Lulus Tanpa Skripsi dan Jadi Lulusan Terbaik FAH UIN Ar-Raniry, Begini Cara Urwatil Wusqa Meraihnya

Sumberpost.com | Banda Aceh – Urwatil Wusqa memilih jalan berbeda untuk menyelesaikan studinya. Mahasiswi Program Studi (Prodi) Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry ini lulus dalam waktu 3,5 tahun dengan IPK 3,94 melalui jalur publikasi jurnal ilmiah nasional, tanpa menyusun skripsi.

Pencapaian sebagai Lulusan Terbaik FAH UIN Ar-Raniry 2026 ini merupakan hasil dari kedisiplinan, fokus riset pada budaya lokal, serta konsistensinya dalam belajar.

Minat Sejarah dari Lingkungan Keluarga

Ketertarikan Wusqa pada dunia sejarah tumbuh karena ayahnya merupakan wiraswasta di bidang sejarah dan budaya sebagai pengelola Event Organizer (EO), serta ibu yang berprofesi sebagai guru Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sejak kecil, ia kerap terlibat dalam berbagai acara kebudayaan yang dikelola ayahnya.

“Dari situlah tumbuh rasa tertarik yang mendalam terhadap dunia sejarah dan budaya,” ujarnya.

 Setelah lulus MAS Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee prodi SKI UIN Ar-Raniry langsung menjadi incarannya.

Jalur Publikasi Jurnal sebagai Alternatif

Wusqa mendapatkan informasi tentang kebijakan lulus tanpa skripsi dari mahasiswa di luar Aceh. Setelah melakukan riset mandiri di media sosial, ia mengetahui bahwa UIN Ar-Raniry telah memberlakukan kebijakan jalur publikasi artikel ilmiah sejak beberapa tahun lalu.

“Saya tidak ingin hasil riset dan pemikiran yang telah diperjuangkan selama kuliah berakhir hanya sebagai pajangan di rak perpustakaan atau arsip internal kampus,” ujarnya.

Bagi Wusqa, menulis artikel ilmiah membuat portofolio kuat karena ia akan melanjutkan studi Magister (S2) melalui beasiswa. Formatnya yang ringkas juga dinilai lebih mudah diakses dan dikutip secara global.

Ia kemudian menulis penelitian berjudul “Eksistensi Tradisi Seumeubeut di Dayah Thalibul Huda, Kampung Bayu, Aceh Besar”, yang menyoroti bagaimana sebuah tradisi keagamaan lokal di Aceh mampu menyesuaikan dengan era modern tanpa kehilangan nilai-nilai aslinya.

Perjuangan Menembus Jurnal Terakreditasi

Demi mendapat sudut pandang baru, Wusqa mengawali risetnya dengan membedah berbagai penelitian sebelumnya sebelum akhirnya terjun ke lapangan pada akhir tahun 2025. Menggunakan pendekatan antropologis, ia membaur dan mewawancarai langsung para santri serta pelaku ekonomi di sekitar Dayah Thalibul Huda.

Penyusunan draf artikel dilakukan pada awal 2026. Wusqa harus melewati proses panjang, mulai dari antrean untuk masuk  jurnal nasional terakreditasi hingga pemeriksaan ketat dari tim ahli.  Saat menulis, ia membutuhkan suasana sunyi dan tenang agar lebih fokus. Ia juga terbiasa menulis catatan di kertas dan menandainya dengan stabilo. “Metode menulis langsung dengan tangan lebih cepat diingat,” jelasnya.

Tantangan terbesar muncul saat ia harus mengubah struktur pembahasan agar hasil penelitiannya lebih jelas. Bagi Wusqa, kritik dari penelaah menjadi masukan penting untuk meningkatkan kualitas tulisan. Untuk menyiasati seleksi jurnal yang ketat, ia mencicil penulisan minimal satu subjudul setiap malam. Jika lelah setelah seharian membaca referensi, ia memilih tidur selama 45 menit untuk memulihkan energi.

Berdasarkan pengalamannya, Wusqa membagikan tips agar tulisan ilmiah bisa menembus jurnal nasional. Langkah pertama adalah memilih topik yang unik dan menarik, namun punya sudut pandang berbeda dari penelitian yang sudah ada. Setelah tema ditentukan, data di lapangan harus dikumpulkan secara jujur dan apa adanya, tanpa rekayasa.

“Kita juga harus disiplin mengikuti aturan penulisan yang sudah ditentukan oleh setiap pengelola jurnal,” ujarnya.

Selain masalah teknis, ia mengingatkan pentingnya rajin berkonsultasi dengan dosen pembimbing, terbuka menerima masukan, dan segera memperbaiki tulisan. Terakhir, penulis wajib menguasai seluruh isi penelitiannya agar bisa mempertahankan argumen saat diuji oleh tim ahli.

Manajemen Waktu: Kuliah, Kerja, dan Organisasi

Meraih IPK 3,94 sekaligus lulus cepat membutuhkan perjuangan ekstra. Sebagai anak sulung, Wusqa tetap membantu ibunya mengurus rumah tangga dan menjaga adik-adiknya. Untuk menambah penghasilan, ia juga bekerja sebagai pengajar di Dayah Al-Azhar serta menjadi guru privat siswa SD hingga SMP.

Kesibukannya bertambah karena ia aktif di berbagai organisasi. Wusqa tercatat sebagai reporter dan host Ar-Raniry TV, Wakil Sekretaris Umum Pengurus Besar Ikatan Mahasiswa Alumni Dayah Aceh (PB-IMADA), Ketua Divisi Ilmu Kebudayaan Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora (DEMA-FAH), serta Duta Gender UIN Ar-Raniry.

“Saya menanamkan prinsip bahwa apa pun tantangannya, setiap hal yang sudah dipilih harus diselesaikan dengan tuntas,” tegasnya.

Untuk membagi waktu, Wusqa mengandalkan kedisiplinan di malam hari. Setelah mengajar privat, ia memanfaatkan waktu sejak selesai salat Isya hingga pukul 00.00 atau 01.00 dini hari untuk mengulas kembali materi kuliah hari itu sekaligus membaca bahan pelajaran untuk esok pagi.

“Bagi saya, memahami suatu keilmuan tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan butuh konsistensi secara perlahan dan mendalam,” ujarnya.

Dukungan Keluarga dan Dosen

Perjalanan putri pasangan Salman Alvarisy dan Nilawati tentu tidak mudah. Ada kalanya ia merasa cemas dan lelah. Untungnya, ia memiliki keluarga yang selalu mendukung setiap keputusannya dan konsisten memberikan apresiasi, bahkan untuk pencapaian kecil.

“Energi terbesar untuk kembali fokus justru lahir dari obrolan sederhana bersama orang tua. Dari sana muncul komitmen untuk menuntaskan tanggung jawab ini demi melihat mereka bahagia saat wisuda,” ujarnya.

Selain keluarga, Wusqa mengapresiasi dosen dan pengurus Prodi SKI FAH UIN Ar-Raniry yang selalu memberikan arahan dan kemudahan sejak awal perkuliahan hingga penyusunan karya ilmiah. “Dukungan besar ini membuat saya merasa diayomi, dihargai, dan merasa memiliki orang tua sendiri di kampus,” ujarnya.

Hasil Akhir Perjuangan

Wusqa mengaku bersyukur dan lega saat jurnal ilmiahnya resmi diterima, terlebih ia juga dinyatakan sebagai lulusan terbaik fakultas. Baginya, penghargaan tersebut menjadi bukti nyata atas komitmen dan kerja kerasnya selama tujuh semester.

“Saya menyadari nilai akademis sering dianggap sekadar angka. Namun, piagam ini memberikan bukti konkret bahwa saya berkomitmen penuh selama perkuliahan,” ujarnya.

Ia pun berpesan kepada mahasiswa lain agar memanfaatkan masa kuliah untuk belajar dan mengembangkan diri.

“Jangan meremehkan ruang kelas, karena dari diskusi kecil itulah benih cendekiawan lahir. Manfaatkan kuliah bukan sekadar mengejar gelar, tapi untuk menjadi manusia bermanfaat. Segala sesuatu coba saja dulu, karena lebih baik mencoba dan tahu hasilnya daripada menyesal kemudian hari karena tidak pernah mencoba,” tutupnya.

Predikat lulusan terbaik ini menjadi hasil nyata dari proses panjang yang ia jalani. Lewat pencapaian tersebut, jalur publikasi jurnal bukan sekedar alternatif mengganti skripsi, melainkan ruang bagi mahasiswa untuk menghasilkan riset yang diakui secara nasional. []

Editor: Miftahul Jannah