Sumberpost.com | Banda Aceh – Komunitas MELATI Berkolaborasi dengan Flourive center, Menggelar Webinar Nasional bertajuk “Trauma Bonding: Antara Cinta & Luka – Mari Kenali Pola Hubungan yang Menyakitkan dan Cara Melepaskannya” yang diselenggarakan secara daring, Kamis (21/8/2026). Kegiatan tersebut diikuti puluhan peserta dari berbagai daerah dan latar belakang, mulai dari mahasiswa, guru, ibu rumah tangga hingga masyarakat umum.Webinar ini menjadi kolaborasi perdana antara Flourive Center dan Komunitas MELATI dalam menghadirkan kegiatan edukasi psikologi yang sekaligus membawa misi sosial. MELATI merupakan komunitas sosial yang lahir dari mahasiswa Psikologi UIN Ar-Raniry dan bergerak dalam bidang sosial, psikologi, kerelawanan, serta pengabdian kepada masyarakat.Sementara itu, Flourive Center merupakan platform layanan kesehatan mental yang menyediakan layanan konseling psikologis secara online serta berbagai kegiatan edukasi psikologi. Kolaborasi tersebut menjadi ruang bagi kedua pihak untuk memperluas edukasi kesehatan mental sekaligus memberikan manfaat sosial kepada masyarakat.Kegiatan ini menghadirkan Aidah Salsabil Hasibuan, S.Psi., Psikolog, sebagai narasumber. Aidah merupakan Psikolog Umum berlisensi yang memiliki pengalaman dalam konseling individu, psikoedukasi, kesehatan, pendidikan, dunia kerja, komunitas, serta Psychological First Aid (PFA), dan dipandu oleh Anisaton Humaira selaku moderator.Dalam pembukaannya, moderator Anisaton Humaira mengajak peserta merefleksikan sebuah kalimat sederhana namun sering terjadi dalam kehidupan.“Aku tahu dia menyakitiku, tapi aku tetap tidak bisa pergi.” ujarnya. Pertanyaan tersebut kemudian menjadi pintu masuk untuk memahami fenomena trauma bonding secara lebih mendalam.Dalam pemaparannya, kak aidah mengajak peserta memahami trauma bonding dan mengenali pola hubungan yang dapat membuat seseorang sulit keluar dari relasi yang menyakitkan serta membedakan antara hubungan yang sehat dengan ikatan trauma.“Trauma bonding bukanlah tanda bahwa kita sangat mencintai seseorang, melainkan respons biologis dan psikologis bertahan hidup akibat siklus perlakuan buruk yang diselingi momen manis,” ungkapnya.Webinar berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab dan kuis Kahoot yang diikuti peserta. Salah satu hal yang menarik perhatian peserta adalah kesempatan mendapatkan free counseling bersama psikolog Flourive Center bagi tiga peserta pemenang kuis, sehingga peserta tidak hanya memperoleh edukasi, tetapi juga berkesempatan mendapatkan akses konseling profesional.Selain memberikan edukasi, kegiatan tersebut juga membawa misi sosial. Sebagian hasil dari pendaftaran webinar akan disalurkan kepada komunitas yang bergerak dalam pemberdayaan perempuan, sehingga keikutsertaan peserta turut menjadi bagian dari aksi sosial. Aidah juga memberikan pesan kepada peserta untuk tidak mudah menyalahkan diri sendiri ketika menghadapi hubungan yang tidak sehat.“Bertahan dalam relasi yang menyakitkan bukanlah tanda kelemahan atau kebodohan,” salah satu pesan utama yang disampaikan oleh kak aidah selaku pemateri.Melalui kolaborasi perdana ini, Komunitas MELATI dan Flourive Center berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sebagai ruang edukasi kesehatan mental yang inklusif dan memberikan dampak sosial. Webinar tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk belajar dan berdiskusi mengenai kesehatan mental, tetapi juga menjadi langkah bersama untuk membangun kesadaran, memperkuat dukungan psikologis, serta menyalurkan manfaat kepada masyarakat, khususnya dalam upaya pemberdayaan perempuan. []
Editor: Miftahul Jannah
