Lead the Talk Aceh Angkat Isu Kesetaraan Gender
Sumberpost.com | Banda Aceh – Lead The Fest Aceh mengangkat isu kesetaraan gender sebagai tema utama dalam diskusi “Lead the Talk Aceh” yang digelar pada Sabtu (20/09/2025). Kegiatan ini diikuti oleh 20 peserta berusia 18–24 tahun yang telah melalui tahap seleksi.
Ketua Panitia, Alya Najwa, menjelaskan bahwa isu kesetaraan gender dipilih karena masih banyak terjadi miskonsepsi terkait peran laki-laki dan perempuan di masyarakat.
“Target dari acara ini adalah memberi edukasi dan pemahaman kepada peserta, sekaligus membuka ruang diskusi serta berbagilah keresahan,” ujarnya.
Diskusi menghadirkan Bayu Satria, S.Sos., Founder YouthID, sebagai narasumber. Bayu aktif dalam isu pemenuhan hak anak dan kelompok rentan, termasuk perempuan serta penyandang disabilitas. Menurut Alya, meskipun fokus utama Bayu tidak secara khusus pada gender, ia memiliki pengalaman riset dan kemampuan membawakan diskusi secara interaktif sehingga mudah dipahami oleh peserta.
Dalam pemaparannya, Bayu menjelaskan bahwa kesetaraan gender bukan soal siapa yang lebih unggul, melainkan tentang memberikan kesempatan yang sama. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak, kontrol, kesempatan, dan akses yang sama di semua bidang kehidupan,” jelasnya.
Selain sesi diskusi, kegiatan ini juga menghadirkan aktivitas melukis tote bag sebagai media ekspresi peserta. Menurut Alya, kegiatan tersebut menjadi simbol bahwa peserta telah memahami isu yang dibahas.
“Dengan tote bag itu, mereka bisa mengekspresikan hasil karya sebagai tanda pemahaman terkait isu kesetaraan gender,” katanya.
Alya menilai keberhasilan acara dari sisi kuantitatif dan kualitatif. Secara kuantitatif, seluruh 20 peserta yang lolos seleksi hadir penuh. Sementara secara kualitatif, indikatornya adalah keaktifan peserta dalam diskusi.
“Diskusi ini tidak menuntut peserta untuk langsung menyuarakan ke luar, tetapi memberikan bekal pemahaman untuk diri mereka sendiri,” tambahnya.
Salah satu peserta, Nela Putri Ramadhani, mengaku tertarik mengikuti acara karena kombinasi antara topik dan kegiatan kreatif. Menurutnya, isu kesetaraan gender masih sering diabaikan di Aceh karena kuatnya budaya patriarki.
“Diskusi ini membuka pikiran saya bahwa gender adalah peran sosial, sedangkan jenis kelamin bersifat biologis. Perbedaan peran yang selama ini dianggap kewajiban salah satu jenis kelamin ternyata tidak adil,” ungkapnya.
Nela menambahkan, kegiatan ini membuatnya lebih percaya diri menyampaikan pendapat dan berani membela perempuan ketika direndahkan. Ia berharap kegiatan serupa dapat diperluas.
“Harapannya tidak hanya terbatas pada 20 orang, tetapi bisa menjadi seminar agar lebih banyak orang memahami pentingnya kesetaraan gender,” tuturnya.
Alya pun berharap Lead the Talk Aceh dapat mendorong kesadaran generasi muda untuk lebih peduli terhadap isu sosial, khususnya kesetaraan gender.
“Saya ingin peserta maupun panitia sadar bahwa ketidaksetaraan itu nyata dan perlu dibicarakan. Dari hal kecil ini semoga tumbuh semangat untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar,” pungkasnya.[]
Reporter : Faiza Humaira, Rosliani Br Tumangger
Editor : Aininadhirah
