Merangkai Ilmu, Merawat Integritas: Kisah Rahmi Fadhilla di Balik Wisuda Cumlaude

Sumberpost.com | Banda Aceh – Auditorium Ali Hasjmy Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, pada 2 Oktober 2025, menjadi saksi perjalanan panjang Rahmi Fadhilla. Mahasiswi Ilmu Alqur’an dan Tafsir (IAT) itu resmi dikukuhkan sebagai lulusan cumlaude dengan IPK 3.87. Di balik toga yang disematkan, ada kisah perjuangan yang tak hanya tentang kecerdasan, tetapi juga tentang kesungguhan, integritas, serta niat tulus menuntut ilmu karena Allah.

Rahmi adalah anak ketiga dari empat bersaudara, lahir dari pasangan Marhamah seorang guru di MAN dan M. Zain yang kini telah pensiun. Dukungan keluarga menjadi pondasi utamanya. Bukan hanya dari segi finansial, tetapi juga perhatian kakak, abang, dan adiknya yang selalu hadir memberi saran, dorongan, dan semangat.

“Saya merasa sangat didukung. Bahkan teman-teman di kampus pun selalu siap membantu, berdiskusi dengan ikhlas,” ucapnya.

Sejak semester pertama, Rahmi sudah terbiasa mengatur waktu dengan disiplin. Kehadirannya di kelas menjadi prioritas.

“Bagi saya, hadir di majelis ilmu itu keberkahan tersendiri. Penjelasan dosen langsung lebih bermakna, sehingga ketika ujian saya hanya perlu mengulang, bukan mulai dari nol lagi,” tuturnya.

Meski padat dengan kuliah, ia tetap aktif dalam berbagai kegiatan. Rahmi pernah mengikuti forum Qur’an Aplikasi hingga tahap kaderisasi, bergabung dengan Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) Ushuluddin hasil kerja sama Salman Institut Teknologi Bandung (ITB), bahkan menjalani mentoring dalam organisasi Salman ITB.

Prestasi juga ia torehkan di berbagai lomba, seperti Pekan Tilwatil Quran ke-54 tahun 2024 RRI Banda Aceh (Juara 3 tahfidz putri). Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM III) PTKIN se-Sumatra dan se-Asia Tenggara di UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi 2023 Fahmil Quran (Juara 4/harapan 1). Dan terakhir Olimpiade Agama, Sains dan Riset PTKI II se-Indonesia 2023 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Fahmil Quran juara 5/harapan 2). Di luar itu, Rahmi juga mengajar di TPA sejak awal kuliah hingga KKN.

Namun, perjalanan itu bukan tanpa hambatan. Ada kalanya tugas menumpuk hingga membuatnya merasa kewalahan.

“Kuncinya adalah mengatur secara terstruktur. Saya buat to-do list, lalu memilah mana yang mendesak dan mana yang bisa ditunda. Menyerah itu dekat dengan kegagalan, jadi saya selalu ingat niat awal belajar: untuk mencari ridha Allah,” katanya penuh keyakinan.

Niat, Integritas, dan Pandangan tentang Ilmu, Rahmi percaya bahwa IPK tinggi bukanlah tolok ukur utama kesuksesan.

“IPK 3.87 dan predikat cumlaude ini saya anggap hadiah dari Allah, bonus dari-Nya. Kesuksesan sejati itu ada pada keberkahan ilmu,” ujarnya.

Baginya, integritas adalah kunci. “Tidak ada hal baik yang lahir dari proses buruk. Jika kejujuran tidak dijaga, bagaimana mungkin ilmu bisa berkah?” Pesan moral itu ia jalani bukan hanya untuk dirinya, melainkan juga sebagai bekal untuk orang lain.

“Ilmu itu milik Allah. Maka sebelum belajar, mintalah kepada Pemiliknya. Berdoa, minta doa restu orang tua, dan niatkan semata-mata karena Allah,” ucapnya.

Di tengah kesibukan menyelesaikan S1 IAT, Rahmi juga menempuh S1 Bahasa Inggris. Kini, ia sudah berada di semester 7 dan tengah menuntaskan skripsinya. Tentang rencana ke depan, Rahmi memilih fleksibel.

“Saya terbuka untuk melanjutkan S2 atau bekerja. Yang jelas, saya ingin mengikuti apa yang Allah tunjukkan sebagai jalan terbaik,” pungkasnya.

Rahmi terinspirasi dari pesan dosennya di IAT Ustad Kausar Afdhal ismail, Lc., MA., M.Ed.

“Jangan pernah kerdilkan ilmu, tidak ada ilmu kecil maupun besar. Semua harus dipelajari dengan sungguh-sungguh.” Kalimat itu terus terngiang hingga hari ini. Kepada mahasiswa lain, ia menitipkan pesan tiga hal: niatkan semua karena Allah, disiplin serta konsisten, dan jangan pernah meremehkan ilmu sekecil apa pun. Rahmi juga mengingatkan bahwa hidup adalah proses belajar yang tak pernah berhenti, dari berkomunikasi dengan orang tua hingga memahami makna ibadah. Life is always for learning,” tutupnya.

Seperti pesan BJ Habibie yang dikutipnya, sukses bukan milik orang pintar, melainkan milik mereka yang senantiasa berusaha. Bagi Rahmi Fadhilla, usaha itu adalah bentuk syukur dan amanah atas privilege yang Allah titipkan melalui orang tua dan lingkungan yang selalu mendukung. Dan pada hari wisuda itu, semua usaha itu akhirnya terbayar. Bukan sekadar gelar cumlaude, tetapi sebuah perjalanan menjemput ilmu yang penuh makna. []

Reporter: Miftahul Jannah

Editor: Riska Amelia