Saat Dunia Sibuk Merayakan Ibu, Mari Kita Dengarkan Suara Ayah
Sumberpost.com | Banda Aceh – Ketika Hari Ibu tiba, dunia terasa lebih hidup. Media sosial dipenuhi ucapan, puisi, dan foto-foto penuh kehangatan. Bunga dibeli, hadiah dibungkus, dan rasa syukur diucapkan dengan tulus kepada sosok yang melahirkan dan membesarkan kita. Namun, ketika tiba giliran Hari Ayah, suasananya jauh lebih sunyi. Tidak banyak unggahan, tidak banyak kata, bahkan sebagian dari kita mungkin tidak tahu kapan tepatnya hari itu dirayakan. Padahal, di balik kesunyian itu, ada sosok yang tidak kalah penting, yang diam-diam menjadi tiang penyangga kehidupan: seorang ayah.
Ayah bukan hanya pencari nafkah, melainkan juga pendidik, pelindung, dan penenun nilai-nilai kehidupan dalam keluarga. Dalam banyak budaya, figur ayah sering digambarkan tegas dan rasional, sementara kasih sayang dianggap milik ibu. Padahal, cinta seorang ayah memiliki bentuknya sendiri – tidak selalu diucapkan lewat kata-kata, tetapi melalui tindakan yang konsisten. Ia mungkin tidak banyak berkata tentang hal-hal yang manis setiap hari, namun ia menunjukkan kasih itu dengan memastikan setiap kebutuhan keluarga terpenuhi, dengan bekerja keras, dengan hadir walau lelah.
Ketika kita berbicara tentang siapa ayah itu, sebenarnya kita sedang membicarakan sosok yang berlapis makna. Ia bisa seorang kepala keluarga, seorang wali, atau bahkan figur pengganti yang mengasuh anak dengan penuh kasih. Ada ayah yang mengekspresikan cinta melalui kerja, ada pula yang melakukannya lewat waktu yang ia berikan untuk menemani. Dalam setiap bentuknya, ayah tetaplah simbol tanggung jawab, dedikasi, dan cinta yang diam. Namun, ironisnya, di tengah kehidupan modern yang semakin terbuka terhadap ekspresi emosi, suara ayah masih sering tak terdengar. Mungkin karena budaya yang menuntut laki-laki untuk kuat dan tidak rapuh, atau karena dunia tidak terbiasa mendengarkan bentuk kasih sayang yang tidak manis tapi penuh makna.
Momen Hari Ayah Nasional yang diperingati setiap 12 November, tepat hari ini pada tahun 2025 menjadi saat yang tepat untuk kembali menengok peran besar ayah dalam kehidupan kita. Di tengah era digital, ketika banyak nilai keluarga bergeser dan perhatian anak lebih banyak tersita oleh gawai, keberadaan figur ayah yang hangat dan komunikatif menjadi kebutuhan yang mendesak.
Anak-anak tidak hanya butuh kasih ibu, tetapi juga bimbingan dan teladan dari seorang ayah. Dari ayah, mereka belajar tentang tanggung jawab, keteguhan, dan cara menghadapi dunia dengan kepala tegak. Dari ayah pula mereka memahami arti pengorbanan yang dilakukan tanpa banyak bicara.
Peran ayah sejatinya hadir di mana-mana, di meja makan ketika memberi nasihat singkat, di ruang tamu saat memperbaiki sesuatu yang rusak, di halaman rumah ketika mengajari anak bersepeda, atau bahkan di ruang kerja, tempat ia menahan lelah demi masa depan keluarga. Namun, peran ini sering tak terlihat karena begitu melekat dalam keseharian. Kita terbiasa memaknai cinta dalam bentuk pelukan dan kata manis, sehingga lupa bahwa tanggung jawab dan kerja keras juga merupakan bahasa cinta yang sama dalamnya.
Mendengarkan suara ayah bukan sekadar memberi kesempatan baginya untuk berbicara, tetapi juga tentang memberi ruang bagi bentuk kasih yang berbeda. Keluarga yang sehat membutuhkan keseimbangan — antara kelembutan ibu dan ketegasan ayah, antara rasa dan logika, antara pelukan dan prinsip. Ketika salah satu sisi diabaikan, keseimbangan itu rapuh. Maka, sudah saatnya kita mulai memberi ruang untuk mendengar, memahami, dan menghargai suara ayah, suara yang mungkin pelan, namun mengandung makna yang membentuk karakter kita.
Kita bisa memulainya dengan hal-hal sederhana. Ajak ayah berbicara, bukan hanya soal pekerjaan, tapi juga tentang masa lalu, perasaan, dan harapan. Ucapkan terima kasih meski dengan kata singkat, karena bagi seorang ayah, pengakuan sederhana sering berarti besar. Kita juga bisa menulis kisah tentang ayah, mengenang jasanya, dan menceritakan kembali bagaimana kehadirannya membentuk siapa diri kita hari ini.
Sekolah, media, dan lembaga sosial juga memiliki peran penting untuk menampilkan figur ayah sebagai sosok yang lembut sekaligus tangguh, bukan hanya simbol otoritas atau pencari nafkah semata.
Ketika dunia terlalu sibuk merayakan ibu, mari kita sempatkan waktu untuk mendengarkan ayah. Ia mungkin tidak meminta dirayakan, tapi ia layak didengarkan. Suaranya mungkin tak lantang, namun setiap nada dalam diamnya menyimpan makna kasih yang dalam. Hari Ayah bukan tentang pesta atau hadiah, melainkan tentang penghargaan. Tentang kesadaran bahwa cinta seorang ayah tak pernah hilang — hanya sering terlupakan.
Sebab, di balik setiap anak yang tumbuh kuat dan mandiri, selalu ada ayah yang berdiri teguh di belakangnya. Ia mungkin jarang berbicara tentang cinta, tetapi seluruh hidupnya adalah bukti nyata dari cinta itu sendiri.[]
Penulis : Muhammad Fawwaz Syahrial, S.H, alumni Sarja Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry.
