“Budaya FOMO dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental Anak Muda”
Sumberpost.com | Banda Aceh – Di era serba digital, istilah FOMO (Fear of Missing Out) bukan lagi sekadar ungkapan populer, tetapi sudah menjadi pengalaman sehari-hari bagi banyak anak muda. Rasa khawatir tertinggal informasi, tak ikut tren, atau absen dari pergaulan tertentu membuat generasi ini sering terjebak dalam tekanan yang tidak ringan.
Kita bisa melihat gejala FOMO dalam rutinitas kecil: terus menerus mengecek Instagram, takut ketinggalan story teman, atau merasa tidak nyaman ketika orang lain berkumpul tanpa kehadiran kita. Media sosial memang menghadirkan kedekatan instan, tetapi di balik itu ia menumbuhkan rasa cemas dan perasaan kurang berharga.
Berbagai penelitian menunjukkan FOMO punya kaitan erat dengan stres, gangguan tidur, hingga gejala depresi. Sebabnya sederhana: anak muda kerap membandingkan kehidupan mereka dengan potongan “versi terbaik” orang lain yang ditampilkan di layar. Perbandingan ini, meski tak adil, sering membuat rasa percaya diri perlahan terkikis.
Tentu, FOMO tidak selalu berkonotasi negatif. Ada kalanya perasaan ingin ikut serta membuat seseorang lebih berani mencoba hal baru, membuka diri, dan memperluas jejaring. Namun, masalah muncul ketika dorongan tersebut berubah menjadi ketergantungan saat harga diri seakan diukur dari seberapa sering kita terlihat mengikuti tren.
Karena itu, penting bagi generasi muda untuk mulai menyadari pola pikir ini. Melakukan digital detox, membatasi waktu online, serta belajar menikmati momen nyata bisa menjadi langkah sederhana untuk menjaga kesehatan mental.
Pada akhirnya, hidup bukanlah kompetisi tentang siapa yang paling ramai muncul di linimasa. Justru, kemampuan untuk hadir sepenuhnya pada diri sendiri dan lingkungan sekitar yang membuat hidup lebih bermakna. Ketinggalan satu tren tidak berarti kehilangan arah sebaliknya, bisa jadi ruang untuk menemukan ketenangan dan kebebasan yang lebih sejati.[]
Reporter : Hurryati.
Editor : Alya Ulfa.
