Menyulam Mimpi di Tengah Keterbatasan: Kisah Tazkiatun Nufus
Di balik wajah tenang Tazkiatun Nufus, mahasiswa semester tiga Jurusan Pendidikan Teknologi Informasi (PTI), Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-raniry, tersimpan cerita perjuangan yang tidak mudah. Gadis berusia 19 tahun asal Aceh Besar ini adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Sejak ayahnya meninggal dunia, ibunya yang hanya seorang ibu rumah tangga harus banting tulang untuk membiayai kebutuhan keluarga.
“Perjuangannya sangat panjang dan melelahkan,” tutur Nufus lirih.
Keterbatasan ekonomi menjadi kendala terbesar yang hampir membuatnya menyerah pada mimpinya. Namun, keyakinan untuk terus melangkah membuatnya tetap bertahan di dunia pendidikan.
Jejak Perjuangan
Meski berada dalam keterbatasan, semangat Nufus tidak pernah padam. Ia menyadari bahwa pendidikan adalah jalan untuk memperbaiki kehidupan keluarganya. Rasa sedih kerap datang ketika melihat ibunya bekerja keras demi biaya kuliah.
“Aku sering berandai-andai, andai saja ayah masih ada. Pasti ada yang ngebiayain, ada yang kasih support. Jadi mamak nggak capek banting tulang kayak sekarang,” ucapnya.
Namun, rasa sedih itu perlahan berubah menjadi rasa syukur. Kehadiran beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah menjadi angin segar.
“Alhamdulillah banget, akhirnya beban mamak sedikit berkurang karena adanya KIP Kuliah,” kata Nufus dengan mata berbinar.
Awal Mimpi
Sejak duduk di bangku SMK, Nufus sudah jatuh cinta pada dunia teknologi. Ketertarikannya bermula dari sebuah kegiatan sederhana. Ketika ada mahasiswa KKN dari Universitas Syiah Kuala mengadakan pelatihan ngoding di sekolah, ia memberanikan diri ikut serta. Materi yang diajarkan masih dasar, sekadar menampilkan tulisan hello world di layar. Namun, pengalaman itu membekas dalam hati Nufus.
“Wah, pas banget! Aku juga mau belajar ngoding,” batinnya kala itu.
Sejak saat itu, ia mantap ingin menekuni dunia teknologi. Maka ketika mendaftar UTBK, pilihan jurusan pun langsung tertuju pada Pendidikan Teknologi Informasi.
Antara Realita dan Asa
Di kampus, Nufus tidak terlalu aktif dalam berbagai kegiatan, kecuali organisasi mahasiswa yang sesekali ia ikuti. Baginya, fokus utama saat ini adalah menimba ilmu sebanyak mungkin.
“Impian aku ke depan, pengen jadi web developer sama cyber security,” ungkapnya penuh keyakinan.
Meski kerap merasa kurang beruntung karena kondisi keluarganya, Nufus berusaha mengubah rasa itu menjadi motivasi.
“Kalau nggak ada KIP, mungkin aku nggak bisa kuliah. Jadi aku benar-benar sangat bersyukur,” ujarnya.
Menggenggam Harapan
Bagi Nufus, perjalanan ini bukan hanya tentang dirinya, melainkan juga tentang ibunya. Ia ingin membalas semua jerih payah sang ibu dengan keberhasilan.
“Aku pengen sukses, biar mamak nggak capek lagi cari uang. Aku pengen buktikan kalau semua perjuangan ini nggak sia-sia,” katanya mantap.
Di balik keterbatasan, Nufus menyulam mimpi. Dari Aceh Besar, ia melangkah kecil namun pasti menuju masa depan yang diidamkan. Sebuah perjalanan yang membuktikan bahwa mimpi tetap bisa digapai, meski jalan yang ditempuh penuh rintangan.[]
Reporter : Miftahul Jannah.
Editor : Alya Ulfa.
