Sehari Tak Melaut, Cara Nelayan Aceh Menghormati Korban Tsunami 26 Desember
Sumberpost.com | Banda Aceh – Tanggal 26 Desember ditetapkan sebagai hari pantang melaut bagi seluruh nelayan di Aceh. Penetapan ini merupakan bentuk penghormatan dan peringatan terhadap peristiwa gempa dan tsunami Aceh yang terjadi pada 26 Desember 2004 lalu, yang menelan banyak korban jiwa serta kerugian harta benda, terutama dari kalangan nelayan, Kamis (25/12/2025).
Panglima Laut Aceh, Miftah Tjut Adek, menjelaskan bahwa larangan melaut pada tanggal tersebut berlaku menyeluruh sebagai bentuk penghormatan atas tragedi kemanusiaan yang meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat pesisir Aceh.
“Tanggal 26 Desember adalah hari pantang meulaot bagi semua nelayan di Aceh, karena tanggal tersebut merupakan tanggal mengenang kembali hari gempa dan tsunami yang banyak membawa korban jiwa dan benda dari kalangan nelayan,” ujar Miftah.
Ia menambahkan bahwa peringatan tahun ini bertepatan dengan hari Jumat, yang juga merupakan hari pantang melaut secara penuh bagi nelayan Aceh.
“Kebetulan juga besok hari Jumat, yang juga hari pantang meulaot sehari penuh,” katanya.
Terkait nelayan yang telah berangkat melaut sebelum tanggal tersebut, Miftah menyampaikan bahwa mereka biasanya akan kembali pada malam harinya.
“Kalau sudah berangkat biasa nanti malam mereka kembali,” jelasnya.
Selain penghentian aktivitas melaut, nelayan Aceh juga melaksanakan kegiatan keagamaan sebagai bagian dari peringatan 21 tahun Tsunami Aceh. Zikir dan doa bersama digelar secara serentak di setiap Unit Pangkalan (UP) nelayan.
“Ada zikir dan doa bersama di setiap UP nelayan,” pungkasnya.
Kegiatan zikir dan doa bersama ini menjadi momen bagi para nelayan untuk mengenang para korban gempa dan tsunami, sekaligus memanjatkan doa demi keselamatan dan keberkahan dalam menjalani kehidupan, khususnya bagi mereka yang menggantungkan hidup di laut.
Peringatan 26 Desember setiap tahunnya menjadi pengingat kolektif bagi masyarakat Aceh akan duka masa lalu, sekaligus memperkuat nilai kebersamaan dan kepedulian di tengah komunitas nelayan[].
Reporter: Riska Amelia
editor: Aininadhirah
