Opini: Mengapa Banyak Orang Enggan Memilih Jurusan Ilmu Perpustakaan?
Sumberpost.com | Banda Aceh – Di tengah perkembangan pendidikan tinggi yang semakin beragam, jurusan Ilmu Perpustakaan masih sering dipandang sebelah mata. Banyak calon mahasiswa enggan memilihnya, meskipun perannya sangat penting dalam ekosistem pengetahuan. Fenomena ini tidak terjadi tanpa alasan; ada sejumlah persepsi dan realitas yang membentuk cara pandang masyarakat terhadap bidang ini.
Pertama, stigma lama tentang profesi pustakawan masih melekat kuat. Banyak yang menganggap pekerjaan pustakawan hanya sebatas menjaga buku dan menjaga ketenangan ruangan. Padahal, dunia perpustakaan modern telah berubah jauh—dipenuhi dengan teknologi informasi, pengelolaan data, literasi digital, hingga manajemen pengetahuan. Sayangnya, ketidaktahuan ini membuat jurusan Ilmu Perpustakaan dipersepsikan kurang “bergengsi” dibandingkan jurusan lain.
Kedua, minimnya eksposur di sekolah membuat siswa jarang melihat potensi karier di balik jurusan ini. Secara umum, sekolah hanya memperkenalkan perpustakaan sebagai tempat membaca, tanpa memperlihatkan bagaimana pustakawan berperan dalam kurasi koleksi, pengolahan data, layanan informasi, atau edukasi literasi. Akibatnya, siswa tidak pernah mempertimbangkan bidang ini sejak dini.
Ketiga, kurangnya pemahaman tentang peluang karier juga menjadi penyebab utama. Banyak yang tidak mengetahui bahwa lulusan Ilmu Perpustakaan memiliki peluang kerja di berbagai sektor: lembaga pemerintah, arsip nasional, perusahaan swasta, pusat dokumentasi, museum, hingga industri teknologi informasi. Selama ruang lingkup profesi ini dipersempit hanya pada “perpustakaan sekolah atau kampus”, minat masyarakat tentu tidak akan bertambah.
Terakhir, arus minat pada jurusan populer juga berpengaruh. Program studi seperti kedokteran, hukum, bisnis, atau teknologi sering dianggap lebih menjanjikan. Sementara itu, Ilmu Perpustakaan jarang tampil sebagai pilihan utama—bukan karena tidak penting, tetapi karena tidak dipromosikan secara proporsional.
Untuk mengubah kondisi ini, dibutuhkan upaya kolektif: kampus perlu memperkuat promosi dan memperjelas prospek karier; perpustakaan harus semakin inovatif agar masyarakat melihat relevansi profesi pustakawan; dan sekolah perlu memperkenalkan literasi informasi sebagai keterampilan masa depan. Dengan langkah-langkah ini, Ilmu Perpustakaan dapat dipahami sebagai disiplin yang strategis dan sangat dibutuhkan, bukan sekadar pilihan alternatif.[]
Ditulis oleh : Nabilla Balqis, Mahasiswi Ilmu Perpustakaan UIN Ar-Raniry Banda Aceh
