Tidak Punya Medali, Tapi Punya Tekad: Kisah Reza Menembus Beasiswa Rusia
Sumberpost.com | Banda Aceh – Banyak orang mengira jalan menuju Cum Laude adalah karpet merah yang terbentang lurus. Namun bagi Reza Muksalmina, jalan itu lebih mirip labirin yang penuh dengan kegagalan arah sebelum akhirnya menemukan cahaya. Alumnus Pendidikan Teknologi Informasi (PTI) ini tidak datang dari lingkungan pesantren yang akrab dengan tradisi kampus Islam, ia adalah lulusan sekolah umum yang sempat limbung dihantam academic shock saat pertama kali menginjakkan kaki di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry.
“Sejujurnya, saya tidak pernah berekspektasi akan lulus Cum Laude. dimana Latar belakang pendidikan saya berasal dari sekolah umum,” ucap Reza.
Ketidakpastian itu nyata. Begitu nyatanya, hingga Reza sempat mencoba “melarikan diri” dengan mengikuti seleksi Seleksi Mandiri Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMMPTN) Barat. Ia diterima di program studi (prodi) Biologi Universitas Syiah Kuala. Di satu titik hidupnya yang paling melelahkan, ia menjalani dua dunia sekaligus: pagi berkutat dengan logika algoritma di PTI, sorenya berhadapan dengan mikroskop di Biologi.
Namun, hati tidak bisa berbohong. Benturan jadwal dan rasa tidak nyaman di laboratorium biologi membawanya pada satu keputusan krusial: berhenti berlari dan mulai menghadapi ketakutannya di dunia teknologi.
“saya kurang tepat berada di jurusan Biologi, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti dan fokus sepenuhnya pada jurusan Pendidikan Teknologi Informasi,” kenang Reza.
Sejak keputusan itu diambil, Reza berhenti menjadi mahasiswa yang “sekadar hadir”. Ia memulai pencarian jati diri melalui konsentrasi Rekayasa Perangkat Lunak (RPL). Karena bangku kuliah saja tidak cukup, ia melakukan “jihad” intelektual secara mandiri. Nama-nama seperti Sandhika Galih di YouTube, kurikulum ketat di Dicoding, hingga modul-modul dari Code Academy dan Progate menjadi saksi bisu malam-malam panjangnya memperdalam bahasa pemrograman.
Prinsipnya saat itu sederhana namun tajam: “Jalani dengan sabar, fokus lulus tepat waktu, dan jangan pernah berhenti berkembang.” Hasilnya? Sebuah pembuktian telak. Ia tidak hanya lulus tepat waktu pada Mei tahun lalu, tapi juga berdiri di podium sebagai lulusan dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) tertinggi di jurusannya.
Gelar sarjana hanyalah garis start baru. Di saat banyak orang memilih beristirahat, Reza justru memacu motor belajarnya lebih kencang. Ia mengikuti pelatihan persiapan kerja di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Banda Aceh sambil memantau peluang dunia internasional. Hingga akhirnya, matanya tertuju pada sebuah pengumuman di akun Instagram Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aceh: Russian Government Scholarship (RGS).
Rusia bukanlah pilihan tanpa perhitungan. Di tengah negara-negara Barat yang menuntut skor IELTS setinggi langit (minimal 6.5), Rusia menawarkan skema yang lebih strategis namun brutal secara kompetisi. Mereka membolehkan wawancara dalam bahasa Indonesia atau Inggris tanpa syarat TOEFL/IELTS di awal. Ini adalah celah bagi mereka yang memiliki kapabilitas teknis namun terkendala sertifikasi bahasa yang mahal.
“saya melihat ini sebagai peluang yang realistis namun tetap kompetitif. Selain itu, Rusia memang termasuk salah satu negara impian saya,” katanya.
Namun, jangan bayangkan ini jalan pintas yang mudah. Tahun ini, sekitar 4.000 talenta terbaik Indonesia berebut kuota yang hanya berjumlah 300 kursi untuk seluruh jenjang. Lawan Reza bukanlah sembarang orang—mereka adalah peraih medali olimpiade dan pemenang kompetisi nasional. Batas nilai minimal untuk lolos pun merangkak naik ke angka 82 secara total.
Hambatan paling melelahkan justru muncul di sisi administrasi: Medical Checkup. Mengurus surat keterangan sehat sesuai standar ketat Kedutaan Rusia di rumah sakit lokal Indonesia ternyata menjadi drama birokrasi yang menguras energi dan kesabaran.
“Kita perlu buat surat keterangan sehat yang sesaui dengan format surat rumah rusia, dirumah sakit indonesia hal itu sangatlah sulit untuk dilalui mengingat administrasinya yang agak rumit disetiap rumah sakit,” ucap Reza mengingat perjuangannya waktu itu.
Kini, perjuangan itu membuahkan hasil. Dengan pilihan prioritas utama pada Saint Petersburg State University, Reza bersiap mendalami Software Engineering di level magister. Fasilitas yang didapatkan bukan sekadar kuliah gratis dan asrama bersubsidi, tapi juga kesempatan untuk menguasai bahasa Rusia selama satu tahun persiapan.
Akan tetapi, beasiswa ini bukan tentang “kabur” ke luar negeri. Bagi Reza, ini adalah misi “belanja ilmu”. Ia membawa mimpi besar untuk kembali ke Aceh dan mendirikan lembaga kursus atau sekolah berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Ia ingin membangun ekosistem yang mengintegrasikan bisnis, teknologi, dan kecerdasan buatan (AI) tanpa meninggalkan akar nilai-nilai keislaman. Ia ingin menyelesaikan masalah nyata di Aceh melalui inovasi digital yang ia bangun sendiri.
Sebagai penutup, bagi mahasiswa yang merasa minder karena tidak memiliki latar belakang olimpiade atau merasa “biasa-biasa saja”, Reza adalah bukti hidup bahwa konsistensi mengalahkan bakat yang tidak diasah.
”Jangan pernah meragukan kemampuan diri sendiri hanya karena orang lain bilang itu terlalu tinggi atau sulit,” pesan reza kepada seluruh mahasiswa yang masih ragu akan langkah nya untuk bermimpi besar.
Kemampuan sejati hanya kita sendiri yang tahu batasnya. Jika seorang anak sekolah umum yang sempat “nyasar” di dua jurusan bisa menaklukkan beasiswa prestisius Rusia, maka siapa pun punya peluang yang sama. Kuncinya hanya satu: yakin pada diri sendiri, terus bergerak, dan biarkan doa yang menyelesaikan sisa urusannya.
Inilah kisah Reza Muksalmina—sebuah bukti bahwa pencapaian besar tidak selalu dimulai dari langkah yang pasti. Perjalanannya mengingatkan kita bahwa keberhasilan bukan milik mereka yang tidak pernah ragu, melainkan milik mereka yang berani melangkah meskipun sedang ragu.[]
Reporter : Nurul Azkia.
Editor : Alya Ulfa.
