Sosok Dinar Pratama, Wisudawan Terbaik Program Doktor UIN Ar-Raniry Raih IPK Sempurna
Sumberpost.com | Banda Aceh – Auditorium Ali Hasjmy Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh menjadi saksi prosesi Wisuda Program Doktor, Magister, dan Sarjana Gelombang III Tahun 2025. Berlangsung selama tiga hari yang digelar pada 30 September hingga 2 Oktober.
Dari ratusan lulusan yang diwisudakan, satu nama muncul paling menonjol. Ia adalah Dr. Dinar Pratama, M.Pd, wisudawan Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) program doktor yang berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4.00, satu-satunya capaian tertinggi di antara seluruh wisudawan, baik doktor, magister, maupun sarjana.
Pria Kelahiran Oktober 1987 asal Provinsi Kepulauan Bangka Belitung itu bersyukur dan menyebutkan bahwa prestasi ini bukanlah tujuan utamanya.
“Tentu bersyukur yah. Namun pada prinsipnya, mendapat IPK sempurna bukanlah menjadi tujuan utama. Saya menyadari bahwa, selama menjalani proses perkuliahan mungkin saja ada banyak hal yang perlu saya tingkatkan,” ujarnya melalui pesan WhatsApp.
Dalam perjalanan akademiknya, orang tuanya menjadi kunci utama yang selalu mendukung pendidikan anak-anaknya termasuk dirinya. Ayahnya, Subandrio, seorang pensiunan PNS, dan ibunya, seorang ibu rumah tangga, selalu mendorong anak-anaknya untuk mengutamakan pendidikan. Dukungan itu juga datang dari sang istri, Dian Pratiwi, serta ketiga anaknya yaitu Laras Syua Cadudasa, Kaneishia Lavanya Kinasih, dan Prabu Gyan Ar-Raniry yang menjadi penguatnya selama menyelesaikan studi doktoral.
Awalnya tidak ada motivasi besar yang Dinar siapkan untuk bisa menempuh jenjang doktoral. Namun sebuah kesempatan datang saat ia mendaftar Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) pada 2022 dan dinyatakan lulus.
“Awalnya tidak ada motivasi khusus saya melanjutkan S3. Tapi, saat saya mendaftar beasiswa indonesia bangkit (BIB) Kerjasama Kementerian Agama dan LPDP Kemenkue di 2022 lalu dan dinyatakan lulus saya kemudian menyadari bahwa Allah kasih kesempatan saya untuk bisa studi lanjut. Dari sini motivasi saya kian besar untuk kuliah. Karena tidak semua orang mendapat kesempatan yang sama,” tuturnya.
Di balik capaian akademik yang sempurna, ia mengakui perjalanan meraih gelar doktor tidaklah mudah. Bukan hanya soal tumpukan literatur dan penelitian, tetapi juga keseharian yang menuntutnya berbagi waktu antara studi dan keluarga.
“Selama studi di Banda Aceh, saya bawa Istri dan anak-anak saya. Konsekuensinya saya harus membagi waktu kuliah dan buat keluarga. Apalagi, anak yang terakhir (Prabu Gyan Ar Raniry) lahir di Banda Aceh saat saya sedang dalam masa studi. Namun, seiring berjalan waktu alhamdulillah saya dapat beradaptasi dengan hal tersebut,” ungkapnya.
Mencapai IPK sempurna tentu bukan perkara instan. Ia mengakui ada banyak faktor yang memengaruhi, namun prinsip yang selalu ia pegang adalah menyelesaikan setiap persoalan dan ujian, bukan menghindarinya. Menurutnya, keberhasilan tidak semata ditentukan oleh kemampuan kognitif, melainkan ketahanan mental dalam menghadapi kesulitan.
Strategi belajar yang ia terapkan juga sederhana, tapi konsisten. Ia menuturkan bahwa manajemen waktu menjadi kunci penting dalam menyelesaikan studi.
“Semasa menjalani studi, saya komitmen dengan diri sendiri menginvestasikan waktu minimal 2 jam setiap hari (kecuali Sabtu-Minggu) untuk menyelesaikan kewajiban studi saya. Hal ini saya sampaikan kepada istri dan anak-anak agar dimengerti lebih awal oleh mereka. Alhamdulillah mereka dapat mengerti kondisi ini,” pungkasnya.
Kepada mahasiswa yang masih berjuang, ia berpesan sederhana namun sarat makna.
“Memiliki mimpi dan cita-cita untuk sukses dan berhasil memang penting, namun menguji proses yang kita jalani untuk mencapai mimpi tersebut jauh lebih penting. Karena di sinilah kita mendapat kesadaran akan kemampuan kita, apakah pantas kita mendapat apa yang kita mimpikan tersebut,” pesannya.
Meski sudah meraih gelar doktor dengan IPK sempurna, perjalanannya belum berhenti. Harapan serta tekadnya setelah ini terus meningkatkan kapasitas diri.
“Saya masih terus berupaya untuk meningkatkan kapasitas diri untuk mencari peluang Post Doctoral seperti riset dan membangun jejaring riset nasional maupun internasional,” tutupnya.[]
Reporter : Riska Amelia
Editor : Alya Ulfa
