Kamu Belum Menjadi Indonesia jika Belum Mengenal Multatuli
Sumberpost.com | Banda Aceh – Ajakan ke toko buku terbesar di kota ku ternyata membawa diri untuk membuka tabir lama yang konon membuat bangsa ku merdeka dari pengaruh kolonial Belanda. Aku mengenal buku ini dari penulis kesayangan ku, Pramoedya. Dia telah menjelma sebagai pendeta yang mempengaruhi nurani ku dengan mengadakan “kau belum menjadi Indonesia sebelum kah membaca Max Havelaar.” Perkataan ini sebenarnya sudah setahun sebelumnya mengitari pikiran ku setelah ku membaca Tetralogi Pulau Buru. Namun, perjumpaan kembali dengan Max Havelaar terjadi kembali ketika aku menelusuri lorong-lorong buku di toko buku itu.
Bagi seorang indoensia yang nasionalis, tentu tidak asing dengan istilah Multatuli. Tapi siapa dia pun aku tidak tahu. Apakah dia orang yang tuli? Mengapa guratan pena dia mampu menggoncang orang Belanda sehingga mereka dengan moralitas yang ada berani untuk mengalahkan rasionalitas mereka untuk menerapkan politik balas Budi untuk orang-orang yang bahkan tidak bisa berbahasa mereka? Bukankah Belanda itu baik dengan membawa kemajuan peradaban Eropa ke Kepulauan Nusantara, mengapa orang-orang Kepulauan itu harus bersusah payah untuk melepas cengkraman dari bangsa yang sudah membawa kemajuan bagi mereka?
Pertemuan sang-makelar kopi dengan yang katanya teman lama itu di tengah kesibukannya menjadi seorang yang jujur dan mencintai kebenaran memberikannya Ilham untuk susah payah menerbitkan tulisan ini karena ia merasa bahwa tulisan orang-orang pada masa itu adalah kebohongan dan mendegradasi generasi muda dengan kisah romantis buta.
Sjalman yang seorang gelandangan congkak memberikannya setumpuk paket yang berisi catatan-catatan yang membuat ku bahkan malas untuk mengintip nya karena list buku yang tidak berkesudahan itu. Makelar kopi merasa bahwa hanya beberapa buku sjalman saja yang bisa ia simpan dan sisanya adalah kertas kacang goreng yang merusak moral manusia. Beberapa catatan itu memuat tentang transaksi dagang, perkebunan kopi, dan catatan akuntansi dari daerah Lebak. Jika aku tidak salah pun juga memuat surat-surat yang menurutnya bukan urusan ia untuk melihatnya. Maka oleh karenya, ia membagi urusan untuk menulis buku ini dengan Stern yang ku anggap dari golongan Liberalis untuk mensintesis paket itu.
Stern, dengan gaya tulisan nya yang tajam dan sebenarnya membenci untuk terlalu menyiksa tokohnya, telah membawa ku merasakan bagaimana betapa pedihnya Max Havelaar harus melihat orang-orang yang seharunya ia lindungi dibawah sumpah jabatannya harus tersiksa dengan ketamakan bupati tua itu dalam memenuhi gengsi jabatannya. Anak harus kehilangan ayah, ibu harus kehilangan suami, kekasih harus kehilangan Adindanya, sawah yang kehilangan sahabat kerbaunya. Semua penderitaan ini harus ditanggung oleh ribuan orang yang berada dibawah asisten residen yang bermoral itu, yang rela menahan lapar dan bercerita saat makan malam sebagai pengganti lauk makanan yang tak dapat ia sediakan sebagai akibat kejujurannya.
Max dengan segala daya yang diperoleh mencoba membela dan menegakkan keadilan atas orang Jawa itu dengan resiko bahkan kematian didepannya. Namun aku yakin, kehadiran Tine yang telah dianggap nya sebagai dirinya yang lain mengokohkan tekatnya itu dalam menghadapi resiko kebenaran yang hendak ia kibarkan. Siapa yang sanggup melihat wanita hamil dan anak perempuan harus bekerja dalam keadaan demikian? Dimana mereka dipaksa oleh keadaan untuk mengisi perut dengan pasir agar hilang lapar sehingga pekerjaan itu selesai.
Laki-laki yang harus lari tunggang-langgang karena dikejar pajak yang tak dapat mereka bayar karena kerbau-kerbau mereka telah dicuri sehingga padi pun tak dapat bersemai di sawah mereka. Laki-laki ini mati satu persatu karena memperjuangkan kebebasan mereka dengan melancarkan pemberontakan dan para residen akan menulis didalam laporan tahunan nya “kedamaian Tetap Damai.” KEBOHONGAN.
Dimana tanah nan subur itu, para pembajak sawah dan keluarganya harus mati bergelimpangan sebagai akibat yang kata pemerintah itu konsekuensi dari pencekik, kerakusan, kebisingan penduduk sana DAN TIDAK PERNAH KARENA SALAH PEMERINTAH.
Banyak sekali hal-hal klasik bagaimana hubungan antara penguasa dan rakyat dijelaskan oleh Multatuli dalam karyanya. Namun apa boleh buat, kursi pejabat di duduki oleh orang yang peduli semata pada perut dan gaya mereka sendiri sementara rakyat yang jutaan jumlahnya menderita atas tanah leluhurnya diperlakukan sebagai prioritas kesekian.
Jika Lebak di abad ke-19 adalah panggung ketamakan bupati dan kolonial, maka hari ini panggung itu telah berganti rupa menjadi pemalak berdasi yang memeras rakyatnya dengan alasan “pembangunan nasional”. Proyek pemerintah yang hanya bersiftat populis tanpa urgensi yang nyata menyedot perhatian anggaran dari program-program srategis pembangunan negara. Rakyat hanya bisa menyaksikan ekonomi yang bergoncang dan pejabata wara-wiri berplesir ke luar negara, setelahnya kembali ke podium besar sembari berteriak “KITA ADALAH BANGSA YANG BESAR”. Polanya tetap sama: penguasa menari di atas penderitaan rakyat, sementara laporan tahunan tetap dibungkus dengan narasi “kedamaian dan pembangunan”.
Apa yang bisa diharap dari orang yang kemarin tidak dikenal bahkan oleh tetangganya menduduki kursi dan bertanggung jawab atas 270 juta rakyat negeri ini!
Aku mengakhiri tulisan ku dengan meminjam gaya Multatuli.
Tulisan ku yang tidak berstruktur bisa aku latih sehingga aku menyaingi fantasinya Don Quixote. Semakin besar suara kalian mengatakan bahwa “kau anak kecil, tahu apa soal perintah-memerintah? kau lanjutkan saja pendidikan mu agar otak mu lebih berisi. Kau hanya berisik, apa yang sudah kau lakukan untuk mengatasi itu?” semakin senang dan bahagia aku. Berarti sudah ku capai tujuan ku untuk mengusik mereka dari kursi empuk mereka dan membuang energi mereka untuk menjelekkan penulis kecil ini.
Tapi aku tanyakan pada dikau, APAKAH KAU BISA MEMBANGKITKAN 1000 ORANG YANG TELAH MATI AKIBAT KERAKUSAN KAU? Apakah itu kemauan mu, para pemangku kepentingan dan terutama kau aparat bersenjata, untuk melihat rakyat ku untuk terus bersusah diatas tanah leluhur kami? []
Ditulis oleh : Riziq Elfathir, Mahasiswa Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry
Editor : Nurul Azkia
