Manusia: Orang Tua, Anak, Keluarga

Sumberpost.com | Banda Aceh – Manusia itu sangat unik. Namun disini saya ingin memberikan pendapat mengenai orang tua, anak, dan keluarga berdasarkan pengalaman dan pemahaman saya yang terbatas.

Keluarga merupakan unit sosial dalam masyarakat yang dimana terdapat kepala keluarga dan beberapa anggota lainya. Keluarga adalah rumah, tempat untuk pulang, dan tempat paling aman untuk bercerita. Namun tidak semua orang dapat mendefinisikan hal yang sama. Setiap keluarga memiliki aturan dan cerita yang berbeda-beda.

Menurut saya keluarga itu adalah kelompok kecil yang dimana adanya kerja sama tim untuk mencapai tujuan bersama. Dalam keluarga terdapat peran yang ditentukan. Ayah sebagai kepala keluarga, ibu sebagai tangan kanan, dan anak adalah anggota.

Keluarga yang harmonis biasanya dilihat dari interaksi orang tua dan anak. Jika orang tua dan anak tidak dekat bahkan jarang berinteraksi anak akan kesulitan dalam perkembangan dari segi perilaku dan emosional. Anak tidak dapat belajar jika tidak ada contoh model yang dilihat. Hal tersebut membuat kita sadar bahwa peran orang tua sangat penting dalam pembentukan perilaku dan karakter sang anak.

Menurut Bandura (1977) pada teori Social Learning Theory menjelaskan bahwa anak belajar perilaku, termasuk cara merespon konflik dan amarah, melalui observasi dan modelling dari figure yang dilihat disekitarnya terutama orang tua. Jika anak tumbuh di lingkungan yang toxic seperti sering dibentak, dipukul maka anak dapat menormalisasikan hal tersebut namun bisa berdampak saat ia tumbuh dewasa yang dimana ia akan melakukan hal yang sama baik dengan teman maupun pasangan dimasa depan.

Namun apakah kita bisa menyalahkan mereka? Saya pribadi tidak bisa menyalahkan siapapun. Orang tua adalah manusia begitupun dengan anak.

Satu hal yang menjadi prinsip utama saya memandang manusia. Manusia tidak ada yang baik atau jahat. Kita tidak bisa memandang manusia dari satu sisi. Apakah manusia itu bisa selalu baik? Apakah manusia itu bisa selalu jahat? Tetapi tindakan yang tidak bisa saya toleransikan yaitu pemerkosaan.

Namun konteks yang ingin saya bahas adalah orang tua, anak dan keluarga. Anak ingin memiliki orang tua yang supportif, penyayang, lembut, peka, peduli, tanggung jawab dan bayangan lain yang sempurna. Tapi tidak semua orang tua mampu memberikan apa yang kita ekspetasikan. Apakah kita pernah bertanya kehidupan mereka sebelumnya? Pernahkah kita tau apa saja yang mereka jalani? Tidak ada yang tau.

Setiap manusia memiliki luka dan penderitaan yang dapat dirasakan oleh diri sendiri. Setiap manusia memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Dari pengalaman tersebut manusia berangkat hingga menjadikan karakter yang berbeda-beda dan pengalaman tersebut menjadikan pembelajaran dalam hidup.

Hubungan orang tua dan anak itu sangat kompleks. Namun yang ingin saya sampaikan bahwa kesadaran peran orang tua terhadap tanggung jawab anak itu sangat penting. Anak tidak bisa ditinggal, anak tidak hanya diberi materi, anak juga membutuhkan kedekatan secara emosional.

Interaksi orang tua dan anak sangat penting membentuk perilaku dan kedekatan emosional. Ketika kedekatan emosional mereka tinggi maka terbentuklah rasa percaya, rasa peduli, dan kasih sayang mendalam yang berkemungkinan mereka akan jarang berselisih.

Manusia itu makhluk sosial dan berkelompok. Keluarga adalah kelompok kecil. Setiap keluarga punya aturan. Setiap keluarga punya masalah.

Lalu bagaimana cara keluar dari permasalahan tersebut? komunikasi. Permasalahan yang sering terjadi dalam keluarga biasanya kesalahpahaman. Jika hal tersebut terjadi harus ada yang menurunkan ego. Saya selalu berpikir bahwa manusia itu dapat berubah seiring berjalan waktu.

Jadi jika permasalahan tersebut bisa diselesaikan sekarang maka jangan menunggu terlalu lama, karena waktu tidak menunggu kita siap. []

Ditulis oleh : Muthia Ainal Rizki, Mahasiswi Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Editor : Nurul Azkia