Sabar Dan Syukur: Dua Sayap Kesehatan Mental Dalam Islam

Sumberpost.com | Banda Aceh – Dalam hidup yang penuh gejolak, manusia sering kali dihadapkan pada pertanyaan besar bagaiman tetap waras di tengah luka, dan bagaimana tetap rendah hati ditengah limpahan nikmat? Islam yang merupakan agama yang sempurna menyentuh segala aspek kehidupan, dalam agama islam ada dua aspek yang bisa dijadiakan penopang ketenangan jiwa sehingga ketenangan jiwa ini bisa memberikan kesehatan mental yang baik terhadap muslim, Sabar dan Syukur. Keduanya bukan sekadar ajaran moral, tetapi juga makanisme spiritual dan psikologi yang membentuk daya tahan mental seorang muslim, dalam konteks psikologi islam, sabar dan syukur bagaikan dua sayap yang membantu jiwa terbang melampaui rasa sakit dan keterikatan dunia yang membantu jiwa terbang melampaui rasa sakit dan keterikatan dunia, menuju keteguhan hati dan kedamaian batin.


Sabar dalam ajaran islam, lebih dari sekedar bertahan menghadapi penderitaan. Ia adalah kekuatan jiwa untuk menahan diri dari amarah, menunda reaksi impiulsif, dan bertahan dalam ketaatan tanpa keluhan. Dalam Al-Qur’an, sabar dipuji sebagai sifat orang-orang yang dekat dengan Allah, bahkan disebut sebagai salah satu bagian dari keimanan. Dari perspektif psikologi islam, sabar adalah mekanisme penyeimbangan yang memungkinan seseorang menghadapi ujian hidup dengan tenang dan bijaksana. Ia menumbuhkan ketahanan mental, memperkuat makna hidup, dan mengarahkan individu untuk menerima takdir dengan lapang, bukan dengan putus asa.


Dalam perbincangan sering terdengat kata “sabar”. Jika ada seorang yang sedang mengalami musibah, kita akan mengatakan kepadanya “sabar ya, ini ujian yang harus dihadapi.” Ketika saat di hina atau diperlakukan tidak adil, seseorang memilih diam dan tidak membalas dengan kebencian, ia memilih sabar dan menghadap Allah dalam do’a. kita mengatakan kepadanya “sabar, ya, Allah pasti akan membalas perbuatannya kepadamu.” Atau, ketika seorang sedang berduka kita akan mengatakan “innalilahi wa inna ilaihi raji’un. Sabar ya, semoga Allah kuatkan dirimu, hatimu. Ini pasti berat.”


Jadi apakah arti sabar itu? Secara Bahasa, sabar adalah menahan. Dalam aspek fisik, itu berarti menahan penderitaan badan. Dalam aspek psikis berarti menahan dari segala nafsu. Menahan diri dari berkeluh kesah ketika terjadi musibah, juga termasuk dalam prinsip bersabar, kenapa kita perlu menahan diri dari berkeluh kesah, Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar pernah ditanya mengenai berkeluh kesah, lalu dia menjawab, “ucapan yang buruk dan perasangka yang buruk.”


Ubaid bin Umair berkata, “berkeluh kesah bukanlah dengan air mata yang berlinang dan hati yang bersedih, tetapi berkeluh kesah adalah ucapan yang buruk dan prasangka yang buruk.” Menahan lisan dari mengadu, yang dimaksud menahan lisan dari mengadu disini yaitu mengadu kepada selain Allah, hal ini juga termasuk kedalam prinsip sabar, hal ini sama sekali tidak bertentangan dengan sabar, sebagaimana ucapan nabi Yaqub a.s., “sesungguhnnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku”.


Menurut imam Al-Ghazali, sabar adalah kesanggupan mengendalikan diri Ketika hawa nafsu bergejolak atau kemampuan untuk memilih melakukan perintah agama ketika muncul dorongan nafsu, yang dimaksudkan disini, jika menarik diri kita dari perberbuatan dosa, tetapi kita memilih apa yang diridhai oleh Allah SWT, itulah kesabaran.


Adapun hakikat sabar adalah salah satu akhlak mulia yang menghalangi munculnya tindakan yang tidak baik dan tidak memikat. Sabar adalah satu kekuatan jiwa menjadi baik dan tuntas. Hendaklah orang yang menerima musibah mengetahui bahwa dzat yang memberi musibah adalah hakim seadil-adilnya dan maha penyayang di antara penyayang. Dia tidak menurunkan musibah untuk membinasakannya atau menyiksanya, tetapi untuk menguji kesabaran, keridhaan, dan keimanannya. Syukur mengajarkan manusia untuk melihat dengan kacamata yang jernih. Ketika seseorang mampu menyadari bahwa segala sesuatu yang ia miliki adalah karunia, bukan semata hasil kerja kerasnya, maka hatinya menjadi lebih lapang. Ia tidak mudah terjebak dalam perasaan iri, kecewa atau marah terhadap keadaan. Sebaliknya, ia akan cenderung merasa cukup, tenang optimis. Inilah yang membuat syukur menjadi salah satu sayap penting dalam menjaga Kesehatan mental.


Pada akhirnya, sabar dan syukur bukan hanya alat bertahan, tetapi jalan untuk berkembang. Dengan adan keduanya, manusia tidak hanya selamat dari badai kehidupan, tetapi juga tumbuh menjadi peribadi yang lebih kuat. Kesehatan mental bukan hanya bebas dari luka, tetapi mampu menjadikan luka itu sebgai jalan pulang kepada Allah, dengan hati yang tetap tenang dan penuh syukur. Rawatlah sabar dalam setiap luka, dan tumbuhkan Syukur dalam setiap nikmat.[]

Reporter : Miftahul Jannah.

Editor : Alya Ulfa.