Ilustrasi keluarga yang sedang bersahur bersama. (Dok/Gemini AI)

Cahaya di Akhir Malam: Menyingkap Rahasia dan Keberkahan di Balik Sunah Sahur

Sumberpost.com – Di penghujung malam, saat sebagian besar manusia masih terbuai dalam lelap, umat Islam diperintahkan untuk bangun dan menyantap hidangan sahur. Seringkali, sahur hanya dianggap sebagai persiapan fisik agar kuat menjalani puasa. Namun, bagi para guru kita seperti Ustadz Abdul Somad (UAS), Ustadz Adi Hidayat (UAH), dan Buya Yahya—sahur memiliki dimensi spiritual yang jauh lebih dalam daripada sekadar pengisi perut.

Identitas dan Jaminan Keberkahan

Ustadz Abdul Somad (UAS) melalui kanal YouTube Ustadz Abdul Somad Official menekankan bahwa sahur adalah identitas yang membedakan puasa umat Islam dengan umat terdahulu. Beliau mengutip hadis sahih riwayat Imam Muslim:

“Pembeda antara puasa kita dengan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur.”

UAS menjelaskan bahwa dengan bersahur, seorang Muslim sedang menegaskan ketaatannya pada sunah Rasulullah SAW. Beliau memotivasi jemaah agar tidak meninggalkan sahur meski hanya dengan seteguk air, karena adanya jaminan keberkahan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim:

“Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat keberkahan.”

Kemuliaan Waktu Sahar dan Istighfar

Sementara itu, Ustadz Adi Hidayat (UAH) dalam unggahan di kanal Adi Hidayat Official membedah makna sahur dari sisi terminologi. Kata “sahur” berasal dari akar kata yang sama dengan “sahar”, yaitu waktu singkat sekitar 15-20 menit sebelum subuh.

Menurut UAH, keberkahan sahur tidak hanya terletak pada makanannya, tetapi pada kemuliaan waktu tersebut. Beliau merujuk pada Surah Az-Zariyat ayat 18:

“Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).”

UAH menekankan bahwa orang yang bangun sahur mendapatkan “bonus” kesempatan untuk beristighfar dan berdoa di waktu yang paling disukai Allah untuk mengabulkan permintaan hamba-Nya.

Bentuk Kasih Sayang Allah dan Adab Sahur

Melengkapi perspektif tersebut, Buya Yahya melalui kanal Al-Bahjah TV menjelaskan bahwa sahur adalah bentuk kasih sayang Allah agar hamba-Nya tidak tersiksa saat beribadah. Beliau menekankan bahwa keberkahan sahur akan terpancar pada ketenangan jiwa saat menjalankan puasa.

Dalam salah satu sesi tanya jawab, Buya Yahya berpesan:

“Sahur itu berkah karena kita mengikuti perintah Nabi. Meskipun perut sudah kenyang, tetaplah bangun walau hanya makan satu butir kurma, karena niat mengikuti sunah itulah yang mendatangkan rida Allah.”

Beliau juga mengingatkan adab untuk mengakhirkan waktu sahur mendekati subuh agar energi yang didapatkan lebih optimal selama berpuasa. []

Reporter : Ayu Liza

Editor : Nurul Azkia