Senyum di Panggung Wisuda, Haru di Hati Orang Tua Melihat Anak Bermahkotakan Toga
Sumberpost.com | Banda Aceh – Deretan kursi di Auditorium Ali Hasjmy Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh di penuhi dengan wisudawan dan wisudawati yang mengenakan baju toga, yang menjadi kebanggaan sekaligus pembuktian pada penantian panjang. Dengan di sertai usaha yang sering kali tak terucap lelah dan kesahnya tetapi pada hari yang berbahagia itu tiba semua lelah dan usaha bagi setiap mahasiswa terasa di bayar dengan sangat tuntas. Sebanyak 2060 mahasiswa diwisudakan dengan penuh hormat oleh rektor UIN Ar-Raniry pada 22-24 juni 2026.
Kepala yang bermahkotakan topi toga berjejer dengan rapi, menjadi suatu pemandangan yang sakral tetapi berbalut dengan kegembiraan dari para orang tua yang menyaksikan buah hati mereka berjalan dengan anggun dan penuh wibawa ke atas panggung saat satu persatu nama wisudawan dan wisudawati di panggil untuk prosesi pemindahan jumbai toga, dan itu menjadi simbol resmi perpindahan status mahasiswa menjadi lulusan.
Pada wisuda gelombang pertama dan kedua dengan total 1.913 berasal dari program sarjana, 110 lulusan program magister, dan 37 lulusan program doktor, dan ini merupakan keseluruhan lulusan-lulusan yang berasal dari 9 fakultas yang ada di lingkungan UIN Ar-Raniry.
Di ruangan dengan suasana yang begitu menyejukkan hati dan jiwa, di umumkan ada 6 mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-Raniry berhasil menyelesaikan program double degree melalui kerja sama dengan Universiti Utara Malaysia (UUM). Para lulusan tersebut berasal dari Program Studi Magister Ekonomi Syariah, Pendidikan Agama Islam, serta Komunikasi dan Penyiaran Islam.
Program double degree tersebut merupakan kolaborasi lima perguruan tinggi keagamaan Islam negeri, yakni UIN Ar-Raniry Banda Aceh, UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Raden Fatah Palembang, dan UIN Mataram, dengan dukungan pendanaan dari Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) LPDP dan Kementerian Agama.
Prof. Mujiburrahman menilai program tersebut menjadi wujud komitmen kampus dalam menghadirkan pendidikan tinggi Islam yang terbuka, unggul, dan berdaya saing global tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman. Ia juga mengingatkan para wisudawan agar mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus menjaga integritas dan akhlak.
“Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan orang-orang yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membutuhkan manusia yang memiliki integritas, empati, dan akhlak mulia. Dunia membutuhkan generasi yang mampu menjaga nilai-nilai kebaikan di tengah perubahan zaman yang begitu cepat,” ujarnya.
Saat prosesi wisuda berakhir, toga yang di kenakan para wisudawan bukan hanya menjadi simbol kelulusan tetapi ada cerita panjang yang di tempuh bersama, ada hal yang berharga di setiap langkah-langkah menuju panggung yang hanya dirasakan oleh mahasiswa itu sendiri dan setiap alunan langkah kaki selalu ada doa orang tua yang mengiringi. Dalam keheningan, ada harapan suatu hari nanti bisa menyaksikan anaknya berdiri dengan penuh rasa bangga sebagai seorang sarjana. []
Editor: Riska Amelia
