Mengetuk Pintu Langit: Rahasia di Balik Lisan Orang Berpuasa
Sumberpost.com – Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dan haus dari fajar hingga terbenam matahari. Di balik perjuangan fisik melawan rasa lapar yang melilit dan dahaga yang mengeringkan kerongkongan, tersimpan kekuatan dahsyat yang dijanjikan langsung oleh Sang Pencipta: doa yang tidak tertolak.
Momentum ini menjadi kesempatan emas bagi setiap hamba untuk “mengetuk pintu langit” melalui wasilah ibadah puasa. Berikut adalah hikmah mendalam dari para pendakwah kharismatik Indonesia mengenai keistimewaan doa orang yang berpuasa.
Garansi Langit untuk Orang yang Berpuasa
Melalui kanal YouTube Ustadz Abdul Somad Official, Ustadz Abdul Somad (UAS) sering membakar semangat jemaah dengan merujuk pada hadis riwayat Imam Tirmidzi mengenai tiga golongan yang doanya makbul:
“Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak: Orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi.”
UAS menekankan bahwa frasa “orang yang berpuasa sampai ia berbuka” adalah garansi langsung dari Rasulullah SAW. Beliau mengingatkan bahwa sepanjang hari saat seorang Muslim menahan nafsu, setiap rintihan doanya berada dalam “pengawalan khusus” malaikat.
“Jangan biarkan lisan berhenti meminta,” pesan UAS. Sebab, saat perut kosong, hijab antara hamba dan Tuhannya sedang menipis.
Puasa sebagai “Booster” Terkabulnya Doa
Secara teknis dan mendalam, Ustadz Adi Hidayat (UAH) melalui kanal Adi Hidayat Official membedah rahasia struktur Al-Qur’an. Beliau menyoroti penempatan ayat doa yang terselip di antara ayat-ayat puasa, yaitu pada Surah Al-Baqarah ayat 186:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku…”
Menurut UAH, penempatan ayat ini adalah isyarat bahwa kondisi tubuh yang sedang berpuasa merupakan booster atau percepatan paling efektif agar doa diijabah. Beliau mengajak jemaah untuk menggunakan momentum puasa sebagai saat terbaik meminta hidayah, karena inti dari doa adalah pengakuan kelemahan hamba di hadapan Sang Khalik.
Adab dan Kebahagiaan Saat Berbuka
Melengkapi dimensi tersebut, Buya Yahya melalui kanal Al-Bahjah TV membawa jemaah pada kedalaman akhlak. Beliau mengingatkan adanya waktu paling mustajab lainnya, yaitu saat berbuka, sebagaimana hadis riwayat Ibnu Majah:
“Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak pada saat berbuka.”
Namun, Buya Yahya memberikan catatan penting mengenai “penghalang” doa, yakni makanan haram dan hati yang kotor.
“Jangan sampai kita menahan yang halal (makanan), tapi lisan kita justru memakan yang haram dengan menggunjing atau mencaci,” tegas beliau.
Keistimewaan doa orang berpuasa terpancar dari rasa tawadhu (rendah hati) saat manusia menyadari betapa lemahnya diri mereka tanpa nikmat dari Allah SWT. Satu doa tulus yang dipanjatkan di sela rasa lapar dan haus bisa menjadi kunci yang mengubah seluruh jalan hidup seseorang menuju keberkahan dan keridaan-Nya. []
Reporter : Ayu Liza
Editor : Nurul Azkia
