Guantanamo: Ketika Kode Etik Psikologi Kehilangan Taringnya
Sumberpost.com | Banda Aceh – Apa yang kamu rasakan ketika mengetahui ada sebuah profesi yang seharusnya lahir untuk menyembuhkan trauma, justru menjelma menjadi arsitek yang merancang kehancuran mental manusia? Miris bukan, seperti itulah perasaan orang-orang ketika mendengar sebuah tragedi kelam yang membayangi Teluk Guantanamo, sebuah ruang gelap nan pengap dimana batas antara dedikasi profesional dan kekejaman yang dilegalkan menjadi samar.
Ketika itu, ada seorang psikolog militer bernama John Leso bergabung ke dalam Behavioral Science Consultation Team (BSCT), sebuah kamp penahanan militer yang disewa oleh Tentara Angkatan Laut Amerika Serikat, dimulai dari Juni 2002 hingga Januari 2003, saat itulah sebuah paradoks mengerikan dimulai. Bukannya membawa lentera pemulihan pagi para tahanan, keahlian sains yang dimilikinya justru direduksi menjadi senjata taktis untuk meruntuhkan kewarasan para tahanan yang dicap tidak kooperatif, melalui eksperimen isolasi ekstrem dan manipulasi psikologis yang merenggut hak paling mendasar sebagai manusia.
Kekejaman teori tersebut, secara nyata dan mengerikan terjadi didalam ruang interogasi Mohammed al-Qahtani. Selama hampir dua bulan, al-Qahtani dipaksa melewati neraka dunia: diinterogasi tanpa henti selama 20 jam sehari dalam ruang isolasi yang beku dan kedap suara.
Tubuhnya dipaksa menerima asupan cairan berlebih secara paksa hingga membengkak hebat, matanya terus-menerus ditutup, sementara integritas batinnya dihancurkan berkali-kali melalui pelecehan seksual dan penghinaan terhadap keyakinan agamanya.
Lebih keji lagi, ia diteror oleh anjing militer, dituntun dengan tali layaknya binatang, dan dipaksa meniru trik anjing di lantai yang dingin. Di sinilah letak ironi terbesar yang menguji nurani kita: semua siksaan yang merendahkan martabat ini tidak lahir dari spontanitas amarah sipir, melainkan hasil rancangan metodis yang presisi dari seorang pakar jiwa.
Poin penting dari tragedi ini bukan sekadar pada kejamnya metode interogasi yang digunakan, melainkan pada esensi peran seorang psikolog di dalamnya. Profesi psikologi pada hakikatnya berdiri di atas pilar etis yang sangat kokoh, yaitu komitmen mutlak untuk menghindari tindakan apa pun yang dapat merugikan atau mencelakai individu.
Oleh karena itu, ketika seorang psikolog justru melangkah ke wilayah abu-abu dan sengaja merancang penderitaan mendalam bagi manusia, disitulah muncul sebuah gugatan moral yang sangat serius mengenai tanggung jawab profesional yang melekat pada dirinya. Kontroversi ini pun membengkak menjadi skandal global saat lembaga payung profesi sekelas American Psychological Association (APA) memilih untuk menutup pengaduan etik terhadap John Leso tanpa menjatuhkan sanksi formal apa pun.
Keputusan ini langsung memicu badai kritik dan penolakan keras dari banyak pihak, karena dianggap sangat bertolak belakang dengan janji organisasi yang mengutuk keras segala bentuk penyiksaan dan perlakuan dehumanisasi di dunia.
Publik dan komunitas akademis pun dibuat bertanya-tanya, bagaimana mungkin sebuah pelanggaran berat yang sudah terang-terangan didukung oleh berbagai laporan resmi dari tim investigasi justru berakhir senyap tanpa proses etis yang tuntas.
Runtuhnya kasus John Leso tanpa sanksi formal menjadi bukti nyata bahwa penegakan kode etik profesi tidak pernah sesederhana membalikkan telapak tangan. Ketika nilai-nilai moral harus berhadapan langsung dengan benteng kepentingan keamanan negara, tekanan internal institusi militer, dan pusaran pertimbangan politik, di situlah kompas etika profesi benar-benar diuji sampai ke titik nadirnya.
Pada akhirnya, apa yang dibedah oleh Roy J. Eidelson pada tahun 2015 dalam kajian kritisnya di Journal of Social and Political Psychology bukan sekadar sebuah catatan kelam dari masa lalu yang boleh diarsipkan lalu dilupakan. Kasus John Leso adalah alarm keras yang terus berdering hingga hari ini, sebuah pengingat bahwa ilmu pengetahuan yang dilepaskan dari kompas moral adalah hal yang paling berbahaya di dunia.
Penegakan kode etik terbukti tidak pernah berjalan di ruang hampa, ia selalu diuji oleh tarikan kepentingan politik, tekanan institusi, dan narasi keamanan nasional. Kepercayaan masyarakat global terhadap integritas dunia psikologi hanya bisa diselamatkan jika komunitas akademis berani bersuara secara transparan, menolak lupa atas penyalahgunaan kekuasaan ini, dan selamanya menempatkan nilai luhur kemanusiaan sebagai hukum tertinggi yang tidak akan pernah bisa dinegosiasikan oleh kekuasaan manapun. []
Ditulis oleh : Cut Thahira Yuswardi, Mahasiswi Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Univeristas Islam Negeri Ar-Raniry
Editor : Nurul Azkia
