Dari Layar ke Kesadaran: Kisah Pengungsi yang Menggema di Ruang Teater FISIP UIN Ar-Raniry
Sumberpost.com | Banda Aceh – Ruang Teater Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Ar-Raniry mungkin sudah kembali sepi. Namun, gema dari pemutaran film dokumenter Sa Pu Nama Pengungsi yang berlangsung Rabu lalu masih menyisakan perenungan mendalam bagi puluhan mahasiswa dan akademisi yang memadati ruangan sejak pagi itu. Film tersebut bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah jendela
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Refugee Research Center (RRC) UIN Ar-Raniry ini mengangkat tema “Born in Conflict, Raised Without Certainty”. Tema tersebut menggambarkan nasib ribuan individu yang lahir di tengah konflik dan tumbuh dalam ketidakpastian masa depan.
Ketika lampu ruangan mulai diredupkan dan film diputar, suasana berubah hening. Layar menampilkan potret kehidupan para pengungsi yang harus menjalani hari-hari mereka dengan berbagai keterbatasan. Akses pendidikan yang terbatas, layanan kesehatan yang tidak memadai, hingga ketidakjelasan status hukum menjadi bagian dari kenyataan yang mereka hadapi.
Melalui rangkaian visual yang kuat dan narasi yang menyentuh, Sa Pu Nama Pengungsi menghadirkan kisah-kisah yang selama ini tersembunyi di balik angka dan laporan statistik. Film tersebut tidak hanya menyajikan fakta, tetapi juga menghadirkan sisi kemanusiaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bagi sebagian peserta, pengalaman menonton film ini meninggalkan kesan mendalam. Salah seorang peserta mengaku memperoleh perspektif baru mengenai kondisi para pengungsi di Indonesia.
“Setelah menonton film ini, saya semakin sadar bahwa masih ada saudara-saudara kita di Papua yang harus hidup sebagai pengungsi akibat konflik yang belum sepenuhnya selesai. Selama ini isu tersebut terasa jauh, tetapi film ini membuat saya melihatnya secara lebih nyata,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bagaimana sebuah karya dokumenter mampu menjembatani jarak antara pengalaman pengungsi dan masyarakat luas. Apa yang sebelumnya terasa jauh dan asing menjadi lebih dekat dan mudah dipahami.
Usai pemutaran film, kegiatan berlanjut dengan sesi diskusi yang menghadirkan Dr. Muhammad Syubib, MH., M.LegSt sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia mengajak peserta untuk melihat isu pengungsi secara lebih komprehensif.
Menurutnya, persoalan pengungsi tidak hanya berkaitan dengan nilai-nilai kemanusiaan, tetapi juga menyentuh aspek hukum, politik, dan tanggung jawab negara dalam memberikan perlindungan kepada kelompok rentan.
“Isu pengungsi harus dilihat secara komprehensif, tidak hanya dari sisi belas kasihan, tetapi juga dari tanggung jawab negara dan masyarakat internasional dalam memberikan perlindungan yang layak,” ujarnya.
Diskusi berlangsung dinamis. Berbagai pertanyaan muncul dari peserta, mulai dari kebijakan penanganan pengungsi di Indonesia hingga tantangan integrasi sosial yang kerap dihadapi para pengungsi ketika hidup berdampingan dengan masyarakat setempat.
Bagi RRC UIN Ar-Raniry, kegiatan ini lebih dari sekadar agenda pemutaran film. Acara tersebut menjadi ruang refleksi yang mengajak peserta untuk memahami bahwa isu pengungsi bukanlah persoalan yang jauh dari kehidupan masyarakat. Di balik setiap konflik, terdapat manusia yang berjuang mempertahankan harapan di tengah ketidakpastian.
Melalui screening dan diskusi ini, RRC UIN Ar-Raniry kembali menegaskan komitmennya dalam mengembangkan kajian, edukasi, dan advokasi terkait isu pengungsi. Di tengah meningkatnya tantangan kemanusiaan global, upaya membangun kesadaran publik menjadi langkah penting agar suara mereka yang terpinggirkan tetap didengar.
Ketika layar akhirnya padam dan diskusi berakhir, pesan yang ditinggalkan film tersebut masih terasa kuat: menjadi pengungsi bukanlah pilihan, tetapi kenyataan yang harus dihadapi oleh banyak orang. Dan memahami kisah mereka adalah langkah awal untuk menumbuhkan kepedulian yang lebih besar. [Rel]
