Tim KPM Tematik Fakultas Psikologi di depan kantor Geuchik Gampong Lamgugop

Belajar Lewat Layar, Bukti Bahwa Pengawasan Anak Lebih Penting daripada Pembatasan

Sumberpost.com | Banda Aceh -Di sebuah PAUD di Gampong Lamgugob, Banda Aceh, kami menemukan seorang anak berusia lima tahun bernama Muhammad yang bisa menjelaskan hewan-hewan langka seperti Tasmanian Devil, burung kasuari, ikan pari manta, hingga dinosaurus T-Rex. Ia tidak hanya mengenali nama, tetapi juga menjelaskan ciri, habitat, dan suara hewan-hewan itu dengan percaya diri, Rabu (18/11/2025).

Temuan ini menarik karena pemahaman seperti ini biasanya tidak ditemukan pada anak-anak PAUD, yang umumnya masih belajar mengenali hewan-hewan biasa seperti ayam, kucing, atau sapi. Dari sinilah muncul rasa penasaran kami: bagaimana seorang anak kecil bisa memiliki wawasan seluas itu? Jawabannya ternyata sederhana, media digital.

Menurut teori perkembangan kognitif Jean Piaget, anak usia 4–6 tahun berada pada tahap praoperasional, masa ketika imajinasi dan rasa ingin tahu berkembang pesat. Di tahap ini, anak belajar paling efektif lewat gambar, suara, dan pengalaman konkret. Maka, media seperti YouTube dengan tayangan edukatif bergambar cerah dan suara ekspresif menjadi alat belajar yang sangat kuat.

Hasil observasi kami selama kegiatan KPM menunjukkan bahwa sebagian besar pengetahuan Muhammad berasal dari video edukatif di YouTube. Tayangan bergambar hewan dengan narasi yang menarik membuat informasi yang kompleks menjadi mudah dipahami. Hal ini sesuai dengan teori social learning dari Albert Bandura, yang menjelaskan bahwa anak belajar melalui pengamatan dan peniruan.

Muhammad tidak hanya menonton, tetapi juga menirukan suara hewan dan menjelaskan kembali informasi dengan bahasanya sendiri tanda bahwa proses belajar melalui observasi benar-benar terjadi.

Namun, kecerdasan seperti ini tidak muncul tanpa peran orang tua. Dari wawancara dengan ibunya, diketahui bahwa setiap tontonan Muhammad selalu dipilih dan didampingi. Sang ibu aktif berdiskusi setelah menonton, memastikan anak memahami isi video dan tidak sekadar menghafal.

Pendampingan semacam ini sejalan dengan konsep scaffolding dari Lev Vygotsky bahwa dukungan orang dewasa menjadi tangga bagi anak untuk mencapai kemampuan berpikir di luar jangkauannya sendiri. Selain media digital, buku cerita bergambar juga menjadi bagian dari keseharian Muhammad. Kombinasi antara media digital dan cetak memperkuat proses belajar anak.

Allan Paivio melalui teori dual coding-nya menjelaskan bahwa manusia belajar lebih baik ketika kata dan gambar diolah bersamaan. Ketika Muhammad menonton video lalu membaca buku bergambar dengan topik serupa, informasi itu melekat lebih kuat di memorinya.

Fenomena ini memberi pelajaran penting bagi dunia pendidikan anak usia dini. Guru dan orang tua perlu melihat media digital bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai sarana pembelajaran yang bisa dimanfaatkan secara positif. Kuncinya ada pada pendampingan, pengawasan, dan keseimbangan. Anak-anak perlu diarahkan untuk menonton konten yang sesuai usianya, dengan waktu terbatas, serta diajak melakukan kegiatan reflektif seperti menggambar ulang atau menceritakan kembali isi video.

Kisah Muhammad menunjukkan bahwa literasi digital dini bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dikelola dengan bijak. Anak-anak masa kini tumbuh di dunia yang penuh layar, dan melarang mereka sepenuhnya bukan solusi. Yang lebih penting adalah bagaimana kita hadir untuk menuntun mereka  agar teknologi menjadi jendela dunia, bukan penghalang masa depan.

Penulis: Tim KPM Tematik Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry

  1. Agi Mulia Surbakti
  2. ⁠Azkal Azkia
  3. ⁠Talitha Fatanah
  4. ⁠Sharshara Atiya Yury
  5. ⁠Al Hafiz Hidayat
  6. ⁠Nissa Amalia
  7. ⁠Merryandhil Jannah
  8. ⁠Siti Nafratul Kayla
  9. ⁠Muhammad Ichlas

Editor: Alya Ulfa