Ketika Takdir Mengubah Arah: Kisah Maryam Nadilah, Lulusan Terbaik Saintek Gelombang II
Sumberpost.com | Banda Aceh ā Ada mimpi yang lahir bersama langit, dan ada perjuangan yang tumbuh bersama luka. Begitulah kisah Maryam Nadilah, perempuan yang lahir di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, pada 31 Maret 2004. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana. Sang ibu mengabdikan sebagai guru honorer, sementara ayahnya bekerja sebagai mekanik alat berat di industri tambang minyak dan gas. Dari peluh kedua orang tuanya, Maryam belajar bahwa impian tidak diwariskan, melainkan diperjuangkan.
Namun, jalan menuju cita-cita ternyata tidak selalu terbentang lurus.
Saat pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tiba, layar yang ia tatap justru menampilkan logo berwarna merah tanda bahwa namanya tidak lolos. Harapan yang selama ini dipupuk perlahan runtuh. Meski demikian, Maryam belum menyerah. Ia kembali mengumpulkan keberanian untuk mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) melalui Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).
Takdir kembali menguji langkahnya.
Hasil yang dinanti tidak berpihak kepadanya. Namanya kembali tidak tercantum sebagai mahasiswa yang diterima. Dua kali kegagalan membuat semangatnya nyaris padam. Ia bahkan sempat mengubur keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Di saat itulah sosok sang ibu menjadi cahaya yang menuntunnya keluar dari gelap.
Dengan penuh keyakinan, ibunya membujuk Maryam agar tidak berhenti mengejar pendidikan. Berbekal doa dan harapan keluarga, Maryam mendaftar melalui jalur mandiri di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry. Ia memilih tiga program studi: Teknologi Informasi sebagai pilihan pertama, Biologi sebagai pilihan kedua, dan Psikologi sebagai pilihan ketiga.
Ketika pengumuman tiba, takdir membawanya ke tempat yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan: Program Studi Biologi.
“Di Biologi harus belajar lagi dari awal. Banyak perbedaannya, misalnya pengertian jaringan di komputer dengan jaringan di biologi sama sekali tidak ada kaitannya. Tapi Alhamdulillah, semuanya dimudahkan sampai lulus,” kenang Maryam.
Alih-alih meratapi keadaan, Maryam memilih berdamai dengan takdir. Ia percaya bahwa setiap jalan memiliki alasan untuk dijalani. Sebelum perkuliahan dimulai, ia mengisi hari-harinya dengan mempelajari dasar-dasar biologi agar tidak lagi merasa asing ketika memasuki ruang kuliah.
Sedikit demi sedikit, pengetahuan baru itu menjadi rumah bagi impiannya.
“Jadi di akhir semester satu saya sudah bisa pegang kendali dan beradaptasi dengan pengetahuan baru. Saya selalu berusaha mendapatkan nilai A di semua mata kuliah,” ujarnya.
Ketekunan itu membuahkan hasil. Memasuki semester kedua, Maryam mulai aktif berorganisasi. Ia bergabung dalam himpunan mahasiswa dan dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi selama satu periode. Baginya, organisasi bukan sekadar tempat berkegiatan, melainkan ruang untuk belajar memimpin, memperluas relasi, dan menempa diri.
Semester demi semester berlalu ,Maryam dipercaya mengemban tanggung jawab menjadi asisten laboratorium yang mendampingi praktikum mahasiswa semester pertama. Kepercayaan itu menjadi bukti bahwa perjuangan yang ia tanam sejak awal mulai berbuah.
Memasuki semester kelima, Langkahnya menjelma semakin kukuh di setiap persimpangan. Ia mulai menyusun proposal seminar proposal sebagai bekal menuju tugas akhir. Di waktu yang sama, ia dipercaya bergabung dalam Senat Mahasiswa Universitas dan mengemban amanah sebagai Sekretaris Jenderal. Tidak hanya menjalankan tugas administrasi, Maryam turut merancang serta menyukseskan berbagai program kerja organisasi.
Namun, perjalanan menuju garis akhir kembali diuji.
Pada semester keenam, seminar proposal yang telah dipersiapkan harus tertunda karena dosen pembimbingnya mengambil cuti. Pergantian pembimbing membuat judul penelitian yang telah ia susun harus diubah. Bukan sekali, melainkan tiga kali. Keadaan itu membuatnya merasa lelah, kehilangan arah, bahkan mengalami burnout.
Meski demikian, Maryam memilih bangkit setiap kali hidup menjatuhkannya.
“Hari ini nangis-nangis. Besoknya bangun, pakai baju rapi, make-up, lalu jalani hari lagi. Allah kasih kita hidup pagi ini karena Allah percaya kalau kita bisa. Jadi tinggal kita buktikan kalau kita bisa lebih baik dari hari sebelumnya.”
Kalimat sederhana itu menjadi pelita yang menuntunnya melewati masa-masa paling berat.
Kegagalan tidak membuatnya berhenti berkembang. Justru setelah berkali-kali jatuh, Maryam memilih memperluas langkah. Ia mengikuti sekitar 25 perlombaan dari berbagai bidang. Salah satunya adalah kompetisi film pendek internasional bersama mahasiswa lintas fakultas di UIN Ar-Raniry, di mana ia dipercaya menjadi sutradara.
“Walaupun tidak menang, itu sudah cukup menjadi pengalaman pertama.”
Pengalaman itu menjadi pijakan untuk terus melangkah. Pada kompetisi lain, Maryam bersama tim berhasil meraih Juara III Eco Habits Campaign kategori video pendek tingkat Fakultas Sains dan Teknologi PTKIN se Indonesia.
“Ini juga yang mengantarkan saya menjadi yudisia berprestasi.”
Di balik prestasi itu, Maryam juga aktif sebagai asisten peneliti dalam riset yang didanai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sejak semester kelima. Pengalaman tersebut memperluas cakrawala akademiknya sekaligus menguatkan minatnya di bidang penelitian.
Perjuangan panjang itu akhirnya bermuara pada semester ketujuh. Ia berhasil menyelesaikan seminar proposal di bidang mikrobiologi. Pada semester yang sama, ia kembali menerima Beasiswa Mahasiswa Berprestasi UIN Ar-Raniry, setelah sebelumnya juga meraih beasiswa serupa pada semester ketiga.
Awal semester kedelapan menjadi puncak dari seluruh perjalanan yang telah ia tempuh. Maryam berhasil menyelesaikan sidang skripsi dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,89 meraih predikat Yudisia Terbaik sekaligus Yudisia Berprestasi, serta dipercaya mewakili seluruh lulusan untuk menyampaikan pidato pada prosesi yudisium. Pencapaian itu menjadi penutup manis atas perjalanan mengarungi arus cobaan.
Namun, bagi Maryam, wisuda bukanlah garis akhir.
Usai mengenakan toga, ia kembali melangkah menuju babak baru. Dedikasi dan rekam jejaknya di dunia penelitian membawanya menerima tawaran sebagai asisten peneliti dalam Riset Inovasi untuk Indonesia Maju bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Di saat yang sama, ia juga masih melanjutkan kontraknya sebagai asisten peneliti pada riset yang didanai LPDP.
Perjalanan Maryam Nadilah mengajarkan bahwa takdir tidak selalu membawa seseorang ke tempat yang ia impikan. Terkadang, takdir justru mengantarkan seseorang menuju tempat terbaik yang belum pernah ia bayangkan. Sebab, impian yang sejati bukanlah tentang selalu berada di jalan yang diinginkan, melainkan tentang keberanian untuk terus berjalan, meski jalan itu berkali-kali berubah arah. []
Reporter: Dina Fitri
Editor: Miftahul Jannah
