Apakah Mahasiswa Non-Muslim di UIN Ar-Raniry Wajib Mengenakan Hijab? Menjawab Pertanyaan Oknum Dosen
Sumberpost.com | Banda Aceh – Baru-baru ini, salah satu postingan di Instagram Sumberpost yang menampikan konten open recruitment 2025 menuai komentar diskriminatif berisi “Maaf bisa ngga yang non muslim pakai jilbab di area UIN? Malu kami para dosen melihat gini, tingkat sumberpost begini?” tulis akun bernama jawaban tanpa pertanyaan, Rabu, (24/09/2025).
Disisi lain, Transformasi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) membawa perubahan mendasar dalam regulasi dan kebijakan kampus. UIN Ar-Raniry telah menerima mahasiswa non-muslim baik di program sarjana maupun pascasarjana sejak 2014.
Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr Mujiburrahman, M.Ag mengatakan setelah mahasiswa dari berbagai latar belakang diterima, aturan akademik maupun etika berpakaian tetap diberlakukan secara adil. Ia mencontohkan praktik di universitas bertaraf internasional di Malaysia.
“Di sana itu para mahasiswa yang muslim dibuat aturan pakaian standar muslim. Bagaimana mahasiswa yang muslim pakaiannya standar, non muslim kemudian juga di sana tidak diwajibkan mereka memakai jilbab dan sebagainya. Sama seperti kita di UIN Ar-Raniry juga begitu,” tegasnya.
Di UIN Ar-Raniry sendiri, mahasiswa muslim memiliki kebebasan memilih busana sesuai syariat, mulai dari cadar, jilbab, hingga gamis, selama menutup aurat. Sedangkan mahasiswa non-muslim tidak diwajibkan berjilbab, cukup berpakaian sopan.
“Jadi artinya tidak kita ini standar yang pakaiannya dengan catatan menutup aurat. Kemudian demikian dengan non muslim yang tidak harus pakai jilbab, tapi pakaiannya harus sopan,” katanya.
Ia kembali menegaskan bahwa sebagai universitas, lembaga ini tidak lagi membatasi penerimaan mahasiswa berdasarkan agama, melainkan bersifat universal dan inklusif.
“Regulasi setelah perubahan kemenkulator dari IAIN menjadi UIN berubah kebijakan kemenkulator yang di mana IAIN itu Institut yang diberikan kewenangan oleh negara hanya mengelola satu rumpun ilmu keislaman. Begitu UIN Ar-Raniry menjadi universitas, UIN Ar-Raniry ini universitas yang artinya universal, dia tidak ada sekat lagi,” ungkap Rektor.
Menurutnya, ketika masih berstatus IAIN, mahasiswa non-muslim memang memiliki keterbatasan dalam akses pendidikan. Namun setelah menjadi universitas, prinsip inklusivitas menjadi landasan utama.
“Kalau dulu masa IAIN mungkin tidak semua siswa bisa masuk ke IAIN misalnya non muslim dibatasi itu masih boleh karena masih satu rumpun ilmu. Tapi ketika jadi universitas, universitas apapun, misalnya Universitas Islam Negeri, Universitas Hindu, Universitas Kristen universitas itu tidak boleh membatasi siapapun mahasiswa yang kuliah di situ karena sifatnya sudah mencakup universal. Siapapun boleh kuliah di situ,” jelasnya.
Namun, ia tidak menampik masih ada sebagian kecil dosen atau mahasiswa yang belum terbiasa dengan perbedaan tersebut.
“Mungkin bagi dosen kita sebagian yang memang dia pikiran itu sangat terbatas dan sebagainya, itu bagi mahasiswa kita yang tidak terbiasa dengan berteman dengan orang-orang di luar sepemahaman tapi sebenarnya itu tidak menjadi persoalan,” ujarnya.
Ia memastikan pihak kampus siap menindak setiap bentuk diskriminasi.
“Jika ada dosen yang memberatkan, dilaporkan saja biar kita tangani. Selama maksudnya itu pihak Prodi ingatkan dosen itu. Kalau sudah diingat beberapa kali, dosen itu mungkin tidak diberi mata kuliah itu lagi nantinya. Bagi dosen yang diskriminatif akan dilakukan sosialisasi khususnya,” pungkasnya
Rektor menegaskan, universitas akan terus mengedepankan pendekatan edukatif dan sosialisasi agar seluruh civitas akademika memahami makna inklusivitas.
“Ini kan kasusnya sangat individual nanti akan diberi sosialisasi dan pemahaman, dan lambat laun mereka akan paham,” tutupnya. []
Reporter: Rosliani Br Tumangger
Editor: Riska Amelia
