripada kekerasan, 2 bahwa Pembangunan akan bermakna hanya jika dibangun diatas pondasi keadilan dan persatuan, 3 bahwa generasi muda harus menjadi penjaga estafet perdamaian bukan hanya penikmat hasilnya,” tutupnya.

Reporter: Riska Amelia

Editor: Aininadhirah