Kisah Haru Atikah Maulidya, Lulusan Terbaik Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry
Sumberpost.com | Banda Aceh – Siapa sangka, seorang gadis yang sederhana dari Kota Jantho, Aceh Besar itu kini berhasil memperoleh prestasi akademik membanggakan. Namanya Atikah Maulidya Putri, anak bungsu dari dua bersaudara yang baru saja menyelesaikan studinya di Program Studi (Prodi) Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry dengan predikat cumlaude. Lahir di Banda Aceh dan besar di Jantho, Atikah tumbuh dalam keluarga pedagang. Ibunya menjual alat-alat bangunan, sementara ayahnya dulu memiliki usaha kedai kopi sebelum akhirnya ikut membantu berdagang bersama sang ibu.
Sejak kecil, kehidupan Atikah dekat dengan suasana toko, tempat ia belajar arti kerja keras dan keteguhan hati. Namun, jalan Atikah menuju kampus tidaklah mulus. Setelah lulus dari SMK Tata Busana, ia mencoba berbagai jalur masuk perguruan tinggi, mulai dari SNMPTN, SBMPTN, hingga tes masuk di UIN dengan prodi lain semuanya gagal.
“Saat itu rasanya berat, tapi saya tidak ingin menganggur setahun. Akhirnya saya ikut tes mandiri dengan pilihan pertama Psikologi, walaupun awalnya hanya sekadar tertarik karena sering lihat konten tentang psikologi di TikTok,” ujarnya.
Keputusan spontan itu ternyata menjadi titik balik dalam hidupnya. Meski sempat sedikit ragu dengan perbedaan latar belakang pendidikan, Atikah menemukan kenyamanan dalam dunia Psikologi.
“Awalnya saya merasa asing, tapi lama-kelamaan justru saya merasa ini passion saya. Kuliah di psikologi membuat saya lebih mengenal diri sendiri dan belajar menerima hidup dengan lapang dada,” tuturnya.
Tantangan terbesar datang ketika memasuki masa penyusunan skripsi. Berkali-kali judul penelitian yang ia ajukan ditolak. Hampir satu tahun lamanya ia berjuang mencari variabel, teori, dan topik yang tepat, sementara teman-teman dekatnya sudah lebih dulu diterima dan melaju ke tahap seminar proposal.
“Saya sempat merasa tertinggal dan takut sendirian. Judul saya akhirnya baru diterima H-1 sebelum penutupan pendaftaran seminar. Bayangkan, saya harus menyiapkan proposal dalam semalam,” ceritanya.
Momen itu menjadi kenangan pahit sekaligus lucu baginya, karena dari situ ia belajar arti keteguhan dan keyakinan.
“Saya pegang kata-kata: Allah memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Dari situ saya belajar menerima dan bersyukur,” pungkasnya.
Kini, dengan predikat cumlaude yang diraihnya, Atikah membuktikan bahwa kegigihan akan selalu berbuah hasil.
“Bagi saya, pencapaian ini adalah bukti bahwa saya mampu, meskipun sering merasa tidak percaya diri. Yang paling membahagiakan adalah melihat senyum kedua orang tua. Itu yang membuat semua perjuangan terbayar,” tutupnya.[]
Reporter: Irza Aska Amalia
Editor: Riska Amelia
