Denyut Tradisi Gampong Nusa

Sumberpost.com | Banda Aceh – Matahari pagi perlahan meninggi di langit Lhoknga, Sinar matahari yang hangat menyelimuti hamparan sawah hijau di Gampong Nusa. Di tengah suasana pagi yang tenang, terdengar suara rantai sepeda tua yang berderit pelan, Berpadu dengan tawa ceria anak-anak sekolah dasar yang memenuhi suasana pagi. Di atas pematang, sekelompok anak perempuan mengayuh pedal dengan semangat, mengobrol karib tanpa sekat, lalu memarkirkan sepeda mereka begitu saja di tepi jalan setapak demi melihat air sungai yang dilengkapi ikan kecil di dalamnya.

Di sudut lain gampong, pemandangan serupa tak kalah magis. Seorang bapak yang hendak ke ladang melempar senyum lebar, menyapa ramah setiap pasang mata orang asing yang ia temui di lorong. Hangat, terbuka, dan bersahaja. Desa yang letaknya hanya selemparan batu dari hiruk-pikuk Kota Banda Aceh ini, sinyal internet bergerak lancar tanpa hambatan. Namun anehnya, pandangan mata penduduk ini tidak akan terpaku pada layar-layar gawai yang dingin, melainkan pada jabat tangan dan tegur sapa yang begitu hidup.

Ketika gampong-gampong lain di Aceh bahkan di penjuru Indonesia mulai sunyi dari suara anak-anak karena mereka telah “pindah rumah” ke dalam layar smartphone, Gampong Nusa justru merawat peradaban lama dengan bangga. Gampong yang pernah dinobatkan sebagai salah satu dari 50 Desa Wisata Terbaik di Indonesia ini menolak kalah oleh arus digitalisasi.

Tulisan ini bukan hanya catatan perjalanan seorang mahasiswa yang sedang mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau jurnalis yang sedang berkemah, Ini adalah sebuah gambaran mendalam, sebuah pengingat bagi desa-desa lain, bahwa masa kecil yang bahagia, kebersamaan yang erat, dan ruang sosial yang sehat adalah sesuatu yang harus dan bisa diselamatkan jika masyarakatnya mau bergerak bersama.

Perkembangan desa ini sebagai tempat yang kaya akan budaya seperti sekarang membutuhkan proses yang panjang semua bermula pasca-tsunami, tepatnya sekitar tahun 2010. Pergerakan sadar wisata ini digawangi oleh kelompok ibu-ibu kreatif yang mulai memilah sampah dan merangkai bunga kering.

Sejak saat itu, keramahan menyambut tamu dibentuk menjadi sebuah kultur. Saat ada kedatangan turis maupun mancanegara, akan disambut baik, lengkap dengan tarian penyambutan, Rapai, disertai masakan makanan khas aceh seperti dodol, kuah plik, tidak lupa dengan senyum tulus warga yang bersiaga lewat panitia khusus yang mengelola kunjungan wisata.

Duduk di bawah rindangnya pepohonan Gampong Nusa, Ibu Siti Rahma (42) berbagi cerita dengan gurat wajah yang teduh namun tegas. Sebagai seorang ibu di era modern, ia tak menampakkan adanya rasa cemas mendalam terhadap perkembangan anak-anak di zaman sekarang.

“Hal-hal seperti itu (penggunaan HP) harus sangat diperhatikan, apalagi di masa pertumbuhan mereka sekarang,” ujar ibu Siti.

Ia mengaku tidak gagap teknologi, begitu pula ibu-ibu lain di Gampong Nusa. Mereka paham internet, mereka menggunakan gawai. Namun, batas tegas tetap ditarik. Ibu Siti Rahma tetap memantau ketat apa yang dilihat anaknya di layar kaca. Hasil dari ketegasan kelompok kolektif para orang tua di sini berbuah manis.

Di Gampong Nusa, anak-anak usia empat tahun sudah memiliki kesadaran tinggi untuk pergi mengaji di meunasah. Bukan karena paksaan, melainkan karena motivasi alami melihat teman-teman sebayanya melakukan hal yang sama. Lingkungan yang membentuk karakter mereka, bukan algoritma media sosial.

Sikap kolektif ini mengakar hingga ke urusan adat dan tradisi. Tiap hari Minggu pagi, lorong-lorong desa riuh oleh aksi gotong royong yang melibatkan seluruh elemen: dari anak muda, bapak-bapak, ibu-ibu, hingga anak-anak kecil yang ikut mengutip sampah. Tradisi seperti kenduri di kuburan setiap Lebaran Haji tetap dijaga sakral. Bahkan, esensi hari raya di sini adalah tentang memuliakan silaturahmi dengan keluarga dan tetangga gampong, alih-alih menghabiskan waktu untuk sekadar jalan-jalan ke pusat kota.

Kebenaran dari ucapan para orang tua itu terkonfirmasi langsung saat kami mendekati sekumpulan anak-anak yang sedang asyik berkumpul di minggu pagi hari. Wajah-wajah mereka masih bersemangat untuk terus mengayuh sepeda bersama temannya, pipi mereka merona kemerahan merasakan keseruan di pagi hari itu.


Ketika ditanya mengapa mereka tidak bermain gawai saja di dalam rumah, jawaban polos namun menohok keluar dari bibir-bibir kecil mereka.

“Lebih suka main di luar sama teman, Kak. Lebih seru! Kalau main HP terus nanti pusing,” cetus Zalfa seorang anak anak yang tengah menduduki kelas 4 sd itu sambil memegang stang sepedanya.

Mereka memang mengaku sesekali bermain game Roblox, tetapi itu hanya selingan singkat. Jiwa mereka tetap tertinggal di alam terbuka Gampong Nusa. Setiap sore dan di hari Minggu yang panjang, anak-anak ini akan membaur tanpa sekat gender. Permainan tradisional yang di tempat lain sudah punah, di sini masih menjadi raja. Mulai dari lompat tali, bermain kelereng, memancing ikan, kejar-kejaran, hingga menceburkan diri bersama ke segarnya air sungai gampong.

Terakhir buk siti berpesan bahwa setiap warga di sini bisa terus damai dan sejahtera “kami mau 5 tahun ke depan dan seterusnya begini terus karena ini sudah memang berjalan dari kami kecil di sini” lengkapnya, kata dia sambil tersenyum penuh harap. []

Reporter: Anisaton Humaira

Editor: Miftahul Jannah