Euforia Dalam Sunyi Ala Agis
Sumberpost.com | Banda Aceh – Detuman snare drum bertemu dengan dua stik berasal dari bundaran depan tribun Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry siang itu. Gemuruh perpaduan suara Mahasiswa Baru (Maba) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) dinyanyikan, yel-yel dari fakultas yang dikenal dengan biaya paling mahal itu terus diulang di sana. ‘Saintek itu satu!’ (27/08/2025).
Bendera hitam biru bergambar serigala berkibar dari atas lampu bundaran itu, satu orang membawanya ke atas sana. Seluruh Mahasiswa dengan pita hitam di atas kepala bertulis ‘Saintek’ berbaris mengikuti fomasi bundaran. Tangan mereka merangkul satu sama lain.
Seruan seorang koordinator lapangan berhasil menyatukan sorakan orang-orang disana. Namun, semua ini sunyi bagi Agis. Gaduhnya yel-yel pemersatu fakultas tak dapat di dengar olehnya.
Dia Agis Tiana, mahasiswa tunarungu yang berasal dari Program Studi Teknologi Infromasi (TI) UIN Ar-Raniry. Bagi Agis, sunyi bukan berarti tidak menikmati euforia sebagai seorang Maba.
Pandangannya selalu dimaksimalkan untuk membaca situasi. Contohnya, saat teman angkatannya mencoba berkomunikasi beberapa kali dengannya. Disamping itu, senyum tak pernah luntur dari wajah gadis kelahiran Takengon ini.
“Mereka suka dengan bahasa isyaratku dan diminta untuk mengajari mereka,” ujar Agis lewat bahasa isyarat di Cafetaria UIN Ar-Raniry usai penutupan Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK) 2025.
Agis bercerita, di hari itu, ia betukar nomor WhatsApp dengan 9 orang teman yang ia temui saat PBAK. Selama masa orientasi ini, Agis juga sering mendapati hal lucu ketika melihat wajah orang yang baru mengetahui bahwa Agis tuli.
“Mereka bingung, tapi aku jelaskan lewat bahasa isyarat bahwasanya aku tuli,” katanya sambil tertawa kecil sore menjelang Magrib itu.
Tak hanya hal lucu yang Agis dapati, hal yang membuatnya bingung juga menyertai. Bagaimana tidak, ia mendapat link video pengenalan sistem kampus tanpa translete saat zoom tadi pagi. Kacaunya lagi, tidak ada yang membuka kamera saat itu berlangsung. Akhirnya, ia hanya menatap kolom inisial peserta online di sana.
Ide untuk berkuliah di UIN sebenarnya bukan berasal dari gadis kelahiran 2007 ini. Ia mengaku ide ini berasal dari dari ibunya yang mendaftarkan ia untuk kuliah di sini. Hal ini sontak membuat agis terkejut.
Ia sangat ragu untuk melanjutkan pendidikan di lingkungan mahasiswa yang bisa mendengar, berbeda dengan Agis yang hanya bisa mendengar sayup-sayup lewat satu indra pendengaranya.
“Mama bilang disini bagus. Awalnya aku sempat nolak karena kuliahnnya jauh dari kampung dan menghabiskan banyak uang. Tapi mama bilang mama banyak uang. Dia juga percaya kalau Agis pintar dan bisa kuliah disini,” pungkasnya sore itu. []
Reporter: Rauzatul Jannah
Editor: Riska Amelia
