Langkah Sunyi Sosok Sultan di Tengah Riuh PBAK UIN Ar-Raniry 2025

Sumberpost.com | Banda Aceh – Hari itu, ribuan Mahasiswa Baru (Maba) 2025 duduk memadati Auditorium Ali Hasyimi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry. Pakaian hitam-putih membalut tubuh mereka, dilengkapi pamflet persegi panjang berisi identitas serta pita warna-warni yang menjadi penanda masing-masing fakultas, Banda Aceh, Senin, (25/08/2025).

Di tengah keramaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), tepat di barisan paling ujung dekat pintu masuk utama, tampak seorang mahasiswa baru duduk termenung. Sesekali ia melepas lalu kembali mengenakan peci berhiaskan pita hijau, tanda fakultasnya. Tatapannya kerap terlempar ke luar, seakan mencari sesuatu di balik pintu kaca.

Dia adalah Sultan Hanif, Maba Program Studi (Prodi) Pendidikan Matematika (PMA), Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Ar-Raniry. Berbeda dengan ribuan temannya yang menyimak suara lantang pembicara di panggung, Sultan tak dapat menangkap satu pun kata. Ia seorang tunarungu, hadir tanpa alat bantu dengar dan tanpa fasilitas penerjemah bahasa isyarat yang bisa menjelaskan kepadanya apa yang sedang disampaikan.

Wajahnya tampak gelisah. Kepalanya sesekali menoleh ke kanan dan kiri, gepalan tangan kanannya menghentak-hentak pelan ke kaki. Sementara beberapa saat jemarinya terkadang menari di atas sebuah ponsel bercasing hijau yang diletakkan di atas pamflet dan tas. Di balik keheningan itu, ia menyimpan motivasi sederhana namun menyentuh tentang keputusannya memilih UIN Ar-Raniry dan Prodi PMA.

“Kamu tak harus sempurna, cukup jadi versi terbaik darimu,” tulisnya pada pamflet identitas.

Saat sesi ice breaking dimulai, Sultan hanya menebak-nebak gerakan dengan melirik ke arah teman di sampingnya. Ketika auditorium bergemuruh oleh teriakan Maba menyuarakan fakultasnya, ia tetap diam. Semua riuh itu baginya hanyalah sunyi.

Hari kedua PBAK, giliran kegiatan bersama fakultas masing-masing. Menjelang tengah hari, Maba PMA berkumpul di depan gedung prodi bersiap melakukan tour berkeliling Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Kala akan bersiap tour, kelompok Hanif dengan lantang menyuarakan cucoe Ar-Raniry, tapi ia hanya diam sunyi dan bertepuk tangan saat melirik teman-temannya bertepuk tangan.

Saat jam istirahat, ia duduk bersama teman kelompoknya. Seorang wartawan Sumberpost UIN Ar-Raniry menghampirinya dan bertanya lewat tulisan, “Bagaimana perasaan kamu selama dua hari di UIN ini?”

Awalnya Sultan sulit memahami maksud pertanyaan itu. Ia harus menerjemahkannya dulu ke bahasa isyarat melalui aplikasi Hear Me, lalu memperagakan ulang dengan tangannya sesuai yang Ia lihat diaplikasi. Meski begitu, tetap tidak mudah baginya memahami. Beberapa panitia kelompoknya juga turut membantunya untuk memahami. Wartawan itu kemudian memperagakan ekspresi beberapa perasaan, seperti marah, senang, hingga sedih. Namun, saat sampai pada ekspresi sedih, Sultan langsung merespons dengan bahasa isyarat, “Tidak.”

Ia mengepalkan tangannya ke udara dengan gagah, seolah ingin menegaskan satu hal bahwa selama dua hari mengikuti PBAK, Ia bukan merasa sedih, melainkan penuh semangat.

Bagi Sultan, keterbatasan bukanlah halangan untuk menempuh pendidikan tinggi. Ia datang dengan keyakinan, bahwa dunia kampus adalah ruang untuk belajar, berproses, dan membuktikan diri. Kisahnya menjadi pengingat bahwa di tengah gegap gempita orientasi mahasiswa baru, ada suara-suara sunyi yang tak terdengar, namun tetap menyala dengan semangat yang sama.[]

Reporter : Riska Amelia

Editor : Alya Ulfa