Perkembangan Teknologi: Menambah Atau Mengurangi Nilai Budaya (Adat Mugerje) Terhadap Generasi Muda?
Sumberpost.com | Banda Aceh – Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Internet, media sosial, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan berbagai aplikasi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, belajar, bekerja, bahkan melestarikan budaya.
Di satu sisi, teknologi memberikan kemudahan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Namun, di sisi lain, kemajuan tersebut juga menghadirkan tantangan serius terhadap keberlangsungan nilai-nilai budaya lokal, termasuk adat Mugerje, yang merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Gayo di Aceh.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah perkembangan teknologi menambah atau justru mengurangi nilai budaya adat Mugerje terhadap generasi muda?
Menurut saya, teknologi bukanlah penyebab utama hilangnya budaya. Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan apakah budaya akan bertahan atau menghilang adalah bagaimana masyarakat, khususnya generasi muda, memanfaatkannya.
Adat Mugerje bukan sekadar sebuah pertunjukan seni atau hiburan dalam acara adat. Lebih dari itu, Mugerje merupakan media pendidikan karakter yang mengajarkan nilai sopan santun, penghormatan kepada orang tua, kebersamaan, gotong royong, tanggung jawab, hingga penghargaan terhadap identitas budaya. Melalui syair-syair dan tata cara pelaksanaannya, masyarakat diajarkan untuk menjaga hubungan harmonis antarindividu serta menghormati norma yang telah diwariskan oleh leluhur.
Sayangnya, perkembangan teknologi telah mengubah pola hidup generasi muda. Waktu yang dahulu digunakan untuk mengikuti kegiatan adat kini lebih banyak dihabiskan di depan layar telepon pintar. Anak-anak muda lebih mengenal tren media sosial, musik luar negeri, dan budaya populer global dibandingkan budaya daerahnya sendiri. Banyak di antara mereka yang bahkan tidak mengetahui makna filosofis adat Mugerje, apalagi terlibat langsung dalam pelaksanaannya.
Fenomena tersebut tentu menjadi perhatian bersama. Globalisasi yang didukung oleh teknologi digital membuat batas-batas budaya semakin kabur. Arus informasi yang sangat cepat memungkinkan budaya asing masuk tanpa adanya penyaringan yang memadai. Akibatnya, muncul kecenderungan sebagian generasi muda menganggap budaya lokal sebagai sesuatu yang kuno, tidak menarik, bahkan tidak relevan dengan kehidupan modern. Jika kondisi ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin adat Mugerje hanya akan menjadi cerita dalam buku sejarah tanpa lagi dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat.
Namun demikian, menyalahkan teknologi sepenuhnya juga bukan langkah yang tepat. Justru teknologi dapat menjadi sarana paling efektif untuk memperkenalkan kembali budaya kepada generasi muda. Saat ini hampir semua anak muda memiliki akses terhadap media sosial seperti YouTube, Instagram, TikTok, maupun Facebook.
Platform-platform tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendokumentasikan pelaksanaan adat Mugerje, menjelaskan makna setiap prosesi, memperkenalkan syair-syair adat, hingga menampilkan tokoh-tokoh adat yang masih menjaga tradisi tersebut. Kita telah melihat bagaimana banyak budaya daerah di Indonesia kembali dikenal luas berkat media digital. Tarian tradisional, bahasa daerah, musik etnik, hingga kuliner lokal memperoleh perhatian masyarakat nasional bahkan internasional karena dipromosikan melalui internet. Hal yang sama juga dapat dilakukan terhadap adat Mugerje.
Dengan pengemasan yang kreatif dan menarik, budaya ini dapat menjadi kebanggaan generasi muda sekaligus menjadi identitas daerah yang mampu dikenal dunia. Selain itu, lembaga pendidikan juga memiliki peran yang sangat penting. Sekolah dan perguruan tinggi dapat memasukkan materi mengenai budaya lokal dalam proses pembelajaran. Tidak cukup hanya mengenalkan teori, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam praktik adat, dokumentasi budaya, maupun pembuatan konten digital bertema pelestarian budaya. Dengan demikian, teknologi tidak menjadi ancaman, melainkan menjadi media pembelajaran yang inovatif.
Peran keluarga pun tidak kalah penting. Orang tua merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya. Jika sejak kecil anak diperkenalkan dengan adat istiadat daerahnya, diajak menghadiri acara adat, memahami makna Mugerje, dan diajarkan pentingnya menghormati budaya leluhur, maka mereka akan memiliki rasa bangga terhadap identitas budayanya. Teknologi kemudian hanya menjadi pelengkap untuk memperluas wawasan, bukan menggantikan nilai-nilai yang telah ditanamkan keluarga.
Pemerintah daerah bersama lembaga adat juga perlu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dokumentasi digital, arsip audiovisual, festival budaya yang dipublikasikan secara daring, hingga pelatihan pembuatan konten budaya kepada generasi muda merupakan langkah nyata yang dapat dilakukan. Pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui seremoni tahunan, tetapi harus hadir di ruang digital yang setiap hari diakses oleh masyarakat.
Pada akhirnya, perkembangan teknologi memang membawa dua sisi yang berbeda. Jika digunakan tanpa kontrol, teknologi dapat mengurangi minat generasi muda terhadap adat Mugerje karena mereka lebih tertarik pada budaya populer yang bersifat instan. Namun, apabila dimanfaatkan secara bijaksana, teknologi justru mampu menjadi jembatan yang menghubungkan warisan budaya dengan generasi masa kini.
Pilihan itu berada di tangan kita semua. Generasi muda harus menyadari bahwa kemajuan teknologi tidak berarti meninggalkan identitas budaya. Menjadi modern bukan berarti melupakan akar tradisi. Justru bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu menguasai teknologi tanpa kehilangan jati dirinya. Adat Mugerje merupakan kekayaan budaya yang tidak ternilai dan harus diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari identitas masyarakat Aceh, khususnya Gayo.
Sudah saatnya kita berhenti mempertentangkan antara teknologi dan budaya. Yang perlu dilakukan adalah menjadikan teknologi sebagai sahabat budaya, bukan sebagai lawannya. Dengan kolaborasi antara keluarga, sekolah, pemerintah, tokoh adat, dan generasi muda, adat Mugerje tidak hanya akan tetap lestari, tetapi juga dapat dikenal lebih luas hingga ke tingkat nasional maupun internasional. Sebab, budaya yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman adalah budaya yang akan tetap hidup sepanjang masa. []
Ditulis oleh : Karolina, Mahasiswi Program Studi Sejarah Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Ar-Raniry
Editor : Nurul Azkia
