Tim relawan PMI saat tiba di Aceh Tamiang

Menyayat Hati, Kesaksian Relawan Saat Ceritakan Kondisi Anak-Anak di Aceh Tamiang

Sumberpost.com | Banda Aceh – Mobil ambulans bergambar melati dengan lima kelopak memasuki kawasan Aceh Tamiang. Bencana banjir besar terjadi di wilayah ini seminggu yang lalu. Jalanan berlumpur yang hampir kering jadi titik yang harus lewati perlahan dengan ambulans Palang Merah Indonesia (PMI).

Bau sampah mengelilingi di setiap sudut kota. Debu berterbangan menghalangi pandangan. Sejumlah masyarakat yang selamat dari bencana ini berdiri di pinggir jalan utama yang dilalui kendaraan.

Tangan mereka menengadah meminta sebungkus roti atau obat-obatan untuk bertahan hidup. Bertelanjang dada dengan hampir setengah badan dibaluri lumpur yang hampir kering. Di antara mereka ada anak-anak hingga orang dewasa.

Napas Agung, salah satu relawan di dalam ambulans itu tercekat melihat aksi yang ia saksikan lewat kaca mobil hari itu.

“Kalian kuat,” satu kata yang terbesit di benak Agung untuk pertama kalinya saat tiba di Aceh Tamiang pada 5 Desember lalu.

Ambulans berisi relawan PMI Provinsi Aceh itu terus melaju menembus perdesaan di Aceh Tamiang. Di tangan mereka terdapat kertas asesmen lapangan yang akan di isi dengan nama-nama desa yang belum tersentuh bantuan pascabencana selama satu minggu.

“Yang aku lihat emang bantuan itu banyak di kota. Di pelosok bahkan belum tersentuh sama sekali,” ujar Agung Fatwa Umara, Mahasiswa Hukum Tata Negara Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry sembari mengingat satu per satu puing kenangan saat menjalankan misi kemanusiaan di Tamiang, (17/12/2025).

Agung Fatwa Umara, relawan PMI provinsi Aceh

Ketika mendengar kabar Kota Lintang yang begitu parah, ambulans dengan lambang PMI langsung meneruskan perjalanan ke tempat itu.

Pemandangan orang-orang yang sedang membersihkan sisa-sisa lumpur di rumahnya terbentang di sepanjang jalan yang mereka tempuh hingga tiba di Kota Lintang. Benar saja, sama sekali belum ada pembersihan di sana. Baru ada satu mobil pengangkut alat berat yang baru masuk di hari itu.

“Terimakasih ya bang, baru kali ini pertama ada mobil bantuan yang masuk ke kami,” ujar Agung mengulang kata-kata seorang ibu saat mereka memberikan bantuan di sebuah sekolah di Kota Lintang.

Tidak ada tenda bertuliskan instansi pemerintah di sana. Seminggu lebih pengungsi menempati lantai dua sekolah itu.

Hari demi hari tim relawan PMI Provinsi Aceh di Tamiang, semakin banyak pula desa yang masuk list belum menerima bantuan. Tugas mereka awalnya hanya evakuasi, namun berhubung tidak ada masyarakat yang melapor, tugas tersebut belum bisa ditunaikan.

Genap sudah seminggu para relawan mengitari Aceh Tamiang. Surat tugas mereka telah usai dan harus segera kembali ke tempat. Agung kala merasa belum bisa berbuat apa-apa. Tatkala ia diberikan waktu yang lebih lama di sana, ia punya satu keinginan yang belum sempat ia tunaikan.

“Kalau diberi kesempatan ke sana lagi. Saya cuman ingin bertemu anak-anak, mendengar cerita mereka, melihat senyum mereka. Saat melihat mereka meminta-minta di jalan dengan bertelanjang dada, kasihan,” ujarnya.

Agung menarik dua lembar tisu dari kotak hitam di atas meja tempat kami duduk di Siddiq kopi, Lambhuk. Napasnya mulai berat, tisu di tangannya mulai menyapu matanya yang mulai berkaca-kaca.

“Negara perlu hadir di tengah-tengah masyarakat, korban makin hari makin bertambah, kesehatan masyarakat perlu jadi perhatian seserius mungkin. Kebutuhan dasar bukan hanya makanan dan minuman saja, pelayanan kesehatan bagi masyarakat juga kebutuhan dasar yang perlu diperhatikan. Jangan sampai masyarakat selamat dari bencana, namun tidak selamat di camp pengungsian” harapnya. []

Repoter: Rauzatul Jannah

Editor: Riska Amelia